Posted by : bakhru thohir Minggu, 13 September 2015



Malang, duabelas september 2015

Selamat pagi Indonesia, week end yang cerah sudah kau tampakan sejak tadi. Seakan ingin menyapa kami dengan kehangatan dan seraya mengatakan nikmatilah week end mu.

Pagi ini di jurusan penulis sedang ada pengkaderan formal pertama untuk mahasiswa baru, dan pagi ini yang akan teman-teman mahasiswa baru konsumsi adalah mendengarkan materi tentang ikahimki.

Tak lama ketika penulis sampai di kampus, baru menghela nafas sebentar. Langsung ada berita yang kembali membuat hati ini cukup prihatin pada keadaan teman-teman panitia. Ya masalah seperti biasa, adanya kurang komunikasi,  minimnya rasa saling percaya satu dengan yang lain dan bahkan sampai saling tendang dalam jajaran panitia.

Karena beberapa curhatan tadi, penulis kembali teringat twit yang pernah dibuat. Twit itu berbunyi "cintai seperlunya, benci sewajarnya. Agaknya itu yang harus kita amalkan. Karena banyak ekstrimis di sekitar kita"

Yap, penulis sependapat bahwa kita harus seimbang antara cinta dan benci. Agaknya cinta dan benci disini hanya sebuah istilah dari dua yang sangat berlawanan, dan kita di ajari untuk moderat menyikapi keduanya dan tidak terlalu fanatik pada satu sisi (ekstrim)

Sering kali, tanpa kita sadari, bahwa kita sering menjudge bagian musuhlah yang fanatik, sementara kita tidak. Karena kita menganggap bagian musuhlah yang salah. Lantas, apabila kita tidak mau menengok mereka dan hanya memperhatikan bagian kita sendiri, itu tidak tergolong fanatik (ekstrimis)?

Karena itulah, kenapa di awal penulis bilang banyak orang ekstrimis di sekitar kita, bahkan mungkin kita sendiri yang ekstrimis, karena sangat membenci musuh dan tak mau menghiraukan mereka.

Saat ini pun kita masih sering menganggap posisi kita adalah posisi yang benar, sehingga bagian yang tidak kita suka di lebeli salah. Tak ingatkah bahwa kebenaran yang benar-benar benar adalah kebenaran tuhan -gus mus-

Selanjutnya, berbicara soal sisi kawan dan lawan. Kita sering kali memunculkan bagian-bagian di diri kita sendiri. Kita melebeli siapa kawan kita dan siapa lawan kita.

Seharusnya, apabila berawal dari ungkapan cintai seperlunya benci sewajarnya kita tak akan begitu merisaukan siapa kawan dan siapa lawan kita. Karena yang memunculkan kawan dan lawan seyogyanya muncul dari diri kita sendiri. Jadi saat ini tinggal kita arahkan pola fikir dan pandang bahwa didunia ini semuanya adalah teman kita dan semuanya wajib kita sayangi. Harapannya semoga kita hidup berdamai dan tak muncul pertikaian.

Mengutip dari kebiasaan gus dur, bahwa beliau selalu cuek pada orang yang memusuhinya sehingga melahirkan ungkapan "gitu aja kok repot" namun dia sangat sayang pada semua orang.

Waallahu a'lam

Semoga kita lebih baik, dan dalam proses hidup ini, kita bisa berdamai dan menyebarkan virus-virus perdamaian di lingkungan kita.

{ 3 komentar... read them below or Comment }

  1. Amiin, tulisan ini sangat menghayati kondisi lingkungan sekitar yang terkadang hanya memandang dari satu sudut pandang saja. sebenarnya dalam kehidupan ini memang haruslah seimbang, supaya tercapai persatuan dan perdamaian.
    Cinta dan Benci dalam hidup ini memang wajar sebagai manusia pada haq nya, akan tetapi sebagai manusia yang beriman setidaknya redamlah kebencian yang terbenak dalam fikiran maupun tindakan. Apabila membenci orang lain, berarti kita telah membenci ciptaan-Nya. Salam Buat penulis, maaf apabila komentar ini kurang baik...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. TOP..
      segala kritik dan saran adalah citra kita,
      kalau tak mau menerima kan kita gak tau diri jadinya dan malah bisa jadi fanatik gak mau d kritik..
      makasih maya..

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -