Posted by : bakhru thohir Sabtu, 09 April 2016


Malang, Sembilan April 2016

Selamat malam Indonesia, masih bersama keresahan-keresahan yang mungkin tak penting untuk di perbincangkan. Namun cukuplah ini sebagai untaian keresahan penulis agar tidak nyumpeki batin. Hehe

Teman-teman semua pernah mendengar cerita tentang cara Rasul Muhammad SAW berjabat tangan?

Penulis sempat mendapat cerita tentang bagaimana cara Rasul berjabat tangan, yang menurut penulis ini adalah berjabat tangan yang sarat makna. Bukan hanya pertemuan dua tangan saja, tetapi penuh dengan nilai-nilai ke-Islam-an.

Cara berjabat tangan Rasul adalah menyentuhkan sela antara jempol dan telunjuk (Rasul) dengan sela jempol dan telunjuk (Sahabat) yang di salami, sehingga tangan Rasul benar-benar menempel seluruhnya dengan tangan sahabat yang di salami. Selama Rasul berjabat tangan, tidak ada rasa terlalu cepat di lepas atau terlalu lama mengayunkan tangan, karena Rasul tidak akan melepas tangannya sebelum sahabat yang di salami melepasnya sendiri.

Ketika di telisik dari segi perilaku Rasul, dapat kita tangkap betapa Rasul sangat ingin menjaga perasaan para sahabat-sahabatnya. Kalau kata falsafah Jawa, Rasul itu pandai merasa tapi bukan merasa pandai, kalau kata anak-anak muda saat ini, Rasul itu sangat baper, dikit-dikit di bawa perasaannya, jangan sampai sahabatnya sakit karena tingkah lakunya, baper yang bagus, bukan baper yang berkonotasi negatif modern era kini.

Selain rendah hati, tentu Rasul sangat melayani kebutuhan para sahabatnya, Beliau membiarkan sahabatnya menyentuh tangannya sesuai keinginannya dan Rasul tak akan segan melepas tangan sahabat sampai sahabat yang melepaskannya sendiri. Selain rasa melayani, kita dapat tarik makna yang lain, Rasul meletakkan porsi egonya sama dengan porsi ego sahabatnya, dalam melepas tangan tentu telah terjadi kesepakatan antara sahabat dan Rasul. Waktu salaman yang menyenangkan sahabat, sesuai kemauan sahabat. Tentu selesainya salaman itu atas dasar kepuasan dan taatnya sahabat pada Rasul, karena apabila sahabat terlalu lama salaman, tentu sahabat sudah tahu kalau itu tak elok, dan penulis kira sahabat pasti paham bagaimana cara mengelokkan perilaku diri agar tidak keterlaluan dan berlebihan.

Ketika kita tarik perilaku Rasul soal salaman, dari sebegitu banyak kearifan yang beliau tunjukan. Penulis mengandai-andai Rasul hidup saat ini dan Rasul memiliki akun-akun sosial media, beliau akan dengan senang hati memuaskan para sahabatnya dengan membalas surat, pesan atau mention dari para sahabat-sahabatnya. Karena tak mungkin juga Rasul akan terlepas dari jiwa mengayomi umat.

---

Penulis teringat pada sosok KH. Abdurrahman Wahid atau akrab kita sapa Gus Dur. Dalam sebuah kisah sahabat dekat Gus Dur, di kantor PBNU saat beliau masih menjabat sebagai ketua tanfidiyah PBNU beliau selalu menyempatkan membaca dan membalas satu per satu surat yang masuk untuk beliau, ini dilakukan beliau tanpa melewatkan satu surat pun dengan menganggapnya remeh karena dikirim dari orang yang tidak beliau kenal. Semua surat di balas baik dari masyarakat desa sampai teman-teman dekatnya. Bahkan Gus Dur akan membalas sesuai kebutuhan si pengirim surat, ada riwayat bahwa ketika ada surat yang berisi ingin meminta uang pada Gus Dur, beliau akan dengan legowo memberikan uang pada si pengirim surat dan uang tersebut dikirim bersama surat balasannya pada yang mengirim surat.

Sifat-sifat pemimpin dan public figure seperti inilah yang penulis rindukan. Beliaulah pemimpin-pemimpin yang menurut penulis memang siap untuk hidup dikenal banyak orang. Tak peduli sesibuk apa pun pekerjaan beliau, beliau selalu dapat menyempatkan dirinya untuk menyenangkan umat.

Cara yang sederhana di contohkan Rasul dengan cara bersalaman, Gus Dur dengan membalas semua surat yang masuk. Bukankah beliau berdua sangat sibuk?

Saat ini banyak di antara kita yang gila ingin dikenal, banyak di antara kita jumawa dan bangga saat follower bertambah. Lebih gila lagi kita sengaja membeli follower untuk kepuasan batin dan terlihat kece di hadapan teman-teman.

Kebanggaan saat kita semakin dikenal sayangnya tidak kita imbangi dengan rasa tanggung jawab dan ngayomi follower kita. Banyak di antara kita yang memiliki follower banyak dan saat salah satu follower memention kita, kita acapkali tak menjawab dan membiarkannya saja.

Semoga kita dapat menyiapkan diri untuk ngayomi umat saat kita mulai di kenal orang, baik umat nyata atau umat maya.

Wallahu A’lam

Semakin orang itu dikenal karena kelebihannya, apalagi kelebihan yang nyata-nyata diakui khalayak ramai, mari mengingat bahwa sesungguhnya Tuhan sedang menguji kita dalam mata pelajaran Sombong, Ujub dan Takabur.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -