Posted by : bakhru thohir Minggu, 23 Oktober 2016

Sumber: http://www.muslimoderat.com

Sudah hampir satu dekade aku tak bercanda ria dengannya, teman satu kamarku di pondok pesantren Rhaudatut Thulab Paciran Lamongan. Memang secara dzhohiriyah aku dengannya tak ada yang spesial, karena memang temanku sekamar tak hanya dia, tetapi secara batiniyah dan mungkin juga hanya batin kita berdua saja yang tau kalau aku dan dia memiliki hubungan sangat dekat. 

Namanya Aisyah, gadis asal Desa Tejoasri yang berparas pas. Memang pas menurutku, tanpa dia dandan kita bisa mengatakannya cukup cantik dan tak jelek-jelek banget. Tetapi memiliki kecerdasan yang diakui seangkatan kami, kecerdasannya diatas rata-rata. 

Sejatinya bukan karena dia menawan atau pintar kita berdua sangat dekat, bahkan selama aku bertemu dan berkawan baik dengannya dulu, tak pernah sekalipun aku menyanjung karena kualitas ilmu dan parasnya. Namun karena ada sesuatu hal yang tak dapat disampaikan dengan bahasa manusia, semacam dorongan magis yang ujuk-ujuk membuat aku dekat dengannya. Semacam aku sudah dituntun untuk berkawan dengannya. Dorongan yang meminta aku berkawan agar sedapat mungkin membantu aku belajar dan mengontrol emosi darinya. Karena memang aku akui sendiri sebelum berkenalan dengannya, aku sangat mudah marah dan sensitif. 

Aku terakhir bertemu dengannya dua tahun yang lalu saat dia baru melahirkan anak pertama. Saat itu aku bermain ke rumahnya tak cukup lama, karena aku bersama ibuku yang kebetulan juga akrab dengannya. Dan saat ini, momen yang mengembirakan, Aku ingin membuat kejutan untuknya dengan bermain kesana tanpa bilang-bilang. Dulu dia selalu mengatakan “main saja ke rumah, aku pasti sangat senang. Tak usah repot bawa oleh-oleh. Aku punya sedikit kebun yang cukup untuk menjamumu, bahkan saat kau ingin bermain kesana beberapa malam aku tak keberatan. Di dekat rumahku ada mushola dan kebetulan ada madrasah diniah untuk anak-anak sekolah dasar, kamu pasti suka bermain dengan anak-anak itu bukan”. Tapi baru kali ini aku dapat merealisasikan permintaanya untuk bermain kesana. 

Sungguh momen yang menyenangkan, bukan hanya karena tiga hari yang lalu anaknnya berulang tahun, tetapi karena ini tanggal 21 Oktober. Dan esok tanggal 22 Oktober adalah hari santri. Baru dimulai tahun kemarin diadakan peringatan hari santri dan ditetapkan secara nasional oleh bapak Presiden Joko Widodo.

Aisyah memang benar-benar fenomenal, dengan kepandaiian seperti itu, dia tak pernah sekalipun mengebu-ngebu ingin menjadi ini-itu, menjadi wanita karir dan apalah yang dilakukan banyak wanita urban mainstream. Setelah dia lulus S1, Dia malah langsung menikah, aku lihat di timeline sosial mediannya, banyak teman-teman kuliah malah menyayagkan dia menikah cepat, karena karirnya terlalu pendek jika selepas S1 langsung menikah. Tapi biarlah itu menjadi rahasia sang fenomenal.

Dulu saat di pondok dan sebelum ada peringatan hari santri, tanggal 22 sebenarnya sudah menjadi tanggal yang cukup spesial untuk Aisyah, entah apa yang dia baca sebelum masuk pondok, dia selalu mengetahui hal-hal yang sebenarnya tidak cukup menarik untuk diketahui anak usia belasan tahun. Dulu saat tanggal 22 Oktober, Aisyah selalu bercerita bahwa dulu ada pertemuan para kiai se-Jawa dan Madura, pertemuan itu menjadi dasar resolusi jihad para santri untuk ikut berjuang mengusir penjajah yang nakal ingin kembali masuk Indonesia. Aisyah selalu saja membuat kami penasaran dengan ceritanya, bukan hanya karena ceritanya yang unik dan tak banyak orang yang tau, penyampaiannya juga selalu menyenangkan, bagi orang-orang yang mendengarkan saat Ia bercerita pasti tak akan menoleh agar tak ada suara yang terdengar samar, dia sunguh memikat. Dan juga yang paling aku suka, dia selalu mengeluarkan fakta-fakta yang menohok. Untuk cerita tanggal 22 ini, dia pernah bilang bahwa keberadaan kiai dan santri dalam berjuang dan mempertahankan kemerdekaan saat ini mencoba dihapus, sehingga kita tak terlalu mengenal kiai-kiai yang menjadi pahlawan, tetapi kita tak perlu risau, karena kiai itu berjuang ikhlas, tak untuk dikenang berlebihan karena membuat berkurangnya ihlas. Aku ingat sekali saat itu ceritanya ditutup dengan kita bersama-sama kirim doa untuk para kiai dan santri yang gugur saat perang melawan penjajah. Mengagumkan!.

Tak terasa bercerita sosok Aisyah dari pertama pertemuan sampai kisah-kisah unik dengannya membuat lupa waktu, dan sudah sampailah aku di depan rumahnya. 

Seruku dari luar “Assaamualaikum”
“Waalaikum salam” ada suara yang menyahut dari dalam.
“Aisyahnya ada dek?”
“Oh mbak Aisyah, ada kok Mbak, di dalam, Mbak siapa ya?”
“saya, emm.. bilang saja ada temen kamar saat mondok di Rhaudotut Thulab”
“oh temen mondok, silahkan masuk dulu Mbak, saya pangilkan mbak Aisyah, silahkan duduk Mbak”
“iya dek, terimakasih”

Hanya semenit aku duduk, keluarlah sosok ibu-ibu paling bahagia sedang membopong anak berusia dua tahun keluar menghampiriku.

Dengan suara agak keras dia berseru kaget “ya ampin, ada tamu agung. kok gak bilang mau main kesini, ini sunguh kejutan”
“halah tetap saja kau ini Aisyah, tamu agung apanya, aku yang bertamu ke orang agung. Aku memang sengaja tek memberitahumu terlebih dulu. Tak enak juga aku jarang kesini, sementara kau rutin ke rumahku saat dulu masih mondok, ibuk kangen tau sama kamu Aisyah”
“la gimana? Ibuk sehat?”
“Alhamdulillah sehat, ibuk sekarang kecanduan ganget Aisyah. Sebulan yang lalu baru aku belikan hape android dan sekarang semua-semua disingkat dihape barunya. Malah ibuk sekarang lebih gaul dari aku Aisyah. Aku di kantor saja sampai di videocall, beliau cumak bilang ngetes teknologi. O iya ibuk pesen pengen foto muka dua tahun anakmu”
“wah ibukmu sunguh menyenagkan ya, mau belajar apa saja, persis seperti kamu”
“Ah kamu bisa saja, kan aku semangat belajar juga karena ajakanmu”
“nah ini gendong jabir, biar aku fotokan kau dengan jabir”

Setelah itu Aisyah pamit masuk kedalam dan jabir masih di pangkuanku
Dan tak berapa lama Ia kembali keluar, menenteng nampan dengan segelas teh di atasnya.

“Ini di minum dulu” disuguhkannya segelas teh yang dibawa Aisyah.
“terimakasih Aiyah. O iya, bapak ibukmu sehat ta?”
“sehat Alhamdulillah, tadi kamu tak lihat ta bapak ibuk di mushola”
“owalah beliau di sana to, aku tadi lewat timur Aisyah. Memang ada apa di mushola?”
“nanti malam diniyah mau ngadain nariyahan, ikut beramai-ramai sholawatan. Ya meskipun tak dijatah berapa nariyah yang harus dibaca seperti pondok-pondok besar macam lerboyo atau ponpes sunan drajat, ikut mensemarakkan lah hari santri esok”
“wah luar biasa ya, benar-benar kalian ini keluarga fenomenal”
“selalu saja seperti itu kamu ini, yang fenomenal ini mah kamu, nulis kesana kesini, bikin syair, pendampingan ibu-ibu fatayat muslimat, organisasi gender dari fundamental sampai tematik tau semua”
“Ah kamu ini Aisyah, pengetahuanku mah yang umum-umum aja. Eh kamu tau tak, mas yasin puisinya dimuat di koran lo, diregram juga sama @nahdlatululama di instagram?”
“mas yasin yang kakak tingkat kita itu?”
“iya, tau kan?”
“tau-tau. Wah luar biasa ya mas yasin itu. Memang puisinya tema apa?”
“tema hari santri, unik gitu puisinya Aisyah. Masak di baitnya ada faala faala gitu, udah kayak belajar sorof”
“kamu menyimpan puisinya mas Yasin?”
“endak si, tapi kan dilihat di instagram ada Aisyah”
“kamu baca ya nanti malam, sebelum acara nariyahan. Habis ini aku bilang ke bapak”
“lo kami ini apa-apaan Aisyah, yang seniman kan mas yasin, aku tau apa soal puisi, kok ini malah di suruh baca”
“sudah gak papa, kamu itu temen aku yang paling bisa mengerti puisinya orang. dibaca saja dengan tulus”
“ya udah deh, tapi aku tak izin dulu ke mas Yasin”
“nah gitu dong, pasti nanti santri-santri di sini seneng, pasti pengen belajar juga buat puisi”
“ah kamu ini Aisyah, hobimu untuk mendorong orang lain tak hilang ya. Terimakasih lo sudah di ajak senam jantung”
“la kamu berbakat, masak didiemin”
“iya iya. Eh jabir sekarang suka main apa sekarang?, terakhir kamu cerita itu dia suka bola ya”
“iya, tapi sekarang dia ganti kesukaan, tiap hari liatin YouTube terus, dia lagi suka sama transportasi umum. Aku sampai heran, bisa seharian dia liat kereta, bus, mobil, pesawat. Kok gak bosen ya”
“ya namanya juga anak-anak Aisyah. Kamu ingat ndak apa yang di sampaikan kiai Husain dulu, tentang sifat-sifat bayi yang perlu kita tiru. Beliau kan pernah menjelaskan, kalau bayi itu tak berdosa dan banyak orang suka karena punya sifat-sifat tidak sombong, jujur, nriman dan gak punya dendam. Bayi bisa suka lihat sesuatu ya suka saja, tak ada tendensi untuk ini lah untuk itu lah”
“wah iya ya, kayaknya dulu santri berjuang melawan penjajah juga ikut sifat-sifat bayi ini. Sekarang kita malah terbalik ya, kita malah yang dewasa kalah. Ibadah sujud biar pinter, katanya darah mengalir ke otak, wirid ini pengen itu, wirid itu pengen ini. Kayaknya kualitas ibadah kita jauh dari rasa ihlas”
“iya Aisyah, malah ya kalo kamu tau, sekarang itu di toko-toko buku, bagian agama Islam sudah kayak bagian kesehatan dan ekonomi. Isi bukunya itu seputar ibadah ini agar sehat, ibadah itu biar kaya, wirid ini biar sehat, wirid itu biar kaya”
“barokah sekali ya Islam itu”
“barokah gimana Aisyah? Itu mah mengkapitalisasi Islam, Islam kok di jual!”
“nah itu, Islam bikin orang dapet rizki, bisa jual buku resep sehat sama kaya”
“wah kamu ini ada-ada saja Aisyah”
“o iya, kesibukan kamu selama ini apa saja?”
“ya masih seperti biasa Aisyah, parenting, pelatihan ini itu. Jarang-jarang masih nulis di blog sendiri –sejujurnya aku takut setelah ini dia akan tanya kapan aku menikah, tapi dari semua temanku, hanya dia yang bersih dari catatan merah tukang tanya kapan nikah-”
“wah bagus itu, bisa bermanfaat buat masyarakat luas. O iya gimana puisinya, sudah izin mas Yasin?”
“iya sudah Aisyah, boleh katanya”
“wih cepet bener jawabnya, kalian sering komunikasi ya?”
“ya adalah beberapa saat, hehe”
“sebentar lagi mas yasin juga cepet tuh bakal lamar kamu”
“Ah Kamu ini ada-ada saja Aisyah”
“Cie-cie. Mas yasin juga sepertinya suka kamu gitu kok, udah tenang aja, sambil terus berdoa, insaallah jodoh kamu sudah dekat”
“tapi nanti pas aku baca puisi fotoin ya, biar aku kirim ke mas yasin”
“nah tuh kanketahuan, wah wah. Hari raya depan ada yang bukak tenda nih”

Di saat asyik ngobrol dengan Aisyah, bapak dan ibunya Aisyah masuk rumah

Dengan senyum tulus bapaknya Aisyah menyapa “wah nduk, ada tamu agung kok bapak sama ibuk gak dipangil tadi”
“hehe, ngapunten bapak, lagi asik kangen-kangenan. Ada yang mau menikah nih pak”
“wah yang bener, dapet siapa?”
“sama-sama sastrawan dong pak”
“duh Aisyah, apaan sih kamu ini” Aku menyela tersipu malu
“wah, syukur deh, lanjutin saja ngobrolnya. Bapak sama ibuk masuk dulu. Mandi dulu, siap-siap solat magrib”
“eh pak, nanti malam sastrawan satu ini baca puisi ya sebelum nariyahan?”
“silahkan, tapi inget”
“inget apa pak?”
“bacanya harus dari sini” bapaknya Aisyah sambil menunjuk dadanya “puisi itu tulus, jadi bacanya juga harus tulus. Kalau boleh tau, puisinya siapa yang bakal dibaca?”
“puisinya mas yasin pak” jawabku
“yasin arief anak Ansor itu? Wah bagus itu, bapak sudah baca di koran”
“ehem ehem, ya itu calonnya pak”
“walah walah, ya cocok itu, bapak ikut seneng”
“ah bapak, bisa-bisanya si Aisyah aja itu pak” Aku tersipu malu

Mukaku semakin merah melihat keluarga yang guyup ini puas meledekku, tapi diam-diam aku mengamini si, hehe

“harusnya PBNU tau Aisyah”
“tau apa?”
“di pedalaman seperti desamu ini masih ada madrasah yang tulus dan selalu mendukung dan ikut menjaga NU serta Indonesia. diisi orang-orang hebat yang ihlas. Madrasah diniah ini bak tekennya kiai Hasyim Asyari. Ikut menjaga, melestarikan serta meneruskan estafet perjuangan kiai Hasyim Asyari”

Kita sama-sama terdiam. Dan percakapan itu menutup sore kami. Kami sholat berjamaah di mushola.
Acara nariyahan di lakukan di halaman mushola di mulai setelah solat isya. Acara itu aku buka dengan membaca puisi katangan mas yasin arif yang berjudul “Pesantren Kita”

Masih ingatkah saudaraku?
Di hari pertama kau injak tanah pesantren kita dulu.
Pada segala yang tak terlupakan.
Guratan wajah kiai yang meneduhkan.
Kesabaran guru-guru penuh keikhlasan.
Mesjid tempat kita sujud bersama.
Ladung air mata yang kau sembunyikan tatkala merasa tak kerasan.
Lusuh karpet tipis tempat kita tidur, belajar dan bersenda gurau.
Almari kita yang lapuk dimakan asai, reyot, miring, kakinya hilang satu.
Kitab-kitab yang berserakan.
Pakaian kotor yang berhamburanRiuh suara hafalan dari kamar-kamar.
Amuk suara keamaanan yang menggelegar.
Gedoran pintu yang mencekam saat subuh menjelang.
Kepul asap sebatang rokok yang kita cumbui bersama.
Secangkir kopi di belakang kamar dan sepotong senja yang menentramkan.
Cita-cita yang kita gantung pada jaring laba-laba di langit-langit kamarDongeng-dongeng sebelum tidur yang tak kunjung usai.
Tingkah polah kelakar tak pernah habis penuh dengan banyolan.
Kamar mandi kita padat lalat, anyir dan pesing.
Sabun pipih dan odol kita yang tepos.
Uang kiriman yang genting.
Rantang plastik tempat makanan kita yang polos.
Lauk tahu tempe dan ikan pindang adalah puncak kenikmatan
......................................
Masih ingatkah saudaraku?Pada runcing mata pena.
Pada keunikan aksara pegon.
Pada kemurnian kitab kuning.
Pada parau suara kita saat tartil Qur'an.
Pada segala yang tak terlupakanPada 'Fa'ala Yaf'ulu' dalam sorof; bahwa hidup niscaya melakukan perbuatan.
Pada 'Zayd' dalam Nahwu; bahwa hidup harus menambah kebaikan.
Pada 'Alif-Lam-Mim' dalam Jalalain; bahwa hidup adalah misteri Tuhan yang harus dilaksanakan
....................................
Ada rona kebahagiaan saat menjelang liburan.
Ada sesak kerinduan tatakala kita sudah pulang.
Dan kita adalah saudara yang menyatu dalam pelukan Tuhan.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -