Posted by : bakhru thohir Minggu, 06 September 2015



Malang, enam September 2015

Selamat malam Indonesia, cukup hangat malam ini. Terus beriring suasana ini sejak siang tadi. Bahkan sempat sangat terik kemudian mendung. Tak jelasnya keadaan tadi siang juga ikut mengiringi suasana batin yang sempat diombang-ambing  oleh kecemasan melanjutkan cita-cita madani negeri ini.

Duka sedang menyelimuti negeri ini, tepat dini hari tadi salah seorang putra terbaik bangsa, salah seorang kelompok pelahir khittoh NU dan murid hadratussyaih hasim as’ari meningal. KH. Muchid Muzadi telah meningalkan kita semua. Sebelum melanjutkan tulisan ini, mari kita doakan beliau semoga semua amal beliau diterima dan dosanya di ampuni tuhan, al fatihah …

Kembali negeri ini ditinggalkan oleh seorang alimnya. Sedih ketika harus ditinggal beliau, sementara kita yang masih hidup merasa masih bodoh seperti ini, sering kali pertanyaan terlintas difikiran, bisakah kita mengantikan beliau? Kita terlalu bodoh untuk memimpin negeri ini? Kita masih butuh bimbingan beliau? 

Namun ini sudah garis tuhan, kita harus mengihlaskan ini, tuhan telah menuliskan bahwa mbah muchit sudah saatnya selesai berjuang dan mengajari kita. Sudah saatnya kita yang berperan selepas ini.

Hal yang paling mendasar dalam hal seperti ini adalah soal kaderisasi. Karena tak mungkin satu generasi tak diganti dengan generasi penerusnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa salah satu ciri generasi yang sehat adalah yang sukses kaderisasinya. Ada pula yang mengatakan bahwa pemimpin yang baik adalah bukan yang melahirkan banyak pengikut, tetapi yang banyak melahirkan pemimpin yang lain, dan agaknya itu memang tepat.

Kita tak mungkin lama-lama menangisi kepergian beliau, kita harus siap untuk melanjutkan perjuangan beliau. Membangun negeri ini dan membuatnya menjadi rumah yang nyaman untuk semua orang.

Terasa sama ketika penulis melihat nafas organisasi dikampus penulis. Penulis yang saat ini sudah menginjak semester akhir juga akan digantikan oleh generasi penerusnya. Rasa sedih juga menyelimuti ketika harus mengingat-ingat hal ini, namun dengan versi sedih yang cukup berbeda dengan rasa ketika ditinggal mbak muchid.

Penulis merasa bersalah pada generasi penerus penulis. Bagaimana tidak, ketika dulu penulis diajarkan berbagai kearifan organisasi oleh senior, tetapi saat ini masih belum sepenuhnya menyalurkan estafet ilmu-ilmu itu pada adik-adik penulis.

Saat ini yang terjadi dilapangan. Sistem kaderisasi yang kita laksanakan penuh dengan intrik dan tak-tik. Sistem kaderisasi yang apa adanya dan dipenuhi dengan bumbu-bumbu macam riya' dan tak idialis lagi.

Perlu kita mengaca pada mendiang mbah muchith dan generasinya. Bagaimana beliau mengajari kita soal keihlasan dan berbudi baik. Kita perlu malu pada beliau, ketika cara mengkader kita hanya seperti ini dan menginginkan hasil yang baik.

Namun penulis yakin masih banyak orang baik dinegeri ini. Semoga kearifan ini dijaga tuhan, dan kita tetap bisa mengabdi pada bangsa ini dengan cara kita masing-masing. 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -