Posted by : bakhru thohir Rabu, 23 Desember 2015


Malang, dua puluh tiga Desember 2015

Selamat siang Indonesia, selamat siang kota malang, selamat siang teman-teman semua. Senang rasanya bisa kembali berceloteh dan membagi keresahan pada teman-teman.

Kali ini mari membahas masalah nyelatu lagi, ya nampaknya orang-orang tak akan puas dengan apa yang diberikan Tuhan, sehingga nyelatu masih sangat asyik dilakukan. Saat ini malang panas, ya semoga gak banyak-banyak yang nyelatu malang, kasihan Tuhan, lhoo.. Tuhan kok dikasihani , hehe

Nyelatu tak akan bisa selesai kalau hidup kita tak ada syukur, dan hanya memikirkan diri sendiri.

Pas beberapa jam yang lalu, saat penulis masih duduk menunggu dosen pembimbing ada kabar yang tak mengenakkan, karena salah satu kerabat dari dosen pembimbing meninggal dunia, dan ini sedikit cuplikan pembicaraan yang terjadi:

A: eh, ada SMS dari pak budi, sek tak baca ya “Assalamualaikum, mohon maaf saya harus putar balik ke rumah karena ada kerabat yang meninggal”.. la pak budi gak jadi ke kampus, bagaimana ini?
B: wah iya piye iki, bisa gak pulang-pulang -_-
C: cobak tanyak ke pak budi kapan ke kampus?
A: sek bentar tak SMS-e.
A: iki dibales, senin insaallah.
B: wah, gak jadi hari ini, hem..
(dan mereka bertiga membuat PM dan ganti DP di BBM untuk mengungkapkan perasaan hati mereka).

Saat itu yang bercakap-cakap adalah adik tingkat penulis, dan saat itu penulis hanya diam mengamati saja apa yang mereka bicarakan.

Hemm,, cukup menghela nafas dulu. Ini yang dinamakan saudara muslim?

Saat ada saudara muslim yang meninggal apakah kita di minta berbicara “wah, terus kapan saya bisa bertemu pak budi” dan bukan mengucapkan “Innalillahi wainna ilaihi rojiun”.

Saat ada masalah kematian saja kita masih memikirkan diri kita masing-masing. Tak ada bela sungkawa dan doa yang mengantarkan sodara kita menuju alam barzah. Seakan-akan pak budi yang bersalah karena tidak jadi ke kampus karena kembali pulang untuk melayat. Hem, seandainya yang meninggal orang tua kita, apa kita masih akan meneruskan menunggu dosen dan tidak bergegas pulang?

penulis teringat pada sebuah kisah ulama' di baghdad yang dia sampai beristigfar selama 30 tahun gara-gara berucap Alhamdulillah. pada saat itu terjadi kebakaran di pasar Baghdad, kemudian ada salah satu warga yang menghampiri ulama' itu dirumahnya, kemudian berkatalah dia pada ulama' "pak, pasar sedang terbakar sekarang, tetapi toko bapak tidak terbakar" dan ulama' tadi spontan menjawab "Alhamdulillah". dan karena ucapannya ini dia merasa bersalah karena masih bergembira untuk dirinya sendiri di atas penderitaan orang lain.

semoga kita bisa mengikuti jejak ulama' ini dalam upaya selalu meminta maaf atas kerakusan dan memikirkan diri sendiri.

Memang dosa dan lupa kita terlalu banyak, sampai kita lupa kalau sedang lupa.

Penulis kemudian bertanya pada diri sendiri., kualitas hidup kita kok setiap hari malah semakin menurun ya? Semakin bertambah umur kita kok malah semakin kekanak-kanakan dan memikirkan diri sendiri ya? Kapan kita berbuat baik ke orang lain?

Melihat dulu itu seakan-akan orang-orang pada baik, orang yang tak kenal saja bisa numpang tidur di rumah biar tidak tersesat di hutan (baca teroris visual oleh Aji Prasetyo). Nah sekarang sama tetangga saja gak sopoan.

Kalau sekarang sudah jarang orang baik, bagaimana dengan 10 20 30 tahun ke depan? Nampaknya sekarang kita butuh avatar, avatar harus kembali memperbaiki dunia dengan kekuatannya mengendalikan 4 elemen (air, api, tanah dan udara)

Menurut penulis, avatar adalah sebuah citraan orang baik, orang yang kompleks dan memahami seluk beluk kehidupan. Avatar yang diibaratkan seorang yang sakti dan menguasai segala elemen sama halnya dengan orang baik yang bisa berbaur dengan semua kalangan (elemen).

Avatar nampaknya memang sudah jadi kodrat akan hilang dan lenyap saat dunia membutuhkan,.  Lalu kita sekarang harus bagaimana?

Menurut penulis, avatar bukan dicari, tetapi harus kita munculkan dalam diri kita masing-masing. Untuk memperbaiki dunia jangan kita sandarkan semuanya pada kekuatan avatar, namun kitalah yang harus jadi avatar di dunia kita masing-masing.

Sedari sekarang mari berbuat baik dan menjadi avatar yang akan menyelamatkan dunia dari kehancuran dan seranggan dari negara api. Meskipun kita tak dapat menguasai segala elemen seperti avatar, sepaling tidak kita bisa menguasai satu elemen dan berjuang di dunia kita masing-masing.

Kalau kita mengaku muslim, ya mari berbuat seperti seorang muslim, kala ada satu yang sedih dan berduka karena kematian, ya selayaknya kita mendahulukan mengucap bela sungkawa dan mendoakan, bukan berbondong-bondong mengeluh dan ditampilkan di status-status sosial media kita.

Wallahu A’lam


Semoga kita bisa lebih baik, mari menjadi avatar di hidup kita masing-masing. 

{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. Semua kembali pada diri masing-masing mas. Ketika seseorang bisa memposisikan dirinya diposisi orang lain dalam kondisi apapun, insyaAllah tidak akan orang tersebut berperiku sembrono, begitu pula sebaliknya. Seperti yang mas Bakhru sampaikan semoga kita selalu dalam koridornya :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. enggeh may, saatnya mengintrospeksi diri sendiri dulu, dan mari menjadi pengerak di dunia kita masing-masing.

      Hapus

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -