Archive for 2019

Refleksi Ramadan #19

[Sumber: hellosehat.com]
Apa saja yang kita lakukan di dunia ini tidak bisa di-judge begitu saja tanpa adanya analisis lanjut. Semisal solat, tidak mesti itu baik, kadang-kadang juga menjadi sesuatu yang buruk. Tidak percaya? Anda solat sunah, dan orang tua anda memanggil, lebih baik dan lebih utama anda menghampiri orang tua dari pada tidak menjawab pangilan orang tua karena solat sunah. Bahkan solat itu ada yang haram? Emm, masak iya? Iya dong, solat sunah setelah asar, kan, hehe

Selain sesuatu yang emang diperintah dan hal-hal yang dilarang, semua yang di dunia ini berhukum awal boleh. Dan darinya selalu terdapat 5 hukum yang bersandar atasnya. Tidak bisa suatu hal itu hanya bersandar pada satu hukum dengan absolut. Segala bisa berubah tergantung situasi dan kondisi. Dari sana muncullah fiqh.

Nah, fiqh ini kan sebuah rule atau aturan yang harusnya memudahkan kita dalam hidup. Namanya aturan ini untuk kebaikan, kalau aturan itu menyusahkan sebuah permainan, berarti peraturan sudah menikam permainan itu sendiri. Dan sudutnya bisa beragam, gak kaku hanya hitam putih. Kadang-kadang cuma peringatan, kadang-kadang kartu kuning.

Emang monokrom, cuma hitam putih, tidak ada warna yang lain. Udah cukup Tulus saja yang monokrom. krik

***

Aku langsung ingin pakai contoh perkara menikah saja dalam membincangkan fleksibelnya fiqh dalam mengatur kita. Lawong aku juga pengen menikah, jadi bisa relate, Hehe

Dengan sangat mudah kita bisa temui orang-orang seperti tanpa filter diluk-diluk tekok kapan menikah, kayak seolah-olah menikah iki selalu baik. Basa-basi keluarga selalu berputar-putar pada pertanyaan template soal menikah yang tidak kritis transformatif, apalagi sampai ke masif dan terstruktur kayak dem uuuoooooo, eh~~ . Wkwkwkw

Kalau orang berani dan mau jeli, kan tidak semua hal dalam menikah ini selalu baik. Dibilangnya menikah ini menyempurnakan iman lah, menggenapkan lah, sunnah lah, ealaahhhh. Kan perlu dilirik dulu situasi dan kondisi.

Kalau ada orang yang terkena hukum haram menikah, terus kamu mau gitu seenaknya tanya dan memotivasi ke dia “kapan menikah?”. Menikah endoke, kalau si dia yang terkena hukum haram menikah beneran menikah, kamu mau tanggung jawab? Karena sudah jadi oknum mendorong orang melakukan perbuatan dosa. Heh?

Aku mau menahan saja terkait kategorisasi dan kondisi ketika orang-orang itu hukumnya seterti apa dalam kaitannya dengan menikah, lawong aku ra layak. Tapi terkait eksistensi kategori itu emang ada, dan bisa dicari pada beliau yang memang kompeten untuk membicarakan soal fiqh. Tentu pada beliau-beliau yang menguasai fiqh, usul fiqh sampai kaidah fiqh. Bukan yang ulama’ web-web-an.
Bahwa menikah itu ada dari wajib, sunah, mubah, mekruh, sampai haram. Semua ada tinggal dicari.

Dorongan-dorongan segera berkeluarga ini juga kadang menjemukan. Tawaran selalu datang untuk pemuda agar segera membuat relasi suami istri dengan seseorang. Katanya kalau menikah itu apa-apa bisa jadi ibadah. Mencium istri ibadah, menafkahi ibadah, mencucikan baju suami ibadah, bahkan meniduri itu ibadah. La aku mulai resah ini, emang aku muncul dari batu? Kedua orang tua ku kan juga menikah. La emang kalau aku cium tangan kedua orang tua ku ndak ibadah. Apa ciumanku jadi ibadah dimulai saat nikah? Harusnya mereka yang ngajak menikah itu fair, bilangnya gini "yang siap menikah, yang wajib, ya menikah. kalau belum wajib, masih sunah apalagi mubah ya santai aja, lawong perkara ciuman dapat pahala itu ndak hanya dimonopoli orang yang sudah menikah, cium orang tuamu juga bernilai ibadah" enak to.

Seolah-olah menikah itu ndak sirkel, ndak siklus. Seolah-olah kita cium tangan baru ibadah itu dimulai pas menikah. Padahal ortu kita juga menikah dan ibadah kita ya hormat pada beliau berdua. Emang bener-bener lambe bakol.

Nah kehidupan kita yang hukumnya bisa berubah-ubah sesuai kondisi ini juga sebenarnya belum final. Ada unsur niat di sana, semua yang kita lakukan tergantung pada apa yang kita niatkan.

Sesuatu yang mulia macam menikah itu, kalau niatnya sudah kuorat-karet. Secara isi bisa jadi amburadul. Jadi kita pun ndak bisa mengatakan bahwa perokok itu pasti negatif. Kalau niat merokok ini membantu meditasi, merenung dan mengingat Tuhan, masak itu tetap negatif. Negatif mana dengan membela agama tapi niate ingin kudeta. eh

Tapi, dari serangkaian perihal fiqh ini, kita sebagai umat islam juga dibekali akhlak. Jadi selain hukum yang selalu berubah, niat yang menjadi semangat dan ukuran, akhlak adalah unsur yang penting.

Benar saudaramu itu sudah wajib menikah, tapi cara memotivasimu itu brutal dan mengusik hatinya, alias akhlakmu itu ndak ditata, ya apa jadinya ibadah yang udah kadong baik ritual dan niatnya.

Semoga dalam puasa ini kita bisa fokus dalam mengasah fiqh, niat dan akhlak. Salam :)

Jumat, 24 Mei 2019
Posted by bakhruthohir.blogspot.co.id
Tag :

Refleksi Ramadan #18

[Sumber: merdeka.com]
Kalau hari ini, refleksi yang bisa dilakukan ya soal rusuh-rusuh di jakarta itu. La piye? Sekarang siapa yang tidak terdampak dari huru-hara itu. Banyak orang keluar memberikan komentar dan mengidentifikasi diri untuk masuk ke peran mendukung atau menolak. nampak menjadi emas ketika masih menemukan orang yang menahan diri atas aksi anarkis dini hari malam nuzulul quran itu. Entah dia itu siapa, kok ya berlindungnya di masjid.

Mbok kalau malam nuzulul quran di masjid kui ngaji karo mujahadah, ogak malah teriak-teriak dan main bom. Gitu pas ada anak main pecut-pecutan sarung saat teraweh dimarahin, la dapurane dewe ceto-ceto gak tadarus.  

Rasane wes emang kita gak bisa bener-bener percaya pada simbol identitas.

Gimana kalau kita bersepakat saja, ndak ada itu pakaian islami, musik islami, sampai makanan islami. Kalau udah kek gini, narasi mlintir makin mudah saja. Bermodal sorban lalu melakukan aksi anarkis, kok jek uwenake bilang rezim represi islam karena aksinya ditolak. La islam seperti saya yang masih mementingkan buka gratis dari pada demo-demo yang jelas bikin puasa syariat tidak kuat ini dianggap apa?

Lek sek diterus-teruskan lebel islami itu disandarkan pada sesuatu yang kulit, besok-besok kita juga akan liat orang yang buka puasa pakai kurma lebih islami dari yang pakai nasi padang. Yang denger mahir zain lebih islami dari yang denger coldplay. Yang mukulin orang pakek didahului takbir lebih islami dari tinju yang fairplay, gitu? Terus pas semua percaya ada sesuatu yang lebih islami dari yang lain, baru lah akal-akalan lebih suci dimainkan. Terus pas argumennya kalah main aksi playing victim lah anda. Gocik tenan.

Disaat seperti ini, hadirnya elit berpengaruh untuk tampil dengan sikap kesatria sangat diharapkan.

Kesatria tidak sekedar berani untuk gontok-gontokan, menang-menangan, berbicara keras. kesatria tidak selalu diterjemahkan menjadi orang yang tidak punya takut seperti superhero. Keberanian yang lebih diutamakan adalah soal keberanian mengelola hati dan memenagkannya dari kungkungan ego, nafsu, sahwat kekuasaan dan amarah.

Kok ya dilalah, elit yang harusnya berperan dalam meredam segala kericuhan ini malah jadi oknum minyak gas ketika ada kayu-kayu terbakar. Malah nuding-nuding ini antek ini antek, antek endoke.  

Yo ancen sih, egois itu enak. Enak betul jadi anak kecil. Enak betul jadi tidak bijaksana. ENAK BANGET DINGERTIIN.

Yang ra enak itu ya pas mau berbagi, pas sadar bahwa kita iki bareng-bareng, dan gak iso semua orang menuruti egonya kita.

Nuruti ego itu gak ada ujungnya, menahan sahwat dan amarah, itu yang lebih diutamakan. Pakai nurani dalam tindakan. Kalau salah ya minta maaf, kalau kalah ya ngaku kalah, kalau menang ya bersyukur, kalau pinter yang ojok keminter. Kabeh enek cocokane, ogak terus lek kalah gak trimo tapi lek  menang diterimo.  

Kalau salah minta maaf itu bukan konsep yang diperuntukan hanya untuk anak-anak pas hari raya, bukan diperuntukan untuk latihan membentuk karakter pada anak-anak, bukan juga diperuntukan untuk masyarakat akar rumut yang sudah bertikai horizontal karena elit awale cakar-cakaran. Yang lebih penting minta maaf i mereka yang punya kuasa, mereka yang elit, mereka yang egonya lebih besar.

Kayak misal di rumah, yang harusnya minta maaf ki ya orang tua, lawong mereka yang punya kehendak dan egonya lebih besar, bukan malah anak-anak.

Mengajari anak minta maaf kalau ada salah itu hal yang berbeda. Kita sedang membicarakan egonya siapa yang lebih berpengaruh dan menguasai ego yang lain.

Jadi di momen seperti ini, adanya kestaria hadir dengan penuh kekuatan yang bisa mengontrol amarah dan sahwat sangat diharapkan. Pemimpin yang berpikir untuk indonesia ke depan lebih baik untuk semua kalangan.

Jadi gimana, masih ingin merasakan ramadan lagi atau kita wes bener-bener pengen meninggalkan ramadan demi menuruti nafsu dan amarah?

Yo semoga ae si, pas gontok-gontokan dan nuruti sahwat gak bertepatan pas lailatul qodar, lek pas, lak modar iku. Dosa amarah 1000 bulan.

Semoga keselamatan tetap pada teman-teman semua :)

Kamis, 23 Mei 2019
Posted by bakhruthohir.blogspot.co.id
Tag :

Refleksi Ramadan #17

[Sumber: artikelbuddhist.com]

Tidak ada refleksi yang lebih relevan pada malam 17 Ramadan selain merenungkan kembali Alquran, semua sudah tau kalau tanggal 17 Ramadan adalah Nuzulul Quran. Apakah kita yang selama ini percaya bahwa Alquran adalah petunjuk dalam menjalankan laku berislam hanya selesai di bacaan, kan tentu tidak. Kita pasti tetap punya keinginan untuk menuju ke lever percaya yang lebih kompleks dan tinggi.

Dalam beriman, kita tidak hanya percaya bahwa Alquran adalah kitap suci sumber berislam, tetapi terdapat makna yang lebih paripurna dan perlu usaha lebih untuk bisa mencapai level itu. Bahwa percaya tidak hanya berada di hati, tetapi juga harus dilisankan dan dilakukan.

Misalnya begini, kalau kita percaya bahwa Alquran dan segala isinya adalah semangat kita berislam, tentu kita akan merenunggi betul isi kandungan dari ayat-ayatnya. Tarik satu ayat yang paling sering kita lafalkan, yakni Alfatihah. Kalau kita percaya Alquran, kita tidak akan hanya selesai dengan mengunakan Alfatihah sebagai bacaan dalam salat. Tetapi mengikrarkannya, bahwa kita harus berlaku cinta kasih seperti apa yang diajarkan Alfatihah dan juga kita bertindak penuh dengan cinta kasih kepada seluruh mahluk yang ada di dunia.

Orang yang percaya pada Alfatihah tidak akan membiarkan dirinya terbiasa dengan perilaku menyakiti yang lain, memainkan egonya sendiri yang harus menang, dan membiarkan orang lain susah atas kehadiran kita. Tidak seperti itu bentuk cinta kasih.

Jadi iman/percaya ini ya mirip-mirip dengan cinta. Cinta itu ndak bisa cuma diucap, kalau ada yang ikrar cinta kucing, ya perilakunya pada kucing harus menceminkan kasih sayang pada kucing.

***

Gus Aan ansori pernah mensarikan beberapa esensi dari Alquran, beliau mengatakan Alquran itu setidaknya hanya berisi 5 prinsip universal; justice, human dignity, god-consciousness, love and compassion and equity. Itu yang aku pelajari dari Prof. Hashim Kamali

Sehingga, sebenarnya bisa juga kita teliti kehidupan kita selama ini, apakah kehidupan kita sudah mengamalkan prinsip-prinsip dalam Alquran.

Misalnya Alquran mengajarkan ketaqwaan. Apakah selama ini tindakan kita sudah menjalankan laku tanda ketaqwaan?

Taqwa tidak hanya tercermin dari rajin atau tidaknya hamba beribadah seperti solat, tetapi lebih juga pada bagaimana dia berinteraksi di luar itu. Kalau ada orang yang ngaku taqwa tapi korupsi, kan ya gak nyucuk. Saat dia dengan sadar melakukan aksi korupsi, Allah ditaruh di mana? Kan begitu. Masak kalau ngaku Allah ada di hati, saat korupsi gak terusik itu hatinya. Nurani pasti berontak ketika tubuh melakukan hal-hal yang melanggar aturan yang berlaku.

Soal taqwa juga bisa tercermin dari bagaimana kita memperlakukan manusia dan alam. Allah ini sayangnya pada seluruh manusia lo, tidak hanya yang berikrar bahwa Allah tuhannya. Semuanya dijatah rizki, semua dikasih keselamatan dan kesehatan. Allah tidak pandang bulu sayangnya. Semua diberikan Rahmannya.

La kalau ada orang yang ngaku taqwa tapi buang sampah sembarangan. La ini kan gak oke. Diminta kasih sayang pada semua yang ada di dunia ini, la kok malah memberikan beban pada alam sejagad. Kalau ada orang ngaku taqwa, ya kan lakune kudu bisa menjaga lingkungan.

***

Sungguh cocok Alquran diturunkan pas ketika ramadan, biar sekalian kita berbenah, kita mereformasi semangat dalam diri, kita merubah total apa yang sepatutnya kita tinggalkan, kita tingkatkan apa yang seharusnya selalu kita amalkan.

Semoga ibadah kita juga tidak hanya teringat-inget pada pahala, meskipun sah-sah saja. Tetapi lebih dari itu, tujuan kita harusnya adalah Allah itu sendiri, empunya Alquran, bukan malah teralih pada ciptaan-ciptaannya.

Sekali lagi, Alquran mengajari kita berlaku adil, mengajari kita memanusiakan manusia, mengajari kita kesetaraan, dan lain-lain. Kalau tindakan kita sudah qurani, tentu akan sangat menyenangkan hidup ini.

Membaca Alquran memang penting, tetapi mengamalkannya juga satu poin yang lebih diutamakan.

Kalau kehidupan kita gini-gini aja, jadi selama ini, kita membaca Alquran, atau baru mengejanya?

Rabu, 22 Mei 2019
Posted by bakhruthohir.blogspot.co.id
Tag :

Refleksi Ramadan #16



[Sumber: islami.co]
Dengan sebenar-benarnya, asline hari ini aku pengen mengulas soal kebiasaan tidur saat puasa. Karena beberapa hari lalu baru dengar konsep tidur yang katanya ibadah itu, dengan perspektif sangat baru untuk hidupku yang diungkapkan gus Muwafiq.

Semula aku hanya memahami kalau tidurnya orang puasa itu ibadah, wes itu tok. Terus berkembang, katanya tidur dianggap ibadah itu kalau malamnya habis untuk ibadah, ini fair si, jadi ada keterangan dan sebab kenapa kegiatan yang uwenak itu bisa bernilai ibadah. Terus yang terakhir, kata gus muwafiq, ini unik sekali, malah menegasi tidur “tidurnya aja ibadah, apalagi kalau kamu melek. Bisa dzikir, bisa kerja, bisa ini itu”. Jadi tetap yang lebih baik dilakukan saat siang puasa adalah beraktivitas. Tidak malah puasa kita membuat siang jadi malas, dan ya nyambung juga dengan konsep doa yang beberapa hari lalu sempat aku jadikan refleksi ramadan. logis ya. Menarik-menarik.

Tapi, selepas tak pikir-pikir hal itu, tak anggan-anggan konsep tidur untuk orang puasa ini, kok sekarang dunia maya menjadi gaduh karena penetapan hasil pilpres. Hehe. Memang duniawi itu menyenangkan.

Kalau butuh bukti tentang nikmat sesaat lebih menarik dan banyak menipu orang dari pada nikmat abadi di hari pembalasan, hari ini adalah contoh yang bagus. Banyak orang yang lebih tertarik membicarakan agenda lima tahunan ini dari pada menahan diri.

Ya ini berlaku bagi yang menang dan yang kalah si, bagiku sama saja. Wes tercium emosi dan sumbu pendek tertanam di kedua kubu. Pun dengan tulisan ini. Lawong jelas-jelas aku pengen bicara soal ibadah tidur, kenapa sampai paragraf ini wes ngomongin pilpres. Sial sial. Semoga kita gak rugi-rugi amat hidup di dunia ini.

Yang bikin aku tergerak malah kepikiran pilpres dan menyampaikan sedikit informasi soal tidur adalah gara-gara barusan baca meme, bunyinya “jadi ini alasan penetapan pilpres malam-malam. Kalau siang, puasa bisa batal, gak boleh boong”

Meme itu udah pasti meme ocehan si, ya pokok pengen rame-rame aja. La gimana gak rame-rame, dia wes pakek narasi agama, puasa, eh anggap boong bikin batal puasa. Itu yang buat meme makan permen rasa apa si, kok bisa lucu banget. Boong bikin batal puasa, hemm.

Kalau boong itu bikin amal puasa kosong, mungkin iya. Lawong ukuran syariat, ndak ada tuh aturan gak oleh boong. La kalau boong bikin batal puasa, situ bilang curang gak mau membuktikan alias asal tuduh, itu bikin amal puasa dilipat gandakan gitu? Emm,, legit ya

Jadi sudah lah, aku juga gak ingin berlarut-larut membicarakan itu. Mari menahan diri. Tulisan ini juga mau aku tahan gak banyak-banyak, biar cuma secuil ini saja.

Yuk sama-sama jaga ketertiban. Kalau Kata Gus Dur; Main bola itu ya permainan, tapi mainlah yang serius, serius mainnya, gak kayak sepak bola gajah. Tapi ingat, sepak bola itu ya ada aturannya, jadi kita gak bisa seenak udel sikat kaki orang, selamat bermain sepak bola, selamat berdemokrasi, selamat berpuasa, selamat menahan diri. 

Kalau kondisinya bising kayak gini, pengennya marah-marah aja, ancen bener, tidur adalah sebaik-baiknya ibadah saat ini. wes wes turu kono, ngerameni twiter. hasishhhh~~~
Salam :)

Selasa, 21 Mei 2019
Posted by bakhruthohir.blogspot.co.id
Tag :

Refleksi Ramadan #15

[Sumber: Dokumentasi Billy Setiadi]
Ternyata selain saat teraweh, kondisi jalanan yang paling sepi saat ramadan ini sebetulnya adalah saat buka puasa. Kemarin aku baru sadar ketika pas saat buka melintas di perempatan sibuk jogja, sepinya naudubilah, suwepi puuooolll. Ya meskipun ini sangat kuat dengan sumsi se, lawong baru sekali ini juga. Tapi kalau melihat gelagat hingar-bingar buka bareng di sosmed, kayaknya masuk akal juga. Karena yang lebih sering diupdate adalah buka barengnya, bukan salat bareng, teraweh bareng, tidur bareng, sampai sabar bareng.

La piye je, aku sudah menemukan ada teman yang merencanakan buka bersama sebelum ramadan itu datang. Ini kan jenis manusia yang amat sangat-sangat prepare. Puasa lo belom, sahur juga masih beberapa hari lagi, lakok wes mikir buka. Bukae bareng-bareng pula. Sunggu kita kaum komunal. Hahahaha

Yang kita butuhkan itu bukan semangat kumpul sebenarnya, tapi sedikit bumbu-bumbu individualis. Lawong berkumpul itu wes seakan jadi naluri, hehe, karena saat kita berkumpul dan berhimpun, ghibahlah ujungnya, dan itulah yang membahagiakan kita.

Dari serangkaian hingar-bingar ini, akhirnya aku sempat menjadi bagiannya. Tetapi bukan kumpulan untuk buka puasa bersama, tetapi untuk sahur bersama. Semakin spesial karena sahurnya bersama ibu Shinta Nuriyah. Ya ibu Shinta yang istrinya Gus Dur itu.

Ini sahur keduaku bersama dengan beliau, setelah yang pertama saat dulu menjadi maba tahun 2011.

***

Dulu sempat dijelaskan, kenapa bu Shinta ngajaknya sahur bersama, kok bukan buka bersama yang lebih usum itu ya. Tapi tak ingat-ingat jawabane masih belom ketemu.

Apa karena sahur sebagai simbol mulai ritual puasa ya. Kita memulai dengar berkumpul yang baik, niat puasa yang baik, memulai perjuangan melawan hawa nafsu bersama dengan baik-baik. Kan kalau buka itu simbol berakhirnya perjuangan menahan hawa nafsu, seremonial lah, merayakan juara lah kalau di liga sepak bola.

Jadi bu Shinta lebih mementingkan latihan sebelum bertanding dari pada perayaan juara. Mungkin gitu ya, tapi mbuh lah, iki sek gatuk-gatukanku dewe.

Tapi gatuk-gatukanku kok ya keren juga ya. Terlihat cukup masuk akal falsafahnya dan romantis. hehe

***

Semalam, Bu Shinta mendahului pembicaraan dengan ngabsen hadirin. Ditanya dari asal, suku, sampai agama. Eh dilalah kok sangat beragam sekali. Dari Aceh sampek Papua dilalah ada semua. Dari seluruh agama yang terhimpun di Indonesia juga ada, sampek bahai lo ada. Terus bu Shinta ngelanjutin dengan seruan “kita semua sodara ndak?”, “sodara, bu” sambung hadirin, “kalau gitu, boleh ndak kita cakar-cakaran? Sikut –sikutan?”. “Ndak, bu” jawab hadirin. “Kalau rebutan kursi, boleh ndak?” tanya bu Shinta lagi. “Ndak bu” sebagian hadirin menjawab. “Lo, kok ndak boleh, la kan kemarin sudah rebutan kursi”. Disambut kekeh hadirin. Bu Shinta melanjutkan “yang gak boleh itu kalau rebutan kursinya tidak sesuai konstitusi, jadi harus tetap baik-baik rebutannya”

Lalu, bu Shinta ngajaki kita untuk merefleksikan makna puasa, lakok dilalah yang kuenceng jawabe malah temen dari katolik, “menahan hawa nafsu, buk” pekiknya. Lalu bu Shinta melanjutkan dengan menjelaskan refleksi apa saja yang bisa kita lakukan saat puasa.

***

Sehingga memang kalau jawaban perkiraanku tadi benar, yang soal kenapa bu Shinta ngajaknya sahur bersama, ndak buka bersama, narasinya jadi gini “kita memulai latihan dengan merefleksi apa tujuan kita berpuasa dengan bersama-sama. Bahwa makna luhur dari puasa selain hanya menahan haus dan lapar adalah menahan hawa nafsu kita merajalela di hidup dan menguasai hidup. Kita juga dituntut untuk sabar, jujur, mudah memaafkan di saat puasa. Kita latihan bareng, puasa bareng, berjuang bareng dan semoga bisa sukses juga bareng”

Selamat berpuasa :)

Senin, 20 Mei 2019
Posted by bakhruthohir.blogspot.co.id
Tag :

Refleksi Ramadan #14


[Sumber: siddiqajuma.co.uk]

Semua orang yang berpuasa pada bulan ramadan ini kayake sudah tau kalau bulan ini banyak sekali keutamaan, baik dari pintu surga dibuka pintu neraka ditutup, amal yang dilipat gandakan, salat sunah dihargai wajib sampai tidur pun dinilai ibadah. Kalau meminjam istilah mas hairus salim HS, sungguh kita saat ini sedang didesak-desak ibadah.

La gimana gak didesak, selama ramadan ini, apapun yang kita lakukan bernilai ibadah. Bahkan kita istirahat saja bernilai ibadah yato. Ya meskipun bulan-bulan lain juga bisa si, setiap apa yang kita kerjakan bernilai ibadah. Kita saja yang sering lupa niat. Hehe. Tapi jelas ramadan membuat kegiatan kita lebih marem sebagai suatu bentuk ibadah.

Bentuk ibadah yang sering dilakukan selama bulan ramadan dan meningkat kuantitasnya dari bulan-bulan biasa antara lain tadarus alquran, solat sunah dan berdoa.

Tadarus biasae sehari dapat satu ain/mekrak, tetapi sekarang buanyak yang punya takrget sehari semalam harus rata-rata menghabiskan satu juz. Solat sunah ini sudah pasti nambah lah, lawong traweh iku rasane wes semi-semi wajib, la gimana gak wajib, kalau gak traweh rasane ada yang kurang, aku ngajak orang gak traweh aja susahnya minta ampin, eh kok ngajak ndak teraweh, ngajak traweh sendiri di rumah aja sulit. Dan doa, tentu buanyak sekali bertebaran di malam-malam ramadan, lawong ncen wes disebut malam ramadan ki mustajab.

Tapi, apakah ibadah kita itu benar-benar bergerak dari laku, ucapan dan hati ataukah masih stay di level ucapan tok?

Sejujurnya, semakin banyak ibadah yang aku lakukan, aku semakin sulit mengkontrol hal-hal peribadatan ini bisa datang bersamaan dari ketiga unsur tindakan, ucapan dan hati.

***

Gus Mus sempat menohokku sangat kuat saat ngaji pasanan tentang kualitas ibadah ini, kira-kira beliau mengucapkan begini “kalian semua baca solawat berapa kali selama sehari? Ya minimal harusnya itu setiap solat itu, kan di tahiyat kalian membaca solawat. Apa kalian merasa bahwa pas kalian baca solawat itu nabi Muhammad saw menyalami kalian balik? La gimana mau ingat, kalian ingat ini itu, pikiran kalian lari kesana kemari”

Hemmm,
Serius ini sungguh menohok, semakin banyak aku solat, kok belum berbanding lurus dengan meningkatnya jumlahku fokus dan merenunggi apa yang aku ucapkan.

Saat baca alfatihah, pikiran pergi ke mana? Pas rukuk, pikiran pergi ke mana? Pas i’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, bahkan pas nabi Muhamad menjawab salam , pikiran pergi ke mana?
Apa jangan-jangan ibadah kita selama ini masih selesai di level ucapan, karena saat kita berdoa dan beribadah, kita jarang melibatkan fikiran dan hati ikut dalam ritual. Serta, mengerakkan laku kita seperti apa yang diucapkan saat ibadah.

Padahal kehadiran hati dalam doa itu penting dan sangat penting adanya. La mau buat apa kalau doanya hanya selesai di level ucapan. Kalau doa kita itu mintak rejeki, terus doa kita hanya selesai di level ucapan, hati kita ndak hadir sebagai hatinya seorang hamba yang benar-benar membutuhkan, kok kayaknya ra ilok ya.

Kamu mintak sesuatu ke orang tua, terus asal bilang. Gak sungguh-sungguh dari hati. Ini baru di 2 level, belum masuk ke level tindakan.

Pada sufi berkata, tindakan kita setelah berdoa itu ya proses-proses doa dikabulkan.

Semisal kita berdoa untuk segera lulus kuliah, tapi setelah doa kita tidak meningkat semangat berusahanya, kok kayaknya itu tanda-tanda doa kita belum berfungsi. Doa kita berfungsi dan menuju dikabulkan ya ketika setelah berdoa, kita tidak lupa untuk berusaha.

Jadi dalam dimensi doa, 3 elemen ini harus benar-benar hadir.

***

Lalu soal tadarus Alquran, kita mau maknai seperti apa hal ini? Apakah orang yang selalu menenteng mushaf alquran di mana pun dan kapan pun seraya setiap waktu sengang melakukan tadarus, apakah seperti itu?

Bahkan penting juga ketika kita tau definisi Alquran dan mushaf Alquran, karena memang ini berbeda meskipun beberapa orang menganggapnya sama. Karena dianggap sama ini lah, kita jadi gagal fokus.

Ya memang benar, kalau membaca mushaf alquran itu juga dihitung dan dihargai secara kuantitas, baca banyak itu sudah pasti diganjar Tuhan dengan pahala. Tapi kalau kita mau naik level ke kualitas kan uwuwuwuwuw.

Semoga kapan-kapan kita mau naik level dari baca Alquran secara kuantitas ke level kualitas. Dan hal itu memerlukan persiapan yang tidak sedikit, semisal selesai mendefinisikan Alquran dan mushaf Alquran. Semoga saja, agar laku kita juga semakin asoy-asoy.

Dengan kita berusaha menghadirkan tiga dimensi ibadah, semoga kita menjadi manusia lebih baik. Dan terkhusus saudaraku umat Budha, selamat waisak, karena trisuci waisak juga datang tadi pagi sekitar waktu subuh. Mari berbahagia bersama-sama.

Selamat berpuasa, salam :)

Minggu, 19 Mei 2019
Posted by bakhruthohir.blogspot.co.id
Tag :

Refleksi Ramadan #13

[Sumber: hipwee.com]

Semalam, sekitar pukul 19.00 WIB aku melintas di jalan solo, salah satu jalan protokol di Yogyakarta, dan kok jalan itu macet ya? Padahal baru tanggal 13 ramadan, kan harusnya semangat ibadah salat isya dan tarawih masih cukup kuat.

Tahun ini, aku tidak selalu melintas jalan solo ketika pukul 19.00, tapi dulu di puasa 2018, hampir dari malam pertama ramadan sampek 24 ramadan, setiap malam aku melintas jalan solo, sehingga aku sempat merekam sepinya jalan solo ditinggal pengendara untuk salat isya dan tarawih sampai jalan solo kembali seperti biasa, ramai dan padat, tapi ya gak tanggal 13 ramadan juga.

Ritmenya sekitar tanggal 1-7 ramadan, jalan solo amat lengang, benar-benar kehilangan pengendara. Dari 8 sampai seterusnya semakin ramai dan ya akhirnya seperti hari-hari biasanya, ramai dan macet, ketika sudah masuk ke 10 terakhir ramadan.

Kalau tahun ini ritmenya tidak berbeda dengan tahun lalu, aneh juga melihat masih tanggal segini jalan solo sudah kembali normal.

***

Membuatku teringat pada khutbah jumat kemarin siang, tema besarnya memang masih soal ramadan, tapi ada satu kalimat menarik yang cukup mudah diingat dan menohok, yakni “jangan sampai kita meninggalkan ramadan sebelum ramadan meninggalkan kita”

Ramadan meninggalkan kita itu pasti, ketika selesai 30 hari, ramadan pasti diganti sawal. Tetapi kita tetap harus mengusahakan bahwa keistiqomahan memanfaatkan ramadan ini, tidak malah meninggalkan ramadan dan melakukan laku kehidupan yang sama saja dengan bulan-bulan lain.

Semisal, bulan si masih ramadan, tapi enggan melakukan evaluasi dan refleksi diri tentang apa yang sudah kita lakukan selama setahun ini.

Hal ini berhubungan erat dengan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita, tentu harus bisa kita maksimalkan setiap momen yang ada. Karena perihal waktu adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa terulang sampai bisa direvisi. Apa yang terjadi saat ini, ya itulah yang harus kita selesaikan sebaik mungkin.

Tidak usah menghayal akan datangnya mesin waktu seperti di ilusi film sains fiksi layaknya avengers endgame. Kalau mesin waktu itu ada, orang paling sariat pun akan merevisi surga dan neraka, karena kalau ada mesin waktu, semua orang pasti akan bermuara di surga, tidak ada yang masuk neraka. Lawong semua akan diselamatkan dari jurang kesesatan.

Pasti akan bermunculan editor waktu yang bolak balik dari masa depan ke masa lalu untuk edit kejadian agar semuanya baik di akhir masa. Itu tidak ada, itu hayalan. Jadi lebih baik, sedari sekarang kita tidak menyia-nyiakan waktu yang sudah Tuhan gariskan.

***

Akhirnya, ramainya jalan solo tidak sepenuhnya bisa menjadi indikator tentang semangat dan tidaknya warga jogja ibadah si.

Jadi ya kita bersama-sama berdoa saja, bahwa nikmat waktu dan kesempatan yang telah diberikan kepada kita bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Entah memaknai ramadan dengan pragmatis sebagai bulan panen amal, atau secara subtantif yang tafsirannya bisa sangat beragam itu.

Selamat berpuasa, salam :)

Sabtu, 18 Mei 2019
Posted by bakhruthohir.blogspot.co.id
Tag :

Refleksi Ramadan #12

[Sumber: www.idntimes.com/hype/]

Mereka yang sudah akil baligh dan sudah kecanduan musik saat tahun 2000an, pada awal ramadan pasti memiliki daftar album lagu terbaru yang siap didengar, karena banyak sekali musisi yang berbondong-bondong membuat album edisi ramadan. kualitas dari lagu-lagu yang dikhususkan untuk bulan ramadan diproduksi oleh orang-orang hebat yang artinya kualitasnya pun tidak bisa diragukan.

Gigi, ungu, wali, setia band sampai banyak penyanyi solo seperti opick, gita gutawa, rosa, dan lain-lain yang juga punya single dan album edisi Ramadan. Mereka adalah bagian dari para seniman yang menyempatkan berkarya sebelum bulan puasa. Apalagi band sekaliber gigi dan ungu, banyak diantara karyanya yang sangat memorable.

Izinkan ku ucap kata taubat, sebelum kau memanggilku. Tuhan, tuhan yang maha esa. Terire rire rire entai iiii, ta re ra en ti ra re enta ra raaaa, tombo ati. Rabbana atina fid dunya hasanah wafil akhiroti hasanatau wakina adzabannar. Sampai saat ini, lagu-lagu itu masih mudah sekali kita dendangkan ulang nada-nada yang mewarnai setiap lirik dari lagu itu.

Angkatan ini juga merefresh generasi lama yang kurang lebih hanya didominasi ebiet, bimbo, haddad alwi feat sulis dan raihan. Banyak dari band-band ini bahkan tidak hanya berpatron pada satu genre, sangat beragam bahkan jauh dari tempo yang kalem tur lembek yang kurang lebih cocok menemani waktu menunggu berbuka.

Gigi menabrak banyak sekali gambaran lagu edisi ramadan yang dinyana selalu berirama syahdu dan menenangkan. Lagu semisal Lailatul Qadar, amnesia, sifat 20, sampai Tuhan adalah sekumpulan lagu gigi yang bertempo cepat dan pastinya kalau itu didendangkan siang hari dan kita terpancing joget, niscaya cepat haus jua saat puasa.

Lagu-lagu yang dikeluarkan untuk menyambut bulan ramadan memiliki tema seputar ketuhanan, ibadan dan juga akhlak yang baik.

Entah, mungkin lagu-lagu itu memang diniatkan untuk berdakwah atau sekedar membuat lagu saja dan komersial murni. Tetapi memang itulah tema yang paling laris di pasaran ketika bulan puasa.

Aku rasa bahkan setiap seniman tadi memiliki minimal satu lagu yang menggambarkan sifat Allah yang selalu melihat gerak-gerik umatnya dan juga Allah maha pengasih dan penyayang. Dan karena temanya seperti itu, kita lalu beramai-ramai menyebutnya lagu religi.

Jadi kalau pertanyaan dibalik, apa itu lagu religi? Lagu religi adalah lagu yang memiliki tema seputar ketuhanan, ibadah dan anjuran berbuat baik. Syarat utama selain tema adalah lagu itu harus dirilisnya menjelang atau bertepatan dengan bulan puasa.

Yang mana pasar memang sedang membutuhkan suplai konten yang seperti itu, tentu sangat menguntungkan industri, eh. Apalagi saat itu, produksi musik masih didominasi oleh major label. Sehingga kalau disederhanakan, lagu religi adalah lagu yang diproduksi untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari masyarakat akan kebutuhan terlihat religius. Eh eh eh. hehe

Ini sudah tentu lo, siapa yang lebih religius, orang yang mendengar lantunan opick atau the SIGIT? tentu opick dong yang lebih religius, tombo ati je, the SIGIT tentu ndak ada religius-religiusnya sama sekali. Lawong lagune berjudul black amplifier, itu judul lagu atau merek alat musik. 

karena, sebetulnya kalau kita hanya memegang pada tema yang dibawa, banyak lagu yang bertema seperti lagu religi tadi, tapi tidak kita sebut lagu religi karena tidak dirilis untuk bulan puasa. Semisal Hagia dari barasuara yang berkisah tentang bebasnya memilih kepercayaan, tentang rindu dari virzha yang melantunkan pesan tentang kekangenan pada orang tua, ini kan bentuk tawadhuk pada orang tua, islami sekali. Mustafa Ibrahim dari TRIAD, ini cover lagu Queen, dan sudah dimodifikasi untuk sesuai dengan kondisi Indonesia sampai lagu kau tak sendiri dari bondan yang berpesan agar manusia tidak putus asa, bukankah Tuhan juga meminta kita tidak putus asa dan selalu berpegang padanya, sungguh sangat amat islami kan.

Jadi, sebenarnya definisi dan cara kita memaknai religi dan lagu religi bagi kita itu sebenarnya apa dan bagaimana?
Jumat, 17 Mei 2019
Posted by bakhruthohir.blogspot.co.id
Tag :

Refleksi Ramadan #11

[Sumber: beritalangitan.com]

Satu hal yang lebih banyak dilakukan ketika sedang ramadan selain solat malam, tadarus Alquran dan buka bersama adalah salat dengan jamaah.

Di bulan-bulan lain, mungkin orang akan biasa saja kalau solat sendiri, tapi di bulan ini, sangat diusahakan bisa jamaah. Bahkan dan pasti sangat hanyak di antara kita yang solat isyanya sebulan full ini jamaah karena gandeng dengan tarawih. Sungguh perubahan yang sangat signifikan dari segi kesempurnaan syariat beragama. Semoga berbanding lurus dengan tingkat ketakwaan.

Ngomong-ngomong soal jamaah, memang kadang-kadang menjadi memudahkan ibadah, tapi bisa juga lebih sulit.

Kira-kira seperti ini,
Memudahkan tatkala berurusan dengan kemalasan, kemalasan bisa teratasi kalau kita bersama, sehingga jamaah bisa jadi jalan keluar dari kemalasan agar kita lebih giat beribadah.

Selain itu jamaah salat memiliki jumlah pahala yang lebih besar dari pada salat sendiri, dan tentu untuk orang yang ingin hitung-hitungan tentang pahala, jamaah jadi momen sangat menguntungkan. Apalagi ditambah saat ramadan, pahala juga dilipat gandakan ratusan kali, sungguh sebuah panen.

Dan yang terakhir, jamaah lebih memudahkan ibadah diterima, karena dikerjakan bareng-bareng, ada satu saja anggota jamaah yang berhasil, bisa membawa seluruh jamaah selamat.

Namun perihal susahnya jamaah juga tentu ada, lawong dapat keutamaan berlipat pahala sampai mudahnya diterima, tentu melakukannya juga perlu usaha.

Seperti kita bermasyarakat, jamaah pun demikian. Tantangan paling berat buatku saat melakukan ibadah berjamaah adalah meletakkan ego dengan seimbang antara satu orang dengan yang lain. Persis seperti hidup di tengah-tengah masyarakat. Ego kita tidak boleh memakan ego orang lain.

Misal, anda jadi imam. Anda tidak bisa seenaknya mengkhusuk-khusukkan diri dan menjadikan salat anda berlangsung sangat lama, anda juga harus memikirkan bahwa anda sedang tidak sendiri, makmum anda beragam dan mungkin tidak semuanya bisa berlama-lama ibadah seperti anda. Sehingga pilihan ayat yang dibaca, lamanya merapalkan doa sampai tengat mengambil jeda antar gerakan tidak bisa sekarepe dewe.

Fokus pun jadi tidak sesimpel solat sendiri. Kalau kita solat sendiri, kita cukup melakukan ibadah terbaik yang kita bisa, merapalkan doa terbaik dan mengunakan ayat terfavorit. Tetapi saat jamaah, fokus kita harus ditujukan pada beberapa hal, yang tentu masih bermuara pada tidak menuruti ego sendiri karena saat jamaah kita sedang bersama-sama. Semisal ditenggah salat tiba-tiba turun hujan sangat lebat, sebagai imam ya ndak bisa tetap fokus pada ibadahnya sendiri, harus memikirkan bahwa salat yang dilakukan itu sedang bersama-sama, barangkali ada makmum yang kehujanan karena kebagian tempat salat di luar.

Hal ini tentu tidak terjadi di semua salat jamaah, untuk kondisi masyarakat yang homogen dan sudah terjadi kesepakatan tentu tidak bisa jadi ukuran. Semisal ada jamaah dibeberapa pondok pesantren yang tiap salatnya menghabiskan 1 juz dan membuat durasi salat menjadi sangat lama. Ini sah-sah saja, karena di lingkungan itu memang menyepakati hal itu. Beda ketika masyarakat yang jadi jamaah adalah sangat heterogen. Menjadi imam yang baik adalah menjadi pemimpin yang tidak memaksakan egonya sendiri.

Kalau mau salatnya sangat lama, laksanakanlah saat sendiri. Tapi saat bersama, lebih baik sewajarnya. Tidak malah dibalik.

Menjadi makmum pun sebenarnya tak lantas simpel, menjadi makmum kadang sering lengah bahwa ada kewajiban yang wajib dituntaskan saat salat. Sehingga tanggung jawab sebenarnya dipikul bersama.

Imam menyadari bahwa dirinya tak sendiri dan semuanya seperti dirinya. Makmum menikmati bagaimana cara imam memimpin salat. Dengan demikian kira-kira akan terjadi keseimbangan yang nikmat saat beribadah. bukan malah imam merasa dirinya yang patut diikuti, sehingga dia merasa apapun yang dilakukannya pasti semua makmum senang. Makmum juga tidak resah pada imam dengan caranya memimpin ibadah dan menjatuhkan tuduhan yang tidak-tidak.

Akhirnya, semoga ibadah kita menjadikan ketakwaan meningkat. Salah satu bukti kalau kita takwa adalah menerapkan laku kehidupan yang mencerminkan nama Allah. Allah itu maha kasih sayang, sudah sepatutnya kita juga selalu kasih sayang pada semua manusia. Sehingga saat solat jamaah kita juga harus sayang pada semua jamaah, tidak hanya sayang pada ego kita. Sepadan juga, ketika kita juga tetap sayang pada semua manusia selepas salam.

Selamat berpuasa, salam :)
Kamis, 16 Mei 2019
Posted by bakhruthohir.blogspot.co.id
Tag :

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -