Posted by : bakhru thohir Minggu, 14 Februari 2016


Malang, sebelas Februari 2016

Selamat petang Indonesia, hujan masih saja turun dari langit dengan intensitas lebih ringan dari tadi sore, membuat udara kota Malang lebih sejuk. Kali ini penulis ingin men-shering-kan hasil pencarian penulis terhadap sebuah pertanyaan yang pernah membelenggu pikiran penulis.

Beberapa waktu lalu penulis sempat berdiskusi dengan teman, berdiskusi panjang lebar dan dalam hal apa saja. Memang diskusi malam itu, yang kebetulan hanya kami lakukan berdua. Apa pun yang bisa di bahas kami bahas dan apa pun yang bisa di bicarakan kami bicarakan, namun bukan berbicara perihal tindak-tanduk orang, lebih pada mencari sebuah gagasan dalam hidup.

Diskusi itu dilakukan oleh dua orang yang sedang belajar, kalau di bilang kompeten juga tidak, hanya sedikit ilmu yang di mengerti, sehingga kita shering tahu saling tahu saja. Kita membicarakan yang kita tahu dan meraba-raba sesuatu yang belum diketahui.

Sehingga dari sana di dapatkan sebuah hasil diskusi yang tuntas membahas suatu hal, dan ada pula yang belum tuntas membahas suatu hal, sehingga ada beberapa PR yang mesti dipecahkan. Dan tulisan ini adalah jawaban dari salah satu PR yang ada buat kita berdua.

Kami berdua sering kali membaca dan menelaah banyak quotes dari orang-orang besar, dan saat itu kami berdua tertarik pada sebuah quotes dari novelis besar Indonesia, yang dimaksud adalah Pramodya Ananta Toer. Dalam salah satu novelnya, Pram sempat menulis bahwa “kita harus adil sejak dari pikiran”

Kita berdua memang mengamini quotes ini, namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana kita bisa adil, bahkan sejak dari pikiran?

---

Dalam quotes tersebut disebutkan bahwa adilnya sejak dari pikiran, sehingga adil yang di maksud di sini adalah sebuah kebiasaan yang dilakukan dalam alam bawah sadar. Bisa juga diartikan bahwa adil di sini dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana, bahkan pikiran kita harus adil, apalagi perilaku kita.

Beberapa hari lalu penulis sempat mendengarkan rekaman ceramah dari KH. Ahmad Mustofa Bisri. Dalam ceramah yang disampaikan Gus Mus, beliau menjelaskan bahwa kita harus hidup dengan Sak Madyo (kata dalam bahasa Jawa yang bermakna secukupnya) dan Istiqomah. Dan menurut penulis sampai saat ini, inilah jawaban agar kita bisa adil, bahkan sejak dari pikiran.

Lantas, kenapa kita harus membiasakan Sak Madyo dan Istiqomah agak kita bisa adil?

Dalam sejarah umat manusia, ada sekelompok orang yang membabtis pemimpinya sebagai wali, ada pula yang membabtisnya sebagai nabi, bahkan ada yang membabtisnya sebagai Tuhan. Kalu di pikir, kenapa ini bisa terjadi? Salah satu dugaan jawabanya adalah karena kurangnya rasa Sak Madyo, banyak orang yang keterlaluan mencintai seseorang, dan membenarkan seluruh ucapan orang. Dianggap sangat benar dia bisa disebut wali, nabi bahkan Tuhan.

Ketika rasa sak madyo masih belum ada dalam diri manusia, kita akan terjebak dalam bayang-bayang fanatisme, sehingga jelaslah ketika kita masih belum bisa sak madyo, saat itulah kita akan tetap tidak bisa adil. Kita akan terbelenggu oleh sekte-sekte dan tak bisa berpikir terbuka pada sekte yang lain.

---

Selain rasa sak madyo yang harus ada dalam kehidupan kita, hal itu harus dilakukan berbarengan dengan Istiqomah. Al-Ghozali pernah berkata “tidak ada kebaikan untuk baik yang tidak terus, malah lebih baik kejahatan yang tidak terus dari pada kebaikan yang tidak terus”.

Sak madyo adalah perilaku yang mudah dilakukan apabila cumak dilakukan sekali, namun sak madyo harus bersandingan dengan istiqomah (terus menerus). Sak madyo harus kita lakukan dalam semua elemen kehidupan kita.

Sak madyo pada orang pintar, sak madyo pada kekayaan, sak madyo pada cinta, bahkan sak madyo untuk ibadah. Bahkan Allah lebih menyukai sesauatu yang dilakukan secara istiqomah.

Dalam kasus adil tidak adil, contoh yang paling sering di kambing hitamkan karena dia tidak adil adalah seorang hakim. Lantaran putusan tidak sesuai dengan apa yang digugat, sering kali hakim dinilai tidak adil. Baik memang benar-benar tidak adil atau prasangka tidak terima putusan hakim. Saat ini memang banyak kita temui hakim yang memang tidak adil, dan memang ditengarai ini terjadi karena sang hakim belum istiqomah. Seorang hakim adil itu adalah kewajiban. Sehingga apabila dia bisa sak madyo, dia akan memutuskan sebuah perkara dengan takaran yang tepat, dan ketika dia istiqomah adil, baik di rumah, di jalan bahkan dalam meja hijau, dia akan tetap istiqmah adil. Selain memiliki sikap adil, anggaplah si hakim ini taqwa kepada Tuhan. Ketika taqwanya si hakim ini hanya saat dia salat di masjid, akankan hasil putusannya akan adil pula? Ketika di masjid taqwa pada Tuhan namun saat di meja hijau taqwa kepada uang, tentu dapat dibayangkan hasil putusanya. Sehingga sak madyo dan istiqomah memang sepatutnya ada di setiap sendi kehidupan kita.

Apabila perilaku adil dan sak madyo ini dapat diamalkan. Akan menjadi sebuah kewajaran apabila seseorang bisa adil bahkan di alam bawah sadar, karena telah melakukan sak madyo dan istiqomah terus menerus.

---

Dan yang paling penting adalah teman yang dapat mengingatkan. Kita diciptakan sebagai manusia dengan kodrat sering salah dan lupa, sehingga sangat wajar kita sering hilaf dalam hidup kita, sehingga kita memerlukan teman yang selalu bisa mengingatkan kita saat kita hilaf.

Dalam setiap salat, kita selalu berdoa dan dilafalkan saat tahiyat akhir, yang berbunyi “ya muqolibal qulub, sabits qolbi ala diniq”. Artinya : wahai dzat yang membolak balik hati manusia, letakkan hati kami diatas agamamu. Dari doa tersebut kita mengakui bahwa kita memang makhluk yang sangat mudah di bolak balik hatinya, sehingga kita dianjurkan untuk selalu berdoa untuk dilindungi Tuhan agar di jaga hatinya di atas agamanya, dan karena itu perlulah kita mencari teman yang dapat mengingatkan tentang hal itu.

Wallahu A’lam


Semoga usaha kita berbarokah dan di ridhoi Tuhan. Harapan kita bersama, semoga setiap langkah kita selalu berada dalam koridor Tuhan yang maha Esa.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -