Posted by : bakhru thohir Rabu, 02 September 2015


Malang, dua september 2015

Selamat siang Indonesia. Cukup terik siangmu hari ini, mungkin membuat sebagian orang enggan keluar dan membuat status-status bernada tak suka dengan keadaanmu seperti “Panas Sekali tuhan”, “malang enggak kayak dulu lagi”, dll.

Pembahasan kita saat ini juga akan membicarakan respon yang kita keluarkan saat menerima, merasakan atau melihat sesuatu yang ada disekitar kita.

Nyelatu. Ya kata itu agaknya kurang lebih cocok pada keadaan kita saat ini. Untuk yang belum tau arti kata nyelatu. Nyelatu adalah kegiatan merespon segala sesuatu dengan nada tidak syukur dan lebih berkonotasi menghina dan tidak ada rasa menghargai keadaan dan perbedaan.

Agaknya saat ini kita semua pernah merasakan dicelatu orang lain. Kita yang terlihat berbeda akan dibicarakan atau mungkin sekaligus dicibir karena berbedanya kita. Seperti contoh orang yang jarang mandi atau jarang ganti baju, mesti akan dibicarakan “ihh baune lo”, “mukamu lo kusam, mandi sana lo”, dll. Untuk orang yang berpenampilan berbeda pun tak akan lepas dari Celatuan orang lain. 

Apakah tidak kita sadari, ketika kita melakukan hal seperti itu, kita memaksa untuk mensamaratakan setiap keadaan, karena setiap perbedaan dianggap tabu.

Agaknya kondisi saat ini juga semakin diperparah, karena orang yang memiliki hoby seperti ini tidak hanya memberikan respon pada setiap keadaan manusia, bahkan semua nikmat tuhan pun di Celatu. Tuhan memberikan panas dikomen “Panas tuhan”, tuhan memberikan dingin dikomen “dingin tuhan”. Orang semacam ini penulis yakin juga pasti mengerti konsep syukur cumak sepertinya jiwanya belum sepenuhnya dilatih untuk memulai bersyukur pada setiap keadaan yang diberikan tuhan.

Buat temen-temen yang masih suka nyelatu. Yok sama-sama berubah, penulis disinipun tak dewa yang bisa terbebas dari kebiasaan ini. Mari memperbaiki diri bareng-bareng dan menerima perbedaan dengan senyuman. Ketahuilah bahwa di Celatu juga tak enak, tak semua insan akan bisa tersenyum dengan Celatuan tersebut, bahkan ada yang memendamnya dalam hati dan malah akan membuat konflik laten diantara kita.

Demikian tulisan singkat kali ini, semoga kita bisa mengambil hikmah dan menjadi insan yang lebih menghargai perbedaan. Mari memaknai keragaman dengan senyuman.

Editor : M Iqbal Fahmi

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -