Mencari Alasan untuk Bisa Berteman dengan Robot Tukang Repost Konten Dakwah

[Sumbe: pinterest.ca]
Ketika beberapa akun teman sudah berubah fokus tentang apa yang diunggah, menjadi penuh tausiah sampai bendera negara lain, sudah seperti akun buzzer politik. Saat itu aku bingung mencari alasan untuk apa aku ikuti teman-temanku itu di Instagram. Padahal awalnya ingin saling silaturahmi dan mengetahui kabar.

Awalnya memang hanya sebatas unggahan-unggahan sederhana. Tapi semakin kesini, intensitas, jumlah dan konten yang dimuat semakin memuakkan. Bahkan ada beberapa akun temanku yang nihil foto dirinya saat aku lihat feed instagram miliknya. Bukan karena gak pernah mengunggah fotonya, tetapi foto-foto yang dahulu ada kini telah pergi entah kemana. Semuanya telah berubah menjadi video dan gambar kampanye, ceramah dan kroni-kroninya. Telah hilang semua kenangan bersamanya, saat di mana kita sama-sama saling bercanda memberikan komentar pada unggahannya di sebuah foto kala itu.

Sejujurnya, kenapa aku mengikuti banyak akun teman di Instagram dari pada akun admin macam @sabdaperubahan, @NUOnline_id atau @Mokokdotco, memiliki alasan yang sederhana saja, Aku ingin tetap mengetahui kabar temanku. Dia sedang apa, di mana, melakukan apa dan meastikan tak ada yang kurang dari kebahagiaannya meskipun tidak sedang chat secara langsung.

Lalu saat semua konten akun instagram miliknya berubah menjadi penuh pengajian, lalu kabar apa yang bisa aku dapatkan? Kontennya pun tak jauh berbeda dengan akun admin yang banyak aku temui di jendela jelajah (exsplorer) instagram. Konten-konten yang ada bukan mereka sendiri yang membuat tapi hanya sekedar unggah ulang (repost). Dari situasi semacam ini membuat aku cukup berpikir untuk tetap memiliki alasan kenapa aku masih mengikutinya di instagram.

Kalau tiba-tiba aku berhenti mengikuti temanku itu, nanti dikira aku ingin memutus tali silaturahmi. Saat aku tak setuju dengan konten yang mereka unggah dan aku melaporkan ke pihak instagram, misal soal politik adu domba berbumbu SARA, nanti dikira lupa saudara. Cukup menjadi pelik persoalan remeh-temeh ini.

Sebenarnya tidak hanya konten berupa kampanye dan pengajian yang cukup membuat pusing. Tapi juga akun teman yang tiba-tiba berubah menjadi akun toko online yang kadang kala produknya sama sekali tak aku butuhkan.

Pernah kejadian, aku memiliki 2 atau 3 teman yang semula akun instagram miliknya berjalan biasa saja. Dia mengunggah foto dirinya, kadang bersama teman, dan ada juga yang bersamaku. Lalu tiba-tiba semua fotonya lenyap dan berubah menjadi kerudung, baju perempuan dan perabot plastik untuk rumah tangga.

Lalu apakah saat aku diam-diam berhenti mengikuti temanku ini karena aku merasa tidak memelukan produk yang dijualnya, membuatku masuk ke kategori orang yang ingin memutus tali silaturahmi?
Karena tidak hanya unggahan di instagram, bahkan cerita instagramnya pun berisi konten jualan dan membuatku benar-benar tak mendapat info apa-apa soal kabarnya.

Tinggal menghitung waktu, aku juga akan lupa dengan wajahnya, karena foto profilnya pun sudah berubah. Dari foto diri menjadi brand yang ia jual, ada juga yang berubang menjadi fotonya yang berlatar gambar bendera negara lain.

Sejujurnya aku masih buntu tentang alasan alternatif kenapa aku masih perlu mengikuti teman-temanku yang mengubah akunnya menjadi mini buzzer itu. Tapi aku punya beberapa solusi pada teman-temanku, antara lain:

Buka akun baru. Kenapa tidak membuka akun baru saja kalau ingin berjualan atau mengkampanyekan sebuah pandangan? Toh membuka akun baru juga tanpa biaya. Sehingga memberikan kita kesempatan memilih akun mana yang ingin diikuti, akun orangnya atau akun produknya.

beri keterangan di bio seperti “memang ini akun pribadiku tapi aku gunakan untuk berdakwah”, jadi kalau ada yang tidak sepakat dengan jalan pikirnya, kita jadi punya pilihan dan alasan untuk minimal membisukan akun teman itu.

Yang terakhir, ini solusi yang paling aku suka secara subjektif. Silahkan tetap mengunggah apapun itu, baik video dakwah, ajakan berjihad sampai jualan, tapi buat konten sendiri, tidak asal repost. Karena memang banyak di instagram itu konten kreator. Semisal dia yang pelukis, dia tak pernah memposting foto dirinya, dia hanya mengunggah hasil karyanya. Atau musisi yang selalu mengunggah saat dia memainkan alat musik, itu lebih bermutu. Jadi kalau punya pandangan, ya buat konten sendiri, buat argumen dan sudut pandang sendiri lalu buat meme secara mandiri. Itu lebih original dan tetap membuatku punya teman yang bisa berpendapat dan berargumen, tidak sekedar menjadi robot pengunggah ulang konten milik akun lain.

---
Aku cukup sadar diri dan ingin mengamalkan apa yang diajarkan Gus Dur soal “kita jangan suka membatas-batasi orang lain, kita sendiri yang harus tau batas”

Tak ada hak untuk aku mengatur-atur apalagi melarang pada mereka soal konten yang mereka unggah. Mereka bebas mengunggah apa pun yang mereka mau. Bahkan mengubah akun pribadi miliknya menjadi total sebagai akun buzzer pun tak masalah.

Tapi harus dengan cara apa agar kita tetap bisa komunikasi dan tukar kabar saat beberapa akun temanku sudah merubah isi feed IG dan konten cerita IG mereka? Apakah aku harus sering-sering chat ke masing-masing teman dan menanyakan kabarnya satu per satu?

Aku mengerti akan resiko kalau aku mulai chat satu per satu ke setiap teman. Untuk teman cowok, jawabannya ya garing saja, ala kadarnya dan kalau bisa segera selesai, sudah jadi stereotype cowok itu gak suka basa-basi. Kalau yang aku chat itu cewek nanti kenak label PDKT, terus risih kalau dichat terlalu sering. Dan yang pasti akan berjamaah ngomong “dasar kepo!”

Apakah pertemanan ini cukup sampai di sini, apakah aku yang sekedar ingin tau kabarmu dan memastikanmu tetap tersenyum sudah menerobos batas standart kepo dunia.

Atau aku yang harus belajar lagi tentang apa tujuan seseorang mengunggah sesuatu di instagram secara khusus dan sosial media secara umum?

Nampaknya memang iya, aku sendiri yang harus belajar membaca ulang alasan masing-masing orang mengunakan instagram. Karena beberapa bulan yang lalu, aku pun sempat salah paham pada para pemain game mobile lagend, saat itu aku berpikiran “kenapa sebuah permainan yang tujuannya untuk memberikan hiburan untuk diri dari kepenatan malah membutuhkan calo untuk memainkannya”. Yang semula aku mengira orang bermain game untuk hiburan seluruhnya, ehh ternyata ada juga yang sudah masuk ke gaya hidup dan membuat aku mengerti kenapa ada orang sampai menyewa jasa calo dalam bermain game mobile legend.

Kau ini bagaimana, atau aku yang harus bagaimana~
Yaudah deh, iya, aku aja yang harus bagaimana, aku belajar lagi aja. Kalau mau lanjut jadi robot pengunggah ulang konten buzzer ya monggo.

Wallahu A’lam
Rabu, 15 Agustus 2018
Posted by bakhru thohir

Mengoceh Tentang Berislamnya Kita

[Sumber: alkhilafahmuslim.wordpress.com]
Jadi gini lo cah, Islam itu ya, mau dibilang satu bisa, mau dibilang beragam yo bisa. Gimana gak satu, yang disembah Tuhannya sama, ya sama-sama solat, puasa, haji dan sebagainya. Bisa juga gak satu, contohnya? mudah sekali, bentar lagi juga terlihat, bukannya tiap tahun selalu terjadi kalau mulai dan berhenti puasa ramadan di negeri ini emang gak selalu bareng-bareng. Belum lagi solat, ada yang kunut ada yang gak usah, ada yang baca bismillahnya kedengeran ada yang gak. Tarawih juga, ada yang pakek 8 rekaat ada yang 20 rekaat. Kalo Islam emang satu, kenapa dari segi cara beribadah saja berbeda?

Nah iya to, kalo udah jelas berbeda kan haruse saling menghargai, toh masing-masing cara itu ada dasarnya. Jadi ra usah lah isi ceramah itu nyacati yang laine, bilang-bilang siapa yang ngajarin wirid selepas solat iku kudu berjamaah?, rambut, celana, cara berpakaian jangan menyerupai kafir, gak ada dalilnya melakukan maulid nabi. La saiki gini lo, tiap orang kan punya cara masing-masing. Misal, ada yang pakek metode ijtihad dalam menentukan sebuah hukum, jadi mau tanya-tanya dulu sama yang mujtahid. Ada juga yang mau langsung tafsir Qur'an dan Hadis sendiri. Terus emang ada jaminan kalau yang ijtihad pasti bener? Gak ada!. La kalo yang langsung tafsir sendiri ke Qur'an dan Hadis, apa ya mesti bener? Ya sama aja!.

La kalo ada yang ngaku bener, ente fatihah emang ngelewatin baca ihdinassirotolmustaqim?. La itu udah jelas-jelas  ngaku tunjukkan aku jalan yang lurus. La kalo mintak tunjukkan, kan berarti gak ada yang punya kepastian bener to. La kalo udah pasti bener, kenapa masih minta tunjukin jalan yang lurus?. Jadi menurutku kita sama-sama mencari jalan terbaik. Kayak menyikapi soal rame-rame bom barusan. Ada yang berpendapat pengalihan isu, teroris gak islam, islam kambing hitam, ISIS menyerang, radikal islam beraksi dan sebagainya

Yang menurutku menarik, habis dibuat geger gara-gara bom, sekarang ada yang bilang teroris bukan islam. La yang melakukan bom bunuh diri juga baru selesai solat subuh. Emang solat subuh itu gak islam? Secara syariat kan udah fix dia islam, wong solat, tiang agama lo itu. La sekarang misal kalo ditanya ke teroris itu agamanya apa, terus jawabannya islam, la terus piye jal? Dibilang bukan islam, tapi mereka ngaku islam. Apa ya gak sebaiknya disebut sesat aja para teroris itu. Bukankah udah biasa juga bilang aliran ini-itu sesat. Syiah dan Ahmadiah masih inget lah ya kasusnya.

Atau, O mungkin maksudnya islam esensi? Gak hanya sariat-sariat aja? Gak hanya bisa solat tapi menebar rahmat untuk seluruh alam? Kalau iya, besok natal jangan lupa ucapin selamat ke sodara yang merayakan ya. Kalau berpendapat gini, harusnya udah lupa lah ya soal toghut, kafir dan demokrasi hukum buatan setan. Esensi kan, rahmad untuk alam kan maksudnya. Biar rukun gitu lo, sama-sama warga Indonesia kan.

Soal tindakan teroris bukan akhlak islam, bukane dari dulu kiai-kiai udah bilang gitu? Sejauh yang tak amati, Gus Mus juga sering menyerukan untuk menjaga negara. La resolusi jihad tiap tahun diperingati bukanya untuk mengenang jasa santri melawan kompeni di perang surabaya. La itu semua tujuannya untuk apa? Kan ya untuk menjaga indonesia dan menegakkan rahmatallilalamin.

Aku sejak dulu yo gak setuju kalau tindakan terorisme itu dibilang islami, aku yo percaya kalo islam itu agama yang mengajarkan cinta kasih, rahmattallilalamin. Tapi ya kalau mau jujuran, yang jadi penyebar teror ini ya banyaknya memakai wajah islam. La kayak tadi, si pelaku bom bunuh diri ini subuhnya juga jamaah di masjid, ya pakek jilbab. Lalu kenapa kedok yang paling sering digunakan adalah agama, aku si mengirae karena agama menawarkan sebuah kebenaran yang absolut.

Sekarang gini lo, mau ideologi sekeren apapun, mau partai apapun, ormas apapun, tetep aja itu semua buatan manusia. Jadi kebenarannya gak absoliut. Tapi kalau agama yang dipakek kan manteb banget, menawarkan kebenaran jelas, mengaku benar malahan, dan agama bukan buatan manusia, tapi asli dari tuhan, luar biasa keren lah. Itu kan yang diajarkan dan dipahami.

Jadi, apa yang terjadi di Surabaya harusnya dapat membuat kita ingat pada salah satu nilai hidup, yakni kemanusiaandan gak usah nyacati yang lain. Mari beragama dengan santun.
Waallahu Alam
Selasa, 15 Mei 2018
Posted by bakhru thohir

Kisah Anak Baru Jogja Yang Sedang Merancang Kuliahnya Agar Lulus Khusnul Khotimah

[Sumber: http://gambarkatalucu.info]

Pada suatu masa di mana saya baru datang ke Jogja, dan tentu saya tidak mengetahui apa pun. Jangankan jajanan enak di Jogja, jalan terobosan saja tak tahu, sehingga dalam bayangan saya, jogja hanya berisi gudeg dan angkringan, heuheu, dan jalan yang diketahui ya sebatas jalan kaliurang, malioboro dan solo. Tapi itu tak penting, karena hari itu bukan saatnya jalan-jalan atau wisata kuliner, tetapi hari itu adalah masa menyusun rencana kuliah semester satu. Singkat cerita, di semester pertama ini ada beberapa mata kuliah yang sudah mencapai kuota, dan saat saya tanyakan pada kakak yang sudah kuliah di sini, itu dikarenakan banyaknya mahasiswa semester tiga yang mengambil ulang kuliah, kuliah tersebut sebenarnya diperuntukkan untuk anak-anak semester satu. Sejadilah saya panik karena tidak kebagian kursi kelas, la pripun, baru semester 1 je, kok bisa gak kebagian kelas karena terserobot kakak tingkat yang mengulang kuliah karena ingin memperbaiki nilai. Dari kepanikan itu saya putuskan jalan-jalan ke kampus untuk memastikan dan mencari jalan keluarnya. Singkat cerita akhirnya bisa kuliah juga, karena kuota kelas memang ditambah oleh admin prodi.

Setelah selesai ngurusi rencana studi, saya sempatkan duduk-duduk di lorong gedung jurusan, sekaligus menyapa teman-teman baru yang kebetulan sepanik dengan saya juga, dan berkenalan dengan kakak-kakak tingkat yang berseliweran gagah sekali, mungkin mereka sudah tahu kalau saya mahasiswa baru, ehehe.

Saat ngobrol dengan salah satu kakak tingkat yang seperti punya penerawangan jauh kedepan, la piye, seakan-akan dia tahu kalau saya sedang bingung menyusun mata kuliah dan menginginkan nilai yang tinggi saat lulus. Tiba-tiba saja dia bertanya pada saya “ambil kuliah ini dengan dosen siapa? Kalau kuliah itu dengan dosen siapa?”. Kujawab “gak tau, belum hafal nama dosennya”. Kakak itu menyambung “jangan pilih dosen ini, ini juga jangan, mending yang itu, kalau kuliah ini yang itu aja, beliau ngasih nilainya enak”. “Oooo” jawabku.

Ngeri juga ya, kuliah ternyata tidak hanya mempersiapkan  materi, waktu dan pengetahuan dasar. Tetapi juga harus merancang dengan siapa kita harus kuliah agar nilai yang keluar nantinya bisa baik dan mengangkat kita secara status sosial dalam dunia mahasiswa, uhuk, biar nanti aku lulus dengan status cum laude, hehe, bisa bikin orang tua bangga nih. Kan dari dulu kita juga sudah diajari untuk menjadi juara kelas, bukan untuk menelateni apa yang kita suka. La kalo sukamu cuma bisa bikin puisi, mau jadi apa? Dilan? Rendra? Chairil anwar? Hahaha, lak mending jadi pegawai kantoran atau PNS, kan jadwal gajiannya jelas.

Hoaakkkk, dasar calon baut-baut kapitalissss
Sssttttt. Jangan berisik anak dan istri butuh makan, orang tua juga butuh kepastian kita kerja apa, di mana dan berapa gaji kita. Itu bisa menaikkan strata orang tua kita saat arisan lo, itung-itung berbakti pada orang tua.

Selain tips memilih dosen, ternyata ada lagi tips untuk bisa menyandang gelar cum laude. Yakni tau pola jawaban yang diinginkan dosen. Yes!

Selain harus fotocopy materi dari teman yang gemar mencatat, ehemm. Maksudnya menulis ulang slide dosen. Kita juga perlu tahu karakter dosen. Dosen si ini menginginkan jawaban yang cas cis cus, sedikit saja, asal ada kata kuncinya. Kalau dosen yang itu pengennya jawaban yang panjaaannnggg, gak penting nulis apa, lirik lagu virgoun juga gak papa, asal panjang. Kan katanya sebelum memulai perang kita harus tahu medan perang. Oke siap!.

O iya ada lagi, gunakan otak dengan baik. Jangan terlalu banyak menyimpan sesuatu yang tidak perlu. Pikirkan dan hafalkan saja apa yang akan keluar di ujian. Ndak usah banyak tanya dan menghafal pada sesuatu yang aneh-aneh, apalagi mengali pengetahuan yang jelas-jelas tak masuk pada daftar pertanyaan saat ujian. Apalagi memahami, wes gak penting, cukup menghafal jawaban kisi-kisi ujian. Wes pokok jangan aneh-aneh, ingat, gunakan otak dengan efektif.

Hemm, aroma cum laude sudah tercium. Jadi untuk yang ingin aneh-aneh, berargumen lucu sampai nyeleneh, ya jangan berharap dapat nilai A. katanya ya yang dapat nilai A ya yang isi kepalanya disesuaikan dengan isi kepala dosen, kalau dosen mintak kotak ya jangan lingkaran. Kalau dosen segitiga ya jangan coba-coba segi lima. Akibatnya nanti nilai akan jadi pas-pasan, inget orang tua lo ya, apalagi untuk teman-teman yang menerima beasiswa. J a n g a n   c o b a  c o b a, i t u   b e r b a h a y a!.

La hasilnya gimana? Ha yo mbuh, aku juga belum lulus, ini lagi praktekkin tips-tips tadi. Tapi tips tadi dikeluarkan oleh orang yang tak sembarangan lo, kabarnya emang punya nilai yang tinggi, jadi kebenarannya hampir dapat dipastikan, heuheu, Nanti kalau sudah lulus dan tips ini bener-bener terbukti berhasil, tak tulis laporannya. Heuheu

Selamat belajar, selamat hardiknas.
Wes pokok selamat lah. Kita kan emang suka yang seremonial kek gitu.
Merdeka!
Rabu, 02 Mei 2018
Posted by bakhru thohir
Tag :

Cadar Di Fakultas MIPA

[Sumber: islamidia.com] 
“Saat ini sedang banyak kegaduhan, kalian merasakan ndak?” pertanyaan itu tiba-tiba memecahkan hening kelas yang belum dimulai. Kami semua diam, lalu pengajar itu melanjutkan berbicara “dunia maya, tapi tidak gaduh soal sepak bola”. Salah satu diantara kami ada yang nyeletuk “cadar”, kemudian pengajar ini menimpali “iya, cadar. Bagaimana menurut kalian?” lalu kelas ini mulai ramai dan ada beberapa mahasiswa unjuk argumen. Suasana yang menurutku cukup aneh, apalagi ini adalah kelas di fakultas MIPA. Apakah sampai sebegitu gemparnya info pelarangan cadar ini, sampai-sampai salah satu kelas di fakultas MIPA harus menyisipkan diskusi tantang cadar diantara materi kelas yang membicarakan energi, panjang gelombang dan interaksinya dengan molekul?

Terlihat pengajar ini begitu antusias membahas masalah cadar, bahkan sedikit tendensius ke salah satu sisi antara yang menerima dan menolak. Beberapa mahasiswa juga mulai berargumen dari persepektif syariat sampai hak asasi manusia. Kata mereka cadar itu lebih disepakati para ulama memiliki hukum sunnah sampai tentang dilanggarnya hak asasi manusia untuk berpakaian. Percakapan ini terjadi beberapa hari setelah surat larangan cadar di UIN Jogja mengudara, dan meskipun tertanggal 10 kemarin surat tersebut telah dicabut, nampaknya masih menarik juga soal cadar ini ditulis.

Tentang cadar ini saya teringat pada salah satu isi ceramah Kiai Ahmad mustofa Bisri, beliau pernah menyampaikan “Rasul itu berjenggot, Abu Jahal dan Abu Lahab juga berjenggot, yang membedakan keduanya adalah budinya, Rasul itu wajahnya bassam, bassam itu wajahnya tersenyum, tidak hanya bibir yang tersenyum, tapi wajah, kalau Abu Laham dan Abu Jahal mukanya sangar, jadi terserah mau berjenggot atau tidak, yang penting wajahnya mau tersenyum atau sangar”.

Dari sana saya mendapatkan bahwa jenggot itu bukan urusan orang Islam, karena Abu jahal dan Abu Lahab juga demikian, tapi itu urusan orang Arab. Sehingga kita bisa membedakan mana yang ciri orang Islam dan ciri orang Arab.

Saya kira selain soal tampilan, kita memang harus benar-benar introspeksi diri, bagaimana tidak, wong ada orang yang sebal pada lainnya dengan omelan “mbok ya ojok kearab-araban, dikit-dikit barokallah fi umrik, jazakumullah, safakillah” tapi dirinya berucap HBD, Thanks dan GWS.

Ada juga orang yang ngomel-ngomel ke orang lain “berpakaian kok celana ketat kayak orang barat, rambut dipotong tipis bawah, gak punya jenggot malah pelihara kumis, gitu ngaku Islam, Nabi yang mana tuh yang ditiru” tapi dia sendiri berpakaian gamis kayak orang arab padahal lahirnya di Jawa.

Saya rasa kita harus benar-benar perlu membedakan mana yang urusan agama dan mana yang produk budaya. Karena setahuku saat melihat pertandingan bola dengan streamming via stasium Arab Saudi seperti channel yalasoot, mereka juga berteriak “allah ya allah, messi, gol gol gol” dan sebelum pertandingan juga berucap assalamualaikum. Apakah ini juga tanda bahwa ucapan assalamualaikum adalah urusan bahasa bukan agama yang artinya sama dengan selamat sore, serta saat komentator berucap “ya allah, messi, gol gol gol” itu semakna dengan “ya tuhan, egi messi kelok sembilan, gol gol gol”?. Toh tak ada hubungannya juga antara sepak bola dengan islam, kenapa ada ucapan assalamualaikum dan Allah di sana?

Mas Dandhy Dwi Laksono melalui cuwitannya juga memberikan argumen yang sangat bagus, bahwa  “cadar tidak sama dengan terorisne atau intoleransi. Sebab kita menolak sama bodohnya dengan mereka yang menganggap palu arit adalah simbol kejahatan”. Sehingga tak serta merta bercadar pasti teroris dan yang palu arit pasti jahat. Diskusi tentang itu sangat panjang, tak selesai hanya dengan sumber jarene ustad itu jarene tuan itu salah ini itu.

Ini akan sama dengan permisalan bahwa aku memilih berkaos dan hanya berlindung jaket untuk bisa masuk fakultas. Boleh orang tak suka dan bilang “apa sih kuliah gak sopan gitu, kaosan oblong”, tapi tak boleh orang memaksaku untuk selalu memakai kemeja, toh berjaket juga tak melanggar aturan fakultas.

Dan yang terakhir, kenapa urusan cadar ini sebegitu hebohnya? Kalau urusan hukum kita terima bahwa cadar itu sunnah, tapi apa tidak lebih penting memperhatikan urusan orang yang dibacok saat melakukan ritual agama di suatu gereja di sleman? Membacok menurutku jelas-jelas dilarang, itu diharamkan. Apakah persoalan haram sekarang jadi kalah menarik dari pada sunnah?. Kalau soal hak asasi berpakaian yang dirampas, percobaan membunuh orang saat beribadah apa kurang tegas untuk contoh perampasan hak hidup dan beragama? Kenapa persoalan penyerangan gereja di sleman pada minggu pagi beberapa minggu yang lalu kalah antusias dibicarakan dari pada urusan cadar?

Untuk orang yang belajar di fakultas MIPA dan tak begitu paham tentang  komunikasi dan media, saya hanya bisa mbatin demikian. Kenapa diskusi sampai sosial media kita seperti ini.

Wallahu A’lam
Rabu, 21 Maret 2018
Posted by bakhru thohir
Tag :

Golongan Mahasiswa Menukil Imam Ghazali

 

Dalam kesempatan solat jumat yang tak sekalipun merasakan ngantuk saat khotib berkhutbah adalah hal pertama yang harus disyukuri. Hari ini, jumat 2 februari 2018, saya berkesempatan solat jumat di masjid kampus UGM. Dalam kesempatan ini, saya mendengar dengan cukup detail apa yang disampaikan khotib, meskipun ada beberapa kata berbahasa arab yang terlupakan.

Hal yang perlu disyukuri untuk yang ke dua adalah isi dari khutbah yang saya kira berhubungan sekali dengan kondisi akademik kampus minggu ini. Untuk mahasiswa UGM, minggu ini adalah minggu yang diisi dengan penantian nilai hasil belajar semester sebelumnya dan mengisi rencana kuliah semester mendatang.

Dalam khutbah, khotib menjelaskan derajat manusia tentang kualitas hubungan kehidupan dunia dan akhirat yang menukil klasifikasi dari Imam Ghazali. Imam Ghazali membagi kualitas manusia menjadi 3 golongan. Diurutkan dari yang paling rendah adalah mereka yang rugi, disusul dengan yang beruntung dan yang terakhir atau yang paling tinggi adalah manusia yang telaten.

Manusia yang rugi adalah manusia yang terbujuk oleh dunia sampai melupakan hidup setalah mati. Lalu manusia dengan kategori beruntung adalah manusia yang tak terbujuk dunia tapi bekal juga tak terlalu cukup, tapi mereka masuk dalam keselamatan, karena keberuntungan, keberuntungan itu bisa hadir dari sesuatu yang tidak disadari. Dan yang terakhir adalah kategori manusia yang telaten, manusia telaten adalah golongan manusia yang mempersiapkan bekal dengan cukup, sehingga dapat hidup baik setelah mati. Mereka fokus mempersiapkan akhirat, tapi tak lupa dengan dunia yang juga perlu biaya.

Mungkin banyak dari kita yang akan memilih menjadi manusia dalam kategori telaten. Bisa karena ingin di posisi derajat paling tinggi atau juga karena memang ingin mempersiapkan hidup di dunia dan di akhirat tanpa terpikirkan menjadi yang terbaik. Terminologi ini saat kita tarik dalam situasi belajar kita, mungkin kira-kira hasilnya akan seperti ini: rugi adalah manusia yang tak belajar dan tak mengerti, beruntung adalah belajar tapi tak begitu paham tapi hasil belajar kadang-kadang masih ada yang bagus, dan telaten adalah mereka yang giat belajar dan mengerti apa yang telah dipelajari. Sementara hidup enak di akhirat bisa diartikan dengan nilai hasil belajar.

Orang yang rugi tentu akan mendapat nilai kecil dan orang yang telaten akan mendapat nilai besar. Sementara untuk yang beruntung masih tak dapat dipastikan hasil belajarnya. Dengan usaha-usaha yang dibuat, tentu hasil akan sesuai dengan apa yang kita usahakan. Kalau kita seadanya dalam belajar, ya akan mendapat hasil yang seadanya. Kalau kita giat belajar, ya akan mendapatkan sesuatu yang banyak. Lalu mari kita ingat-ingat lafadl doa kita, adakah diantara jajaran doa kita yang memohon hasil jujur dan sesuai kualitas usaha kita dan disesuaikan dengan pemahaman kita?

Kalau belajar kita masih dalam kategori seadanya, apakah kita akan berdoa “Ya Tuhan, berikan hamba nilai yang sesuai dengan usaha hamba” ataukah kita selama ini memohon-mohon mendapat nilai yang baik bahkan sempurna dengan usaha yang sangat seada-adanya?

Kalau selama ini kita masih seperti ini, bukankah kita malah bersedia menjadi golongan yang beruntung saja dan tidak menginginkan masuk dalam golongan telaten?


Wallahu A’lam
Menolak berhenti membaca!
Rabu, 07 Februari 2018
Posted by bakhru thohir
Tag :

Mencium Tuhan di Perayaan Natal

[Dokumen dari @Hai_digna]
Beberapa minggu lalu, salah satu organisasi kemahasiswaan untuk mahasiswa program S-2 Ilmu Kimia UGM mengadakan perayaan natal 2017. Cukup atau bahkan terkesan dipaksakan, perayaan dilakukan jauh sebelum tanggal 25 Desember dikarenakan terbentur sistem bahwa semua program kerja harus selesai sebelum musyawarah besar. Namun setelah mengikuti kegiatan, bukan suatu penyesalan yang hadir, tapi rasa gembira dan melegakan jiwa.

Banyak pengalaman yang menarik setelah mengikuti perayaan natal saat itu, dari dituduh pindah agama karena hadir ke acara perayaan natal selepas solat asyar dan di tengah-tengah kegiatan harus izin untuk solat magrib, hikmah yang dapat diambil dari khutbah yang disampaikan pendeta sampai gemetarnya tubuh saat mengikuti kegiatan.

Siapa sangka, di acara perayaan agama orang lain, aku malah menemukan sebiah hikmah serta makna-makna kerumitan dunia dan bermuara pada kelegaan yang luar biasa. Apakah akan terkategori sesuatu yang buruk saat kita mengenal cinta Allah bukan di forum pengajian atau majelis keagamaan yang dilakukan di masjid, tapi malah di perayaan natal. Untuk orang yang tak begitu pahan tentang perbandingan agama, aku hanya bisa bilang “Ah entahlah, yang penting aku lega dan bahagia”

Aku sudah lupa, bagaimana asal-muasal aku menerima informasi ini, tapi hasil informasi itu masih aku ingat sampai sekarang. Menjawab bertanyaan “Apakah ada cinta karena Allah? Kalau ada, bagaimana bentuknya atau bagaimana melakukannya?”

Cinta adalah suatu rasa di mana saat kita melakukannya akan memberikan hal-hal yang baik pada siapa saja yang kita cintai. Dee lestari menyebutkan bahwa cinta adalah hidup. Seperti yang aku sebutkan di muka, cinta adalah memberikan hidup pada siapa pun yang kita cintai.

Lalu saat cinta disandingkan dengan teologi, disambungkan dengan pertanyaan  yang tadi diajukan, bagaimana cinta karena Allah itu? Banyak makna dan spekulasi yang dikeluarkan. Paling mainstream, orang-orang menyebutkan bahwa cinta karena Allah adalah saat cinta itu membuat kita semakin rajin beribadah. Namun sepertinya banyak yang menolak dari argumen ini.

Berbeda dengan jawaban sementara di atas, hal yang aku dapatkan dari forum perayaan natal menyebutkan bahwa cinta persepektif teologi yang membahas cinta karena allah bukanlah sesuatu yang perlu dicari. Karena saat kita cinta, sudah pasti karena Allah, kalau tidak karena Allah, itu bukan cinta!

Penjelasannya seperti ini, saat cinta itu karena Allah kita tak akan mengunakan sifat-sifat makhluk dalam memandang cinta. Apa itu sifat makhluk? Ya bisa kita tengok diri kita sendiri, kita butuh makan, minum, bernafas, melihat, istirahat, dan seterusnya, itulah sifat makhluk. Kita ambil contoh melihatnya makhluk. Kita menyukai seseorang karena parasnya, kita lihat kemolekan tubuhnya, kesempurnaan wajahnya, lalu saat penglihatan kita hilang alias sifat makhluk kita untuk melihat hilang, apakah kita masih menyukainya? Saat kita kendur dalam sayang padanya, di situ terindikasi kita tidak sedang cinta. Atau semisal orang yang kita sebut cantik tadi diangkat kecantikannya, sehingga apa yang dapat kita lihat bukan cantik lagi, apakah kita masih menyukainya? Saat kasih bisa terus berjalan, barulah terindikasi bahwa yang selama ini dilakukan adalah cinta, bukan menafsuinya.

Setiap orang yang hadir dihadapan kita adalah utusan Tuhan, karena utusan Tuhan, kita harus memperlakukannya dengan baik, karena saat kita jahat pada utusan Tuhan, secara tidak langsung, kita juga jahat pada Tuhan. Sehingga berperilaku baik pada siapa saja yang Tuhan kirimkan pada kita adalah salah satu makna dan bentuk cinta karena Tuhan yang lain. Saat ini semua tak terjadi dan membuat kasih-kasih yang kita sebarkan meredub, nampaknya memang selama ini kita tidak sedang mencintai, tapi hanya sekedar menafsuinya.

---

Satu hal lain yang sayang kalau tak dibagikan adalah tentang pengalaman tubuh yang bergetar saat mengikuti acara perayaan natal.

Untuk orang yang memiliki kebiasaan menikmati musik dengan menaruh perhatian pada nada terlebih dulu dan menelisik lirik kemudian, sering memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan ketika bertemu nada yang bagus dan masuk ke hati. Seperti cerita aku bertemu barasuara, efek rumah kaca, muse dan masih banyak musisi lain.

Saat perayaan natal, sudah wajar dilantunkan lagu-lagu pujian. Irama dan nada yang dimainkan sangat menyenangkan. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan telingaku, biasanya aku cukup selektif mengidentifikasi dan menjatuhkan pilihan bahwa musik ini tergolong asik atau biasa-biasa saja, tapi saat acara itu, aku mengidentifikasi semua lagu yang dinyayikan sangat menarik. Dan puncaknya saat lampu dimatikan dan lilin-lilin dinyalakan, tanpa sengaja tubuhku bergetar gak karuan. Hati bergetar dan sedikit demi sedikit air mata menetes, ku coba untuk menahan tetesan air mata itu, agar terlihat biasa saja. Tapi gagal juga usahaku, beberapa kali air mata tetap menetes.

Sejujurnya aku tak tahu apa yang sedang dinyanyikan saat itu, kerena sungguh tek pernah sekalipun aku memperhatiakn teks-teks lirik. Sangat menyenagkan. Begitu syahdu dan mengetarkan jiwa. Memang bukan kali pertama aku bergetar saat mendengar lagu, setidaknya ada dua nada yang pasti mengetarkan diriku saat lagu itu dilantunkan, pertama lagu Indonesia Raya dan kedua Nada Marhabanan saat dzibaan. Dan sepertinya ini jadi yang ketiga.

Belakangan aku baru tahu lagu apa yang mengeratkan diriku setelah mengkonfirmasi pada teman senagkatan, bahwa yang dinyayikan saat itu adalah lagu Holy Night (malam kudus).

Apakah kalian pernah memiliki pengalaman seperti yang aku rasakan?

Wallahu A’lam

Selamat natal, aku mencintai kalian semua


Jogja, 10 Desember 2017
Senin, 11 Desember 2017
Posted by bakhru thohir
Tag :

Definisi: Sebuah proses konstruktif atau destruktif

[Sumber: teknonetwork.com]

Entah mengapa aku lebih senang menyebut proses kita selama hidup ini dengan “mengungkap teka-teki Tuhan”. Aku tak ingat ini bermula dari omongan orang, hasil perenungan selama di kamar mandi atau membaca, tak ingat pasti, karena sedikitnya hal berfaedah yang aku lakukan dalam hidup. Yang aku percayai adalah Tuhan telah membuat seluruh alam semesta ini dengan sangat sempurna, dari bunga yang mekar di musim semi sampai perihal kecelakaan dan musibah. Semuanya adalah sesuatu yang sangat sempurna, kemudian kita mulai merangkai dan menerka-nerka maksud Tuhan di balik setiap kejadian yang kita alami.

Setidaknya itu garis besar kita dalam hidup yang aku percayai dan dengan berjalannya waktu, pengamatan-pengamatan itu terpecah menjadi sebuah studi-studi kecil. Ada yang memilih fokus pada fenomena-fenomena alam, ada pula yang menaruh perhatian pada interaksi antar manusia.

Menurutku, sejak manusia pertama ada, entah itu versi adam atau versi manusia yang jalan dan bentuk tubuhnya seperti kera. Saat batu dilempar ke atas pasti dia akan jatuh lagi ke bawah. Sehingga fenomena itu bukanlah hal baru dan tak membuat orang yang melihat peristiwa itu terperangga, dan membuat manusia bertanya-tanya apa penyebab batu itu jatuh. kemudian ada sebuah momentum dimana seorang Newton menyebut penyebab peristiwa itu dipengaruhi oleh adanya gaya grafitasi dan kemudian mendefinisikanlah apa itu grafitasi.

Di suatu hari yang lain, hidup rukun antar umat manusia sudah terjadi di Tanah jawa. Konon kabarnya saat Jawa masih diduduki kerajaan maha besar Majapahit, kehidupan antara pemeluk iman satu dan yang lain dapat hidup rukun. Tak ada pemeluk iman ini menghujat dan menjelek-jelekkan yang lain. Semua berjalan baik-baik saja dan selaras bersama harmoni yang ada. Kemudian barulah orang mendefinisikan bahwa interaksi yang dibangun Majapahit adalah sebuah tindakan toleransi.  

Definisi-definisi ini muncul seiring dengan hasil pengamatan manusia pada setiap objek, sehingga muncul istilah-istilah baru, seperti kata HoAX, Kepo, Swafoto dan lain-lain. Kata-kata yang barusan saya sebutkan nampaknya belum ada saat era 90an dan kegiatan mendefinikan ini akan selalu berjalan sesuai dengan berkembangnya pola hidup.

Selanjutnya, dari proses-proses kita mendefinisikan intisari hidup ini. Apakah ini adalah sesuatu yang mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik atau malah sebaliknya.

---

Manusia mengekspresikan isi hati dengan berbagai cara, ada yang disampaikan lewat tutur kata, tulisan-tulisan sampai interaksi pada sesama yang lain. Apa yang ada di dalam hati, mulai dari senang, acuh sampai benci dapat tercitra melalui perilaku manusia. Saat orang-orang merasa benci, tentu gerak-gerik dan gestur tubuh akan berbeda dengan orang yang sedang jatuh cinta. Apa yang dikeluarkan dari mulutnya tentu pula berbeda. Tiap orang juga memiliki ciri khas masing-masing dalam mengungkapkan itu, ada yang memilih jalan kata-kata, tindakan bahkan hanya memendam.

Gerak-gerik yang dikeluarkan manusia untuk merespon kondisi lingkunagan kemudian mulai diamati dan dipelajari. Para pengamat ini mulai menaruh perhatian pada pola-pola kehidupan manusia, mengklasifikasikan dan menyusunnya menjadi sebuah cabang studi baru.

Beragam cara manusia mengekspesikan isi hati, seperti yang diungkapan di atas, salah satunya adalah dengan cara tutur dan tulis. Dalam ekspesi itu memiliki suatu kekhasan dengan ekspresi manusia dalam menghadapi situasi yang biasa-biasa saja. Ekspresi tutur tadi ditulis dengan bahasa yang indah, lugas, tajam dan dengan makna yang dalam. Kemudian para pengamat mulai menyebut bahwa ekpresi-ekspesi tadi adalah syair dan puisi.

Puisi-puisi mulai terdefinisi, puisi adalah kata-kata yang berbeda dengan obrolan setiap hari. Definisi-definisi mulai muncul bahwa yang disebut puisi ini harus begini dan begitu, harus ada unsur ini dan itu. Tersusunlah definisi, cara sampai guna puisi dan syair. Kemudian apa yang telah didefinisikan dipelajari dan membuat satu lingkar studi yang baru.

---

Di hari yang lain, saat api masih dapat membakar daun, saat air masih dapat membeku, saat udara masih segar untuk dihirup. Ada beberapa orang yang bertanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan fenomena-fenomena ini, kenapa bisa terjadi seperti ini dan siapa yang berperan disana. Seperti pada soal puisi tadi, muncul pula para mengamat yang akan mencari dan mempolakan setiap fenomena yang terjadi. Pengamat ini mulai mencoba menjawab alasan kenapa api bisa membakar daun, kenapa air bisa membeku, kenapa udara terasa segar dan fenomena-fenomena alam yang lain.

Salah satu pertanyaan yang muncul adalah, apa sebenarnya penyusun dari materi yang diamati ini. Diawali dengan hipotesa sederhana yang muncul beribu tahun yang lalu “saat materi itu dipotong sampai ke ukuran paling kecil dia akan berhenti pada satu buah atom, atom adalah materi terkecil dan tak dapat dibelah lagi, dan atom-atom yang sama akan membentuk benda yang memiliki sifat yang sama”. Dan definisi untuk materi tadi pun akan terus berkembang.

Kemudian orang mulai mempelajarinya, mulai mengenal apa itu karbon, besi, emas, oksigen dan lain sebagainya. Pemahaman pada materi terkecil pun terus bergerak, dari pemahaman lama yang menyebutnya atom seperti bola sampai yang terbaru sebagai mekanika gelombang. Definisi-definisi mulai muncul dan membuat sebuah lingkar studi yang lain lagi.

Klasifikasi tertaut dengan klasifikasi yang lain. Definisi bertaut dengan definisi yang lain. Muncul definisi baru akan muncul pula lingkar studi baru. Bahkan cara berfikir pun terdefinisi dan membuat lingkar studi yang lain, meskipun pada mulanya cara berfikir selalu digunakan dalam melihat berbagai fenomena yang terjadi. Sampai yang terbaru, banyak pula orang yang hanya sibuk menghafal definisi tanpa tau bahkan lupa pada asal mula muncul definisi ini.

Definisi-definisi yang terhafal dan tercerabut dari akar munculnya definisi adalah keniscayaan. Kemudian setelah muncul pengamat, sekarang bermunculah penghafal, meskipun tetap mengakui diri sebagai pengamat. Dan para penghafal ini kemudian memanfaatkan apa yang dihafal tadi menjadi sebuah produk-produk baru, dan yang pasti sudah tercerabut dari akar definisi. Dan dari fenomena-fenomena ini muncul sebuah definisi baru “para penghafal ini pengetahuannya hanya seperficial”. Dan kegiatan ini terus berkembang. Pasti!.

Setelah puisi, atom, grafitasi dan toleransi. Setelah ini kita hanya tinggal menunggu akan bermunculan definisi-definisi baru kemudian munculnya lingkar studi baru.

Lalu, adakah tindakan yang muncul diawali oleh definisi, yang sama sekali berbeda dengan opini yang ada di tulisan ini, yang mengatakan bahwa definisi selalu muncul setelah tindakan? Perlu waktu lain untuk mendiskusikan hal ini.

Wallahu A’lam


Sleman, 5 November 2017
Minggu, 05 November 2017
Posted by bakhru thohir
Tag :

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -