Aku mau menyalahkan ambulans yang membuat gupuh karena menyalakan sirine di saat jalanan macet

[Sumber Gambar: nist.gov]

Di sebuah video yang pernah viral di yutup, isi kontennya tentang bagaimana respon pengendara jalanan umum dalam merespon ambulan yang sedang terburu-buru ke rumah sakit dengan menyalakan sirine yang seolah-olah ambulan itu sedang berkata “Woe, minggir sek woe, iki enek wong ape sekarat!!!”. Sengaja kreator video itu mengkomparasi beberapa perilaku pengguna jalan dari Indonesia dan juga dari negara-negara lain. Negara lain yang disebutkan tentunya adalah negara yang masyarakat “kita” pada umumnya menyebut negara maju. Kalau tidak salah antara lain: Jepang, Inggris, Cina, India dan satu dari Amerika latin.

Tentu teman-teman semua sudah menebak, apa yang membuat video itu laris penonton. Yap, menggambarkan buruknya pengguna jalan Indonesia dalam merespon ambulan yang lewat, dan dikontraskan dengan baiknya negara lain dalam merespon ambulan yang akan lewat. Malahan, dalam video itu, si pengendara jalan umum di indonesia tidak mau memberikan jalan pada ambulan dan sempat-sempatnya beradu argument dengan pengendara lain dan supir ambulan perihal ketidak mauannya memberikan jalan pada ambulan tersebut. Dan pada ujungnya, pengendara yang nakal itu mengeluarkan kata sakti "saya pejabat di satuan ini lo!"

Pokoknya, banyak sekali bahannya kalau kita ingin nyacati Indonesia, apalagi ketika dikontranskan dengan negara-negara yang disebut maju. Banyak lahan yang bisa dipisuhi atas luapan protes kita. Dari kualitas pelayanan birokrat sampai gaya hidup orang-orang di negeri ini yang gak mbois blas ketika  dikontraskan dengan “ilusi” hidup di negara maju.

Dalam dialog soal ambulan ini, sebenarnya aku juga sebal pada sirine. Sirine ya, jadi tidak hanya soal ambulan, mobil polisi sampai truk kompi TNI juga aku sebal-sebal gemes gitu. Karena aku punya cerita menjengkelkan tentang itu.

Suatu ketika aku pernah dibuat sebal oleh sirine ambulan. Bagaimana tidak, aku memergoki sebuah ambulan berjalan santai dan tidak menyalakan sirine, alias ambulan itu ya jalan-jalan aja, tidak sedang bertugas dan dalam kondisi genting. Ehh, ternyata, saat masuk ke jalan yang cukup padat dan mendekati perempatan yang ada lampu lalulintasnya, sekonyong-konyong ambulan jahanam itu menyalakan sirine, ya tujuannya tak lain dan tak bukan agar mendapat privilege untuk bisa menerobos jalan yang padat dan lampu lalu lintas.

Jahanam betul kan ini. Memainkan sirine yang seolah-olah di dalam sana ada korban yang butuh penanganan segera, eh tibaknya sirine itu hanya digunakan sebagai pemuas nafsu birahi si supir yang enggan antre di jalanan yang padat.

Kalau ingin cukup disempelkan, kira-kita kata mutiaranya jadi begini “banyak lo orang yang sekonyong-konyong memanfaatkan posisinya untuk dapat kemuliaan sesaat, untuk memuaskan nafsu birahi”

Salam

Jumat, 15 Februari 2019
Posted by Unknown
Tag :

Kesebalan pada proses penelitian sampai publikasi

[Sumber Gambar: https://alihamdan.id/metode-penelitian/]

Entah kepada siapa misuhku ini akan kuhaturkan,

Dua tahun yang lalu aku diberitahu sebuah kepercayaan dalam merespon sebuah publikasi, yang mana diceritakan bahwa “publikasi bisa jadi salah, tetapi dia tak mungkin berbohong”

Saat itu aku benar-benar sumringah bahwa orang yang mempublikasi sebuah hasil penelitian memegang kaidah kejujuran, sesuatu yang sebenarnya cukup sulit ditemui saat ini. Selain sumringahnya karena mendapati fakta bahwa para ilmuan memegang kaidah kejujuran, saat itu aku merasa bahwa masa depan ilmu pengetahuan adalah sangat cerah, karena sifat dari publikasi yakni selalu berusaha menemukan hal yang benar-benar baru, selain itu sifatnya yang dekat dengan kebiasaan respon, kritik, dan komentar pada penemuan terdahulu dengan menyuguhkan sebuah penemuan yang memiliki kualitas yang lebih baik atau pemutahiran penemuan sebelumnya. Sungguh cermin kehidupan yang madani dalam berpikir.

Tetapi,

Minggu lalu, teman sekaligus dosen pembimbingku mengakatakan bahwa “jangan terlalu percaya pada publikasi, karena para ilmuan tidak akan secara cuma-cuma memberikan resep dalam penemuan terbarunya”

Dan seketika hatiku runtuh ketika menemui fakta “baru” itu. Bahwa, banyak di antara para ilmuan yang menulis sesuatu tidak sesuai dengan kejadian di lapangan. Berbedanya antara kejadian yang sebenarnya dengan apa yang dipublikasikan , katanya, dikarenakan ketidak inginan membeberkan cara terbaik dalam membuat sebuah penemuan terbaru dan mengejar kurva hasil yang indah dilihat.

Pada kasus tidak ingin membeberkan resep rahasia dalam membuat penemuan baru, hal ini sering ditemui pada praktik publikasi bidang sintesis, karena keterbaruan dalam mensintesis sebuah materi baru benar-benar menjadi sesuatu yang mahal, minimal di dunia sains. Sehingga para penemu tidak dengan jelas , atau mungkin dengan benar juga, menjabarkan apa yang terjadi di laboratorium dan apa yang ditulis di publikasi, kembali seperti tadi, para ilmuan tidak ingin cuma-cuma memberikan resep dalam membuat sebuah bahan baru. Jadi kalau bahasa jalanannya publikasi bidang sintesis kurang kebih seperti ini “Hei, gue dong, sudah bisa buat ini, baru lo ini, caranya kayak gini - - - ek ek ek, tapi gak gitu-gitu banget si, wkwkwk”

Sementara untuk kasus mengejar hasil yang baik a.k.a kurva yang indah. Hal ini sering ditemui pada proses pemutakhiran sebuat temuan lama, meningkatkan performa atau mencoba menerapkan hasil penemuan sebelumya. Misal dalam teori disebuah bahwa reaksi pembuatan senyawa Asitrunoneion akan menghasilkan 5 gram dalam 5 hari, tetapi dalam praktiknya memerlukan waktu 6 hari untuk memenuhi kebutuhan target 5 gram, ada sebagian orang yang tega menulis berhasil membuat 5 gram dalam waktu 5 hari, hanya untuk mengejar kurva yang baik nan indah a.k.a sesuai dengan teori.

Kesebalan yang aku alami selama tahap main-main di laboratorium selama ini juga perihal takutnya para peneliti pemula pada kata “gagal dan tidak sesuai dengan teori” seakan-akan kalau apa yang dibuatnya tidak sesuai dengan teori, kemampuannya akan dicap jatuh-sejatuh-jatuhnya.

Selain itu, kesebalan terakhir yang aku ingat saat menulis ini adalah soal keterikatan waktu/batas waktu penelitian/terlalu tersekat dan terbatas waktu untuk bisa memaksimalkan laboratorium dan biaya penelitian yang amat mahal. Bayangpun, saya bayar SPP hanya untuk input KRS, tidak ada kuliah yang saya ambil, dan di waktu yang sama, saya juga membayar sendiri seluruh biaya laboratorium dan bahan untuk penelitian yang mahal itu. Tapi mungkin saya saja yang tak tau soal regulasi SPP universitas, tapi di gotak-gatok sederhana kayak gitu, wes mbuh, ra mashok blas.

Untuk kesebalan saya pada orientasi belajar, itu kapan-kapan lah kita rasani.

Demikian rasan-rasan kali ini, semoga kita semua tidak merasa dan ingin jadi yang paling suci. Amen

Wallahu A’lam []

Rabu, 13 Februari 2019
Posted by Unknown

Review buku “Fenomenolaugh”: Memperbanyak Menanam humor, agar memanen tawa dan menuai hikmah


[Cover buku Fenomenolaugh, dokumen penulis]
Tidak ada sebuah komedi tanpa didahului oleh apresiasi. Kurang lebih seperti itu, hal yang aku pikirkan pada pertengahan 2014 lalu. Sebuah pemahaman yang bergelayut di pikiran dalam merespon fenomena-fenomena sekitar. Perkembanganku dalam merespon soal konsep-konsep komedi tak berkembang, kurang lebih sudah 4 tahun dan pemahamanku tentang komedi tidak banyak bergeser dari hal yang aku paparkan di muka. Mulai membaik ketika akhir-akhir ini, saat dunia stand up comedy begitu heboh di belantika dunia hiburan Indonesia. Makna komedi, fungsi sampai teknik banyak dipaparkan dalam suasana penjurian ajang pencarian bakat stand up comedian yang digelar di stasiun teve swasta nasional. Selebihnya, jarang sekali ada yang membincangkan dunia cekikikan ini dengan serius.
Buku itu diberi prolog dari cak Lontong, dan dari prolog itu saja telah aku dapatkan sebuah jawaban tentang beberapa keresahanku. Beliau sebagai pemberi prolong menuliskan “Daya apresiasi seorang memengaruhi taraf selera humornya”. Seketika aku menyadari, memang jarang sekali aku menemui tulisan yang membincang perihal komedi dengan serius. Sejauh ini hanya tulisan dari Gus Dur yang menjadi pengantar buku mati ketawa ala rusia dan tulisan yang berjudul “melawan melalui lelucon” yang diambil dari buku tuhan tidak perlu dibela yang menjelaskan perihal humor. Dalam tulisan itu, Gus Dur menjelaskan perihal fungsi-fungsi komedi, terutama saat digunakan dalam melawan sebuah kekuatan tertentu.  Dari sanalah muncul satu kelebihan buku ini, menjadi salah satu literatur tentang memahami dunia komedi, setidaknya buatku yang jarang membaca ini.
Setelah membaca buku ini, kemudian aku baca lagi judul bukunya “Fenomenolaugh” lalu aku menarik nafas dalam dan mulai dapat menerka-nerka tentang dunai tertawa disekitar kita. Buku ini sangat mewakili, merespon dan menarasikan tentang fenomena tertawa yang setiap hari kita alami. Buku ini berisi 3 bab, antara lain akar rumput humor, humor di sekitar kita dan menilai dan memaksimalkan humor. Dalam menjelaskan fenomena tertawa yang dibahas dalam 3 bab ini sebenarnya telah cukup mewakili dan menjawab keingintahuan tentang fenomena-fenomena yang berseliweran di dalam humor. dalam membaca buku ini, permulaan kita disuguhi tentang makna dan sebab sebuah fenomena tawa, seperti yang dinarasikan Triana Sari Fadhilah “Humor dapat membuat kelucuan apabila mengandung satu atau lebih dari empat unsur; kejutan, mengakibatkan rasa malu, ketidakmasukakalan dan membesar-besarkan masalah”. Setelah membaca petikan ini, kita menjadi mafhum kenapa saat ada teman kita terpeleset, kita bisa otomatis tertawa, karena fenomena itu mengandung setidaknya dua kunci humor yakni kejutan dan mengakibatkan rasa malu.
Dari bab ini juga kita akan mendapatkan bahwa humor itu terikat ruang dan waktu. Tidak semua humor akan menghasilkan tawa ketika diletakkan di ruang dan waktu yang tidak tepat. Bahkan di waktu dan ruang yang sama, saat penyampai humor adalah orang yang berbeda, hasil tertawanya bisa berbeda. Dari hal ini, bahkan bisa dikatakan bahwa selain terikat ruang dan waktu, humor adalah hal yang otentik dari setiap orang. Pada tulisan dari Ferlynda Putri Sofyandari, kita juga disuhugi sebuah fungsi humor, yakni sebagai media menaikkan popularitas, mengategori kelompok dan menjatuhkan kelompok lain.
Pada bab selanjutnya, kita disuguhi banyak sekali fenomena humor tematik, dari humor di teve, pangung pertunjukan, jalanan sampai diberbagai isu-isu yang sensitif. Octandi Bayu Pradana menjelaska dengan cukup detail tentang fenomena parodi, lalu ada Nia Aprilianingsih yang menjelaskan perihal humor pada layar pagelaran yang ada di nusantara, dan masih banyak yang lain. Pada bab ini pula, kita dapat menemukan sebuah fenomena tertawa yang muncul dari hal-hal yang sensitif seperti munculnya tawa dari tema seperti suku, ras sampai bentuk anatomi tubuh. Bagusnya, tulisan ini tidak terikat pada variabel setuju atau tidak pada munculnya tertawa pada kasus SARA tersebut, tetapi pada variabel “kenapa ada yang tertawa saat komedi disematkan dan diolah pada hal-hal yang sensitif”. Dan pada babak akhir buku ini, menceritakan perihal hubungan humor dengan norma dan nilai. Sehingga, buku ini memang sudah cukup gamblang menjelaskan tentang fenomena tertawa.
Meskipun, ada beberapa tulisan yang lepas dari mendalami fenomena tertawa, seperti tulisan yang terlalu fokus pada pembahasan soal dunia jurnalis dan etikanya, atau terlepasnya pembahasan humor dan teralih pada dalamnya pembahasan soal etika dunia pertelevisian. Namun tetap saja, buku-buku setema dengan Fenomenolough ini perlu dan penting untuk diproduksi. Karena saat ini, dunia komedi benar-benar digerus atau mungkin dicekal untuk disampaikan karena dalih “ketersinggungan”.
Banyak orang yang menyalah pahami makna komedi. Komedi yang merupakan salah satu cara menyampaikan opini, sudah bergeser menjadi hanya sekedar pagelaran haha hihi. Diantara mereka sudah  lupa bahwa ada komedi yang disampaikan untuk maksud dan tujuan tertentu, meskipun perlu diakui dengan jujur pula, bahwa ada komedi yang tujuan utamanya hanya untuk mengais tawa. Sehingga saat komedi (yang memiliki maksud luhur) menerjang sesuatu yang sensitif dan dianggap sakral, orang-orang yang memahami komedi sekedar lelucon akan secara serampangan mencemooh sampai mengancam karena diawali rasa tersinggung dan merasa dihina. Sehingga tepat pula kalau saat ini mengunakan adagium yang dipopulerkan grup lawak warkop DKI “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”, dan ayo perbanyak literasi soal komedi, agar semakin banyak orang yang sadar bahwa dalam menciptakan tawa perlu perenungan yang sangat serius.
Wallahu A’lam
[]

Sabtu, 09 Februari 2019
Posted by Unknown
Tag :

Komedi memang nakal, tapi mereka bisa bertanggung jawab, Harusnya

[IG: @ebspict]

Perihal obrolan dan praktik komedi yang beberapa waktu lalu sempat gonjang-ganjing karena kontroversi –menurut orang-orang itu- yang dilakukan pasangan komedian Coki dan Muslim membuat obrolan kita menjadi ngeri-ngeri sedap. Bagaimana tidak, saat ini dapat banyak kita temui orang-orang yang terlalu mempermasalahkan sebuah opini yang disampaikan lewat cara komedi, membuat orang-orang sensitif lalu serta merta melaporkan hal-hal yang tidak disetujui yang seharusnya dapat dibicarakan dengan baik-baik. Namun, setelah datang ke acara stand up hutan akhir pekan lalu, membuatku berpikir ulang terkait mendudukan komedi sebagai jalan yang sah dalam menyampaikan opini atau komedi yang dibuat hanya untuk mengolok-olok seseorang dan menurutku itu tidak keren.

Setidaknya aku sudah dua kali hadir di acara open mic stand up comedy di Jogja ini. Satu, saat parade budaya dalam rangka pembukaan temu nasional GUSDURian. Dan yang kedua, saat acara stand up hutan yang diadakan stand up indo di hutan mangunan Bantul. Kedua acara itu memiliki aturan yang sama, yakni penonton dilarang merekam pertunjukan dalam bentuk apapun, bahkan berupa stori IG yang berdurasi 15 detik. Hal itu tak lain dan tak bukan adalah tindakan preventif dalam meminimalisir reaksi diluar tertawa (baca: berlebihan/persekusi) yang akan membahayakan komika saat komedi-komedi itu keluar ke pasar bebas.

Tentu saat komedi dari para komika keluar ke pasar umum bisa menjadi sebuah kontroversi baru dan menghambat karir para komika. Apalagi memang terang-terang ada beberapa pihak yang tidak suka akan hadirnya stand up comedy, terlebih saat materi yang dibawa cukup sensitif semisal agama. Sehingga para komika memang memiliki materi-materi khusus saat open mic di acara yang eksklusif seperti ini, materi yang dibawakan terkadang sangat sensitif dan berani. Materi-materi semacam ini tak mungkin digunakan dan sebarkan di pasar bebas semacam teve atau yutup. Tapi apa jadinya saat kita sudah datang ke acara eksklusif seperti itu, tapi tidak mendapatkan komedi kelas tinggi yang dapat membuat penonton berpikir ulang tentang komedi yang disampaikan, tapi hanya sebatar candaan olok-olok yang lazim ditemui di pertemanan anak SD. Perlukan ada aturan tidak boleh merekam saat pertunjukan, kalau yang ditampilkan hanya parade olok-olok?

Pembahasan akan saya mulai dari pertanyaan yang paling sering muncul setelah pembahasan komedi ini mulai naik daun.

Pertama-tama “bolehkah komedi membuat agama sebagai bahan bercandaan?”. Secara pribadi aku mengatakan boleh, sangat boleh. Menurut hematku, komedi hanyalah salah satu cara seseorang dalam mengekspresikan pendapat. Kalau kita melihat sebuah pengajian dari Kiai Anwar Zahid asal Bojonegoro, kita bisa dibuat tertawa terpingkal-pingkal dari awal pengajian sampai selesai. Apakah ceramah dari Kiai Anwar Zahid hanya terdefinisi sebagai pengajian atau bisa digolongkan juga sebuah komedi? Tentu bisa juga dikategorikan sebagai komedi, apalagi kalau melihat definisi komedi yang merupakan sebuah sandiwara (baca: premis) yang bermuara pada rasa bahagia (baca: tertawa). Komedi adalah cara yang digunakan Kiai Anwar Zahid dalam berceramah, ini terlepas dari komedi yang dibuat disengaja atau tidak oleh Kiai Anwar Zahid.

Di penceramah yang lain, ada yang mengunakan cara-cara santun dan membuat respon jamaah hanya mantuk-mantuk. Tarik contoh semisal ceramah Kiai Quraish Shihab, saat beliau berceramah, jarang sekali ada celetukan komedi, dan jamaah yang hadir dan sepakat dengan Beliau ya hanya mantuk-mantuk saja, tak ada yang memberikan respon tertawa seperti gaya komedi.

Kembali pada poin bahwa komedi adalah salah satu cara menyampaikan pendapat, kita bisa mulai dengan kembali meneguhkan bahwa opini bisa dikeluarkan oleh siapapun, apalagi kita berpijak di negara yang demoktaris, beropini di negeri ini malah terfasilitasi dengan baik, meskipun tentu ada batas-batas yang tak bisa diterjang begitu saja karena seperti itu lah ciri negara demoktatis, punya aturan main. Oke, dari sini kita bisa bersepakat bahwa segala opini, ide, gagasan, pemikidan dan apalah itu, bisa dibicakakan di negara ini asal tidak menerjang batas aturan yang berlaku.

Selanjutnya adalah soal cara menyampaikan ide-ide tersebut. Dalam hal ini ada banyak sekali cara yang dapat dilakukan, mungkin secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 yakni secara langsung dan tak langsung. Menyampaikan ide secara langsung semisal dengan ceramah atau membicarakan point utama tanpa aling-aling semisal “ayo kita solat”, ada pula cara langsung semisal dengan media poster dengan kata yang jelas, bisa juga dengan marah-marah, saya kita saat ada orang tua memarahi anak, ada pesan yang ingin disampaikan dan memang pesannya baik, tidak asal marah, semisal “anak kok susah banget dibilangin, ayo solat!!!”.  Untuk cara tak langsung ragamnya juga banyak, bisa berupa sindiran, gambar anekdot atau komedi. Tinggal kita bisa menempatkan setiap metode penyampaian opini dengan tepat secara ruang dan waktunya.

Apakah Kiai Anwar Zahid dan Kiai Quraish Shibah ada konten yang ingin disampaikan dalam setiap ceramahnya? Ya tentu ada, tapi disampaikan dengan cara yang berbeda. Itu yang perlu dicatat. Jadi, komedi mau memakai premis soal agama, suku, ras, budaya, dan apapun yang lain, itu sah-sah saja, asal memang ada pesan yang ingin disampaikan. Ya meskipun kadang-kadang komedi tak melulu soal menyampaikan opini. Komedi juga bisa menjadi sangat sederhana, yakni asal bisa tertawa.

Yang selanjutnya, ini adalah soal hasil pertemuan dan menyaksikan para komika open mic di acara stand up hutan akhir pekan lalu. Saya sudah sepakat dengan diri saya sendiri, bahwa komedi adalah cara orang menyampaikan gagasan, terlebih stand up cemody, sehingga di acara itu saya memang siap untuk tertawa dengan opini-opini dari yang komika utarakan, memang cukup tinggi ekspektasiku. Dan benar saja, materi-materi mereka sangat beragam, ada yang mengangkat kisah asmara, dunia setelah menikah, toleransi, politik, ketimpangan sosial, agama sampai soal selangkangan dan wanita.

Pada pertunjukan itu, aku sangat apresiatif pada komika yang berani mengulik soal agama, politik, ras dan ketimpangan sosial. Ada pesan yang ingin disampaikan dan memang perlu perenungan kembali setelah pulang dari acara itu. Namun sayangnya, frekwensi komika mengomongkan selangkangan juga tak kalah banyak, bahkan  kata-kata “kentu”, “ngewe”, “coli” dan kata-kata lain banyak dan sering kali terucap. Menjadi tidak apa-apa kalau memang ada pesan yang ingin disampaikan seputar dunia perempuan dan kesetaraan gender, soal argumen setuju tak setuju pada LGBT juga oke saja, tapi saat kata-kata itu diguanakan hanya untuk mengais tawa dan tak ada pesan yang ingin disampaikan, lalu apa bedanya dengan obrolan ngawur yang tak ada jeluntrungannya.


Pun demikian soal agama, bisa dong kita bercanda soal agama, tapi harusnya ada ilmu yang sip dulu yang menjadi latar belakang dari setiap premis dari gugatan-gugatan yang diajukan. Soal demokrasi, perempuan, ras, dan lain-lain pun sama. Komedi stand up menurutku harusnya tidak seperti komedi saat kita berseloroh ngawur di tongkrongan ,“woo gendut”, “woo kulit ireng”, “woo kriting”, dan kemudian teman-teman tertawa bersama karena merasa lebih superior dibandingkan yang dibully. Karena aku masih yakin bahwa kulaitas dari stand up comedy memang lebih baik dari sekedar dagelan basi yang mencari tawa dari kesusahan orang lain. Karena stand up comedy dipikirkan dengan kejernihan hati dan diledakkan dengan tertawa atas ironi yang dialami. Sayangnya banyak komika di stand up hutan yang mengais tawa dengan cara mengolok-olok tanpa ada opini yang dibawa, sangat berbeda ketika acara stand up di malam pembukaan temu nasional GUSDURian yang semua komika menampilkan opini tentang keberagaman.

Sehingga, perbedaan yang paling jelas antara dua open mic itu adalah pada pesan yang dibawa, sehingga saat ada peringatan tidak boleh merekam, sangat tidak worth it dilakukan pada acara stand up hutan. Karena kembali terbentur pada bentuk tanggung jawab.

Sekali lagi, himbauan untuk tidak merekam adalah sekedar tindakan preventif dari fenomena “membuat kontroversi”, yang artinya semisal materi-materi komedi eksklusif tadi bocor ke pasar bebas, tetap bisa dipertanggung jawabkan dengan berbagai argumen yang kuat dan matang. Bukan malah sebagai sistem imun dalam membicarakan hal yang tak bisa dipertanggung jawabkan.

Wallahu A'lam
Selasa, 27 November 2018
Posted by Unknown
Tag :

Sebuah Usaha Mengawetkan Ilmu Di Dalam Otak

[Sumber: kompasiana.com/marganda/]
Saya kira, saat ini tidak semua dari kita masih ingat tentang apa saja materi yang didapat saat belajar di SD dulu. Bisa jadi banyak diantara materi-materi itu telah dilupakan, baik dengan sengaja atau tidak sengaja. Bukan karena kita bergerak semakin bodoh, tapi saya kira lebih pada faktor karena ilmu itu tidak kita amalkan terus-menerus dan tidak menjadi topik perbincangan yang selalu didiskusikan setiap hari.

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa apa yang kita lakukan setiap hari, ya itulah yang kita kuasai. Aku percaya ini dan telah mengalaminya. Dahulu, saat aku diterima kuliah di jurusan kimia secara cuma-cuma, aku cukup was-was tidak bisa mengikuti materi kimia yang saat itu aku pelajari, tidak berlebihan karena memang aku membawa nol modal dari SMA tentang ilmu kimia ini. Tapi, salah satu seniorku pernah berujar yang bersumber dari pengalaman pribadinya, bahwa tidak perlu takut tidak bisa mengikuti dan memahami kuliah di kimia, karena saat kimia sudah menjadi kebiasaan dan kita baca setiap hari, hal itu akan serta merta bisa kita pahami, cukup nikmati saja prosesnya. Dan ya, meskipun aku tidak pintar-pintar amat soal kimia, bahkan jauh dari kata mengerti, tapi setidake aku sudah tidak gugup saat membincangkan kimia dengan orang-orang yang memang ketahuan dia pintar kimia.

Lalu, yang selain kimia apa kabar? Bahasa arab, PPKn, Geografi, Sejarah, Ekonomi, Fiqih, Akidah Akhlak dan mata pelajaran lain yang dulu juga aku pelajari. Masih ingatkah tentang hal-hal itu saat ini?

Saya kira sudah banyak berkurang, meskipun tidak sepenuhnya lupa. Dan kalau tak rasa-rasa, yang aku ingat sampai saat ini ya hal-hal yang masih aku lakukan, semisal tata cara solat dan wudhu, yang kalau tidak salah itu diajarkan saat masih sekolah di tingkat dasar.

Sistem sekolah kita mewajibkan siswa-siswinya untuk memahami segala hal, baru di penghujung SMA kita diarahkan kepada hal yang kita minati, ya itupun masih amat luas sebenarnya. Sehingga potensi lupa pada materi-materi yang telah lama semakin sulit dihindari.

Karena semakin banyaknya hal yang harus kita pelajari itu, tentu semakin sulit juga kita dapat mengingat semuanya, dan merawat ilmu-ilmu tersebut.

Lantas, apakah kita memang tak bisa hidup dengan segala ilmu-ilmu tadi?

Saya kira bisa, tapi tentu dengan sebuah usaha yang tidak mudah juga, yakni dengan terus menerus dipelajari, alias selalu ada pembacaan ulang terkait materi-materi yang telah dipelajari dulu-dulu.

Karena setiap hari, kita selalu menerima informasi yang baru, bisa berupa penglihatan atau pendengaran, sehingga sistem dalam tubuh kita pun hanya menyimpan sesuatu yang paling menarik atau paling kita butuhkan. Selebihnya mungkin akan disimpan di memori jauh kita (long term memory), atau bisa jadi sudah benar-benar kita lupakan. Contoh mudahnya, bisakah teman-teman menarasikan apa saja yang terjadi kemarin dengan detail dari bangun sampai tidur lagi? Lalu kemarin lusa dan kemarin lusanya lagi? Tentu sangat sulit kan, karena memang tidak semua dapat kita ingat, kecuali yang sengaja diingat atau menarik untuk diingat.

Lalu bagaimana agar kita bisa mengingat suatu hal dengan jangka ingat yang lama?

Bisa dengan terus dipelajari, didiskusikan, bisa juga dengan diposisikan menjadi hal yang penting dalam hidup dan yang paling mujarab menurutku adalah dengan selalu dilakukan dalam hidup.

Lah, ente belajar kimia, gimana bisa diterapkan dalam hidup, kan kimia serta ilmu-ilmu teori seperti fisika dan matematika gak tergolong ilmu praktis seperti tata cara berbuat baik kepada orang tua yang jelas-jelas bisa langsung kita lakukan?

Itu memang sekaan-akan benar, tapi kalau mau dicermati, kimia itu malahan sesuatu yang tidak mungkin bisa lepas dari kehidupan kita, sehingga mempelajari kimia bisa juga menjadi ilmu memahami hidup. Saat kita menyeduh kopi, bernafas, tidur, olahraga, dan lain-lain, semuanya ada proses kimia yang terlibat, kalau kita menyadari itu, ya tentu mengetahui kimia secara lebih, bisa menjadi modal yang sangat baik dalam proses memanusiakan manusia.

Setelah ini mari kita bahas tentang dekatnya kimia dalam hidup di tulisan khusus.

Sehingga, dalam proses selalu mengulang-ulang hal yang dipelajari, membuat aku mengamini bahwa guru itu pintar bukan hanya karena beliau-beliau itu mengerti tentang apa yang beliau ucapkan, tapi beliau selalu mempelajari hal itu secara berulang-ulang. Setiap hari, setiap minggu, bulan, semester dan tahun.

Lalu, bisakah ilmu itu terlupakan, hilang atau menguap? Ya bisa saja, kalau ilmu itu tidak dibaca ulang, didiskusikan kembali, tidak dipraktekkan dan dirawat dengan baik.

Sehingga, terus belajar adalah sebuah jalan yang dapat kita lakukan dalam mencintai dan
merawat ilmu. Wallahu A’lam


Kamis, 11 Oktober 2018
Posted by Unknown

Kalau GUSDURian tidak berpolitik praktis, apakah itu artinya GUSDURian mengajak kadernya golput?

[karya Miftahu Ainin Jariah, termuat di miftahuaj.tumblr.com/]

“Ini berasal dari spektrum gerakan Gus Dur yang sangat luas. Gus Dur itu kan membela petani di pegunungan kendeng dari industri yang ingin menghancurkan kehidupan mereka tapi juga mendampingi TKI yang sedang mengalami tuntutan hukuman mati, jadi banyak. Karena itu, kemudian ketika Gus Dur wafat, kita kebingungan bagaimana caranya merawat pemikiran Gus Dur, akhirnya kita pisahkan antara Gus Dur sebagai politisi dan Gus Dur sebagai pejuang demokrasi dan rakyat. Nah, Gus Dur sebagai pejuang rakyat dijaga oleh Jaringan GUSDURian oleh para GUSDURian, Gus Dur sebagai politisi ini diikuti oleh para kader politik Gus Dur. Yang hari ini membuat pernyataan adalah konsorsium kader politik Gus Dur yang ada di berbagai kelompok. Sementara Jaringan GUSDURian tetap pada jalur politik kebangsaan, tidak akan masuk pada isu-isu politik praktis/politik elektoral, tapi fokus pada nilai-nilai” kurang lebih seperti itu kalimat yang diucapkan Ibu Alissa Wahid saat diwawancarai oleh Metro TV dalam merespon deklarasi dukungan Barisan Kader Gus Dur (Barikade Gus Dur) dalam menghadapi pemilihan presiden 2019 sekaligus menjelaskan posisi GUSDURian di kancah perpolitikan Indonesia saat ini.

Dari apa yang disampaikan Ibu Alissa tadi, saya semakin mafhum bahwa manusia tidaklah materi satu dimensi, yang mana tidak mungkin ada orang yang hanya berperan di satu posisi dalam hidupnya. Tidak hanya Gus Dur, tapi kita semua. Berlaku bagi mereka yang menyebut dirinya sebagai seseorang yang memiliki peran khusus -misal, Mendaulat dirinya sebagai penulis, seniman, pejuang kemanusiaan, dll- atau yang tidak mendefinisikan jalan hidupnya.

Taruh contoh, dosen saya di kimia yang secara tidak kebetulan juga sebagai pengurus Muhammadiyah DIY, tentu kita bisa sebut beliau selain sebagai ilmuwan, beliau juga sebagai organisatoris bahkan bisa jadi sebagai kiai. Ada juga dosen saya yang lain, yang kebetulan punya CV. yang mengelola konversi minyak, selain sebagai ilmuwan tentu bisa disebut juga sebagai pengusaha. Dan ada juga ibu dosen saya yang sebelum berangkat ngajar masih sempat buatin sarapan untuk anaknya, selain sebagai ilmuwan beliau juga bisa disebut ibu rumah tangga juga kan.

Nah, keniscayaan inilah yang perlu kita sadari, bahwa kita memang hidup dan proses di banyak posisi dan peran.

Seperti yang sempat diobrolkan banyak orang kemarin, saat Ibu Yenny Wahid bersama Barikade Gus Dur -sekali lagi Barikade Gus Dur, bukan GUSDURian- mendeklarasikan dukungan untuk paslon nomor 1 di pilpres tahun depan, lalu orang mulai bingung. “Katanya gusdurian tak berpolitik praktis?”, “ini pasti bisa-bisanya keluarga Gus Dur memobilisasi masa untuk salah satu paslon”, “kok jarang-jarang, ini keluarga Gus Dur dengan terang-terang mendukung salah satu calon, dulu-dulu kok gak pernah”, dan lain-lain.

Dalam merespon hal-hal itu, kita bisa kembali kepada pemahaman bahwa manusia memang memiliki banyak dimensi. Yang kita perlukan adalah sadar tentang siapa yang mendeklarasikan itu dan sedang berperan sebagai apa?. Kemudian, tentu dapat membedakan antara GUSDURian dan Barikade Gus Dur, dan saya kira sudah banyak sekali tulisan yang menjelaskan tentang ini.

Contoh yang ekstrem, kan ya boleh-boleh saja Ibu Alissa Wahid selaku penjahit Jaringan GUSDURian menunjukkan siapa pilihan beliau di pilpres mendatang, itu hak beliau sebagai warga negara, bisa memilih dan dipilih. Tapi, saya sangat yakin, kalau hal itu terjadi, Ibu Alissa tidak dalam posisi sebagai penjahit Jaringan GUSDURian, tetapi beliau sebagai warga negara yang punya hak memilih.

Sehingga, untuk orang yang proses di GUSDURian, apakah bisa berpolitik praktis?

Ya tentu bisa, kan berpolitik itu hak setiap warga negara. Siapapun boleh untuk ikut nimbrung di politik elektoral macam itu, yang tidak boleh adalah mengaku-ngaku berpolitik mewakili GUSDURian apalagi menggunakan GUSDURian sebagai alat pendulang suara seperti “pilihlah saya, saya orang GUSDURian”, “saya mewakili GUSDURian”, “GUSDURian bersepakat mengusung saya dan mendukung paslon nomor sekian” dan-lain-lain. Karena jelas di kode etik GUSDURian, bahwa GUSDURian tidak ikut berpolitik praktis.

Jadi tentu silahkan saja semua kader GUSDURian berpolitik, itu malah hal yang bagus. Ikut berpartisipasi menentukan siapa pemimpin yang dikehendaki. Ikut menyimak apa saja yang ditawarkan para calon pemimpin, menentukan pilihan kemudian mengawasi siapapun yang terpilih. Saya kira kader Jaringan GUSDURian akan sangat baik memangku peran-peran semacam itu, karena mereka semua mengamalkan nilai-nilai yang ditelurkan Gus Dur, semisal pembebasan. Dalam nilai pembabasan ini, kader GUSDURian tentu bisa menilai para calon pemimpin ini pernah punya track record yang seperti apa, kemudian ditimbang-timbang mana calon yang lebih baik dalam hal tidak membatasi akses seseorang, kemudian saat terpilih diawasi dengan mencermati setiap gagasan dan gerakan yang dilakukan dalam memimpin, sesuai atau tidak dengan janji dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dan apakah GUSDURian mengajak untuk golput? Kan tidak berpolitik praktis?

Ya tentu tidak. Karena yang tidak berpolitik itu GUSDURian-nya, para kader GUSDURian kan tak hanya hidup sebagai GUSDURian, mereka semua punya peran sebagai warga negara juga. Memiliki hak untuk memilih, dipilih atau -mungkin- tidak perlu memilih.

Jadi, tak ada kepastian bahwa saat seseorang menyetujui suatu gagasan seseorang, akan otomatis menyetujui gagasannya seseorang yang sama di bidang yang lain. Bahkan kader Jaringan GUSDURian sendiri pun bisa saja tidak setuju dengan gagasan dan cara hidup Gus Dur, semisal dalam hal ngopi, Gus Dur suka minum kopi, tapi beliau tidak merokok, tapi banyak sekali ditemui penggerak Jaringan GUSDURian malah sebagai ahli hisab yang ulung dan juga penikmat kopi yang dahsyat.
Salam.


Sabtu, 29 September 2018
Posted by Unknown

Mencari Alasan untuk Bisa Berteman dengan Robot Tukang Repost Konten Dakwah

[Sumbe: pinterest.ca]
Ketika beberapa akun teman sudah berubah fokus tentang apa yang diunggah, menjadi penuh tausiah sampai bendera negara lain, sudah seperti akun buzzer politik. Saat itu aku bingung mencari alasan untuk apa aku ikuti teman-temanku itu di Instagram. Padahal awalnya ingin saling silaturahmi dan mengetahui kabar.

Awalnya memang hanya sebatas unggahan-unggahan sederhana. Tapi semakin kesini, intensitas, jumlah dan konten yang dimuat semakin memuakkan. Bahkan ada beberapa akun temanku yang nihil foto dirinya saat aku lihat feed instagram miliknya. Bukan karena gak pernah mengunggah fotonya, tetapi foto-foto yang dahulu ada kini telah pergi entah kemana. Semuanya telah berubah menjadi video dan gambar kampanye, ceramah dan kroni-kroninya. Telah hilang semua kenangan bersamanya, saat di mana kita sama-sama saling bercanda memberikan komentar pada unggahannya di sebuah foto kala itu.

Sejujurnya, kenapa aku mengikuti banyak akun teman di Instagram dari pada akun admin macam @sabdaperubahan, @NUOnline_id atau @Mokokdotco, memiliki alasan yang sederhana saja, Aku ingin tetap mengetahui kabar temanku. Dia sedang apa, di mana, melakukan apa dan meastikan tak ada yang kurang dari kebahagiaannya meskipun tidak sedang chat secara langsung.

Lalu saat semua konten akun instagram miliknya berubah menjadi penuh pengajian, lalu kabar apa yang bisa aku dapatkan? Kontennya pun tak jauh berbeda dengan akun admin yang banyak aku temui di jendela jelajah (exsplorer) instagram. Konten-konten yang ada bukan mereka sendiri yang membuat tapi hanya sekedar unggah ulang (repost). Dari situasi semacam ini membuat aku cukup berpikir untuk tetap memiliki alasan kenapa aku masih mengikutinya di instagram.

Kalau tiba-tiba aku berhenti mengikuti temanku itu, nanti dikira aku ingin memutus tali silaturahmi. Saat aku tak setuju dengan konten yang mereka unggah dan aku melaporkan ke pihak instagram, misal soal politik adu domba berbumbu SARA, nanti dikira lupa saudara. Cukup menjadi pelik persoalan remeh-temeh ini.

Sebenarnya tidak hanya konten berupa kampanye dan pengajian yang cukup membuat pusing. Tapi juga akun teman yang tiba-tiba berubah menjadi akun toko online yang kadang kala produknya sama sekali tak aku butuhkan.

Pernah kejadian, aku memiliki 2 atau 3 teman yang semula akun instagram miliknya berjalan biasa saja. Dia mengunggah foto dirinya, kadang bersama teman, dan ada juga yang bersamaku. Lalu tiba-tiba semua fotonya lenyap dan berubah menjadi kerudung, baju perempuan dan perabot plastik untuk rumah tangga.

Lalu apakah saat aku diam-diam berhenti mengikuti temanku ini karena aku merasa tidak memelukan produk yang dijualnya, membuatku masuk ke kategori orang yang ingin memutus tali silaturahmi?
Karena tidak hanya unggahan di instagram, bahkan cerita instagramnya pun berisi konten jualan dan membuatku benar-benar tak mendapat info apa-apa soal kabarnya.

Tinggal menghitung waktu, aku juga akan lupa dengan wajahnya, karena foto profilnya pun sudah berubah. Dari foto diri menjadi brand yang ia jual, ada juga yang berubang menjadi fotonya yang berlatar gambar bendera negara lain.

Sejujurnya aku masih buntu tentang alasan alternatif kenapa aku masih perlu mengikuti teman-temanku yang mengubah akunnya menjadi mini buzzer itu. Tapi aku punya beberapa solusi pada teman-temanku, antara lain:

Buka akun baru. Kenapa tidak membuka akun baru saja kalau ingin berjualan atau mengkampanyekan sebuah pandangan? Toh membuka akun baru juga tanpa biaya. Sehingga memberikan kita kesempatan memilih akun mana yang ingin diikuti, akun orangnya atau akun produknya.

beri keterangan di bio seperti “memang ini akun pribadiku tapi aku gunakan untuk berdakwah”, jadi kalau ada yang tidak sepakat dengan jalan pikirnya, kita jadi punya pilihan dan alasan untuk minimal membisukan akun teman itu.

Yang terakhir, ini solusi yang paling aku suka secara subjektif. Silahkan tetap mengunggah apapun itu, baik video dakwah, ajakan berjihad sampai jualan, tapi buat konten sendiri, tidak asal repost. Karena memang banyak di instagram itu konten kreator. Semisal dia yang pelukis, dia tak pernah memposting foto dirinya, dia hanya mengunggah hasil karyanya. Atau musisi yang selalu mengunggah saat dia memainkan alat musik, itu lebih bermutu. Jadi kalau punya pandangan, ya buat konten sendiri, buat argumen dan sudut pandang sendiri lalu buat meme secara mandiri. Itu lebih original dan tetap membuatku punya teman yang bisa berpendapat dan berargumen, tidak sekedar menjadi robot pengunggah ulang konten milik akun lain.

---
Aku cukup sadar diri dan ingin mengamalkan apa yang diajarkan Gus Dur soal “kita jangan suka membatas-batasi orang lain, kita sendiri yang harus tau batas”

Tak ada hak untuk aku mengatur-atur apalagi melarang pada mereka soal konten yang mereka unggah. Mereka bebas mengunggah apa pun yang mereka mau. Bahkan mengubah akun pribadi miliknya menjadi total sebagai akun buzzer pun tak masalah.

Tapi harus dengan cara apa agar kita tetap bisa komunikasi dan tukar kabar saat beberapa akun temanku sudah merubah isi feed IG dan konten cerita IG mereka? Apakah aku harus sering-sering chat ke masing-masing teman dan menanyakan kabarnya satu per satu?

Aku mengerti akan resiko kalau aku mulai chat satu per satu ke setiap teman. Untuk teman cowok, jawabannya ya garing saja, ala kadarnya dan kalau bisa segera selesai, sudah jadi stereotype cowok itu gak suka basa-basi. Kalau yang aku chat itu cewek nanti kenak label PDKT, terus risih kalau dichat terlalu sering. Dan yang pasti akan berjamaah ngomong “dasar kepo!”

Apakah pertemanan ini cukup sampai di sini, apakah aku yang sekedar ingin tau kabarmu dan memastikanmu tetap tersenyum sudah menerobos batas standart kepo dunia.

Atau aku yang harus belajar lagi tentang apa tujuan seseorang mengunggah sesuatu di instagram secara khusus dan sosial media secara umum?

Nampaknya memang iya, aku sendiri yang harus belajar membaca ulang alasan masing-masing orang mengunakan instagram. Karena beberapa bulan yang lalu, aku pun sempat salah paham pada para pemain game mobile lagend, saat itu aku berpikiran “kenapa sebuah permainan yang tujuannya untuk memberikan hiburan untuk diri dari kepenatan malah membutuhkan calo untuk memainkannya”. Yang semula aku mengira orang bermain game untuk hiburan seluruhnya, ehh ternyata ada juga yang sudah masuk ke gaya hidup dan membuat aku mengerti kenapa ada orang sampai menyewa jasa calo dalam bermain game mobile legend.

Kau ini bagaimana, atau aku yang harus bagaimana~
Yaudah deh, iya, aku aja yang harus bagaimana, aku belajar lagi aja. Kalau mau lanjut jadi robot pengunggah ulang konten buzzer ya monggo.

Wallahu A’lam
Rabu, 15 Agustus 2018
Posted by Unknown

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -