Posted by : bakhru thohir Jumat, 25 September 2015



Lamongan, duapuluh lima September 2015

Selamat pagi Indonesia. Senang sekali pagi ini bisa mengawali tulisan dari rumah kelahiran penulis dengan menikmati panorama pedesaan yang belum hilang. Dan semoga tidak akan hilang tergerus oleh modernitas yang kadang kala sering mengancam budaya kita. 

Pertama-tama penulis ucapkan selamat hari raya idul adha untuk kaum muslim diseluruh dunia, yang kemarin hari dan dua hari kemarin baru saja merayakan. 

Kali ini penulis akan membahas tidak jauh dari apa yang baru saja kita alami. Yap, masalah idul adha, sejarah, esensi dan penerapanya pada era kali ini.

Tahun-tahun ini banyak sekali meme yang beredar disekitar kita, dan sering kali mengambarkan isi hati beberapa netizen. Meme ini keluar periodik sesuai peristiwa apa yang sedang terjadi. Momen idul adha ini pun tak luput dari meme tersebut, dan meme yang cukup tenar kali ini berisi pertanyaan pada netizen, “tahun ini mau kurban apa? Kambing, sapi, domba apa perasaan”. Korban perasaan? Yap, cukup mengelikan kedengaranya, dan mungkin sampai menyayat hati kaum jomblo. Hehe. Namun kita korban perasaan-pun tak masalah, malah bisa lebih baik, kok bisa? Bukan berarti karena penulis juga jumbo, terus ikut-ikutan membela kaum jomblo, hehe. Mari kita ikuti sedikit rangkaian tulisan sederhana dan sama-sama introspeksi diri.

Sebelumnya mari kita ingat sejarah peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 dzulhijah, sehingga harus kita peringati dengan berkurban. 

Pada hari itu, tuhan menurunkan perintah melalui mimpi pada nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya ismail. Pada awalnya nabi Ibrahim pun ragu, itu benar-benar perintah dari tuhan atau godaan syetan saja, dan pada akhirnya dengan ihlas nabi Ibrahim merelakan ismail anak kesayanganya disembelih dan ismail pun dengan ridho kepada tuhan bersedia disembelih. Dan kemudian ketika akan disembelih sang anak, tuhan mengantinya dengan seekor domba. Dan karena itulah kita diperintahkan untuk meneruskan kurban nabi Ibrahim tiap tanggal 10 dzulhijjah.

Dibalik peristiwa tersebut, tuhan tentu memiliki maksut. Dan kiranya maksut tuhan adalah ingin mengajari umatnya agar tidak kedonyan (cinta dunia berlebihan). Kita diperintahkan mengkurbankan harta kita yang dapat diserupakan domba, kambing, unta atau sapi. Dan pada akhirnya daging kurban tersebut akan dibagikan untuk semua kaum muslim terutama yang kekurangan.

Dengan cara berkurban kita diajari tuhan untuk masuk menyelami dunia zuhud. Dunia dimana sudah tidak terikat lagi jiwa dan raga kita pada kerisuan dunia. Karena kita telah mengetahui bahwa dunia ini hanya fasilitas dari tuhan untuk mencapai sesuatu yang lebih abadi (nirwana). Kita diajari tuhan agar tidak menaruh fokus pada sesuatu yang sementara (harta dunia), namun menaruh fokus pada sesuatu yang lebih abadi.

Arti kata kedonyan sendiri akan menjadi sangat sempit apabila hanya diartikan kita cinta pada emas, rumah, uang dan semua yang berbau harta kekayaan, karena isi dari dunia ini tidak hanya sesempit itu. 

Cinta kasih dan perasaan sayang pada istri, bakal istri dan keluarga; titel atau gelar; teman; anak; istri; bakal istri; kemampuan; rumah; handphone; uang; sekolah; motor; dan masih banyak yang lain adalah semua tentang dunia. Kita jangan mengira, apabila kita sudan dengan sangat ihlas berkurban satu ekor sapi seharga 100 juta namun hati kita sakit (galau) karena baru saja putus dengan bakal istri sudah selesai pelajaran zuhud kita. Karena isi dari dunia ini tidak hanya sapi yang berharga 100 juta saja, tetapi berisi bakal calon istri kita juga, sehingga korban persaan penting bukan?

Kita harus merelakan semua yang menjadi embel-embel dunia ini. Karena segala yang kita lakukan didunia ini sudah diatur dengan sangat indah oleh tuhan. 

Dari sana mari sama-sama kita belajar bahwa tak ada gunanya lagi masih memegang cinta berlebihan, kita harus ingat pada kata nabi “cintai sewajarnya dan benci seperlunya”. Karena apabila ketika kita sudah sangat cinta, akan sangat berat pula korban persaan kita, padahal itu hanya hal yang semu dan tak pasti adanya. 

Kita cinta mati dan tak mau melepas perasaan pada seorang calon istri yang takdirnya memang bukan istri kita sama halnya dengan mengharapkan kita memakali smart phone di tahun 1990 M. “tidak ada gunanya harapan itu”. Sehingga mari kita belajar kurban, kurban kambing, kurban domba, kurban sapi, kurban unta dan juga kurban perasaan.

Waallahu A’lam

Semoga kita lebih baik dan tergolong orang-orang yang baik menurut tuhan. Amin.

Terahir penulis ucapkan banyak terimakasih pada orang-orang yang sudah menginspirasi pada tulisan ini dan tulisan-tulisan sebelumya terutama ayah dan ibu penulis. 

{ 5 komentar... read them below or Comment }

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -