FSTVLST vs HFZKHR

 


Kamu pernah ndak waktu baru bangun tidur tiba-tiba langsung ada sesuatu yang berdendang di kepala? Kalau pernah, kita sama! 

Saya yakin pengalaman itu karena lagu yang berdendang secara tiba-tiba emang enak, bagus, dan asoy. 

Itulah yang paradoks diametral, atau yang selanjutnya disebut dokstral, lakukan kepada saya selama bulan Mei kemarin. 

Dokstral menyuguhkan sesuatu yang sangat indah meskipun dengan rasa yang berbeda dari kedua kakaknya, bahkan sejak pertama kali album ini berbunyi. 

Tapi, keindahan dan hegemoni dokstral di bulan Mei kemarin tidak serta merta mengkultuskannya menjadi MVP, karena ternyata dokstral mendapatkan perlawanan sengit dari sebuah album bawah anjing: Jalan Kaki dari komedian cilik Hifdzi Khoir. 

Jalan kaki memberikan sebuah pengalaman yang 180 derajat berbeda dari dokstral. Pertama mendengarkan responku hanya “la ini kan lagu lama, biasa saja”. Tapi ternyata aku salah di awal, karena ada desain besar dibaliknya untuk tidak membiarkan dosktral berjaya sendirian. Yuk kita bahas.

Paradoks Diametral

Seperti yang kusebutkan di muka, album ini benar-benar berbeda dari kedua kakaknya. Orang yang memahami dan mengidentikkan FSTVLST dengan Hits Kitsch dan Dua Garis akan menemukan sebuah persembahan yang amat berbeda. Sehingga wajar kita akan menemui orang yang berpendapat FSTVLST berubah atau nuansanya menjadi seperti Iga Massardi. 

Tapi, secara pribadi aku tidak pernah punya masalah dengan itu, karena menikmati sebuah band artinya termasuk ikut berselancar dalam pertumbuhan sekaligus perubahan yang dialami. Hal ini sama persis kurasakan ketika mengikuti Barasuara. Perubahan sound, harmoni, nada, ketukan, dinamika, dan masih banyak yang lain amat sangat berbeda antara album Taifun, PnP, dan Jalaran Sadrah.

Selain urusan musik yang sangat berbeda, dokstral adalah album yang sangat menarik karena memberikan energi yang sangat besar sejak awal. Pembukaan dengan Tri Esa langsung membuatku membayangkan kejadian datang ke pertunjukan live FSTVLST. Saat lampu masih gelap, saat kita masih gugup menunggu Mas Farid dkk keluar, lagu Tri Esa diputar, dan semua penonton bersama-sama merapalkan mantra Tri Esa dalam gelap. Lalu tiba-tiba lampu menyala dan tanpa kita sadari semua personil FSTVLST sudah ada di panggung dan langsung menyambung Tri Esa dengan Orang-orang Dikerumunan sebagai lagu pertama dalam pertunjukan itu. Pasti keos dan langsung panas.

Selain itu, Tri Esa sebagai track pertama dan Jefferson sebagai track kedua memiliki magis yang lain. Ini terjadi pada anakku, ketika pertama kali mendengar dua lagu ini, entah apa yang Ia rasakan, seketika saja Ia akan berlari padaku dan meminta dipeluk. Entah karena lagunya atau visual albumnya. Tapi, apapun itu, lagu ini memang sangat mudah nempel di kepala, hingga saat ini tiap pagi anakku selalu meminta diputarkan Jefferson. 

Kemudian disusul dengan Enam Masa, Objek Vital Nasional, Doa Lamat-lamat, dan Rat Purwa yang semuanya berenergi sangat tinggi. 

Tri Esa, sampai saat ini aku belum mencerna ini lagu tentang apa, yang pasti rapalan mantranya mudah nempel saja. Lalu Jefferson yang mengadvokasi sistem peradilan kita, Enam Masa yang berbincang tentang waktu. Objek Vital Nasional penuh sekali dengan rangkuman peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, yang semuanya bikin enek, Doa Lamat-lamat yang rasanya seperti doa beneran, sampai Rat Purwa yang kembali lagi mengajak kita untuk menjadi lebih bijaksana sebagai manusia. 

Kredit khusus memang diberikan pada Jefferson, karena mulai dari musik sampai lirik, semuanya baru dan seru. Lagu ini dipungkasi dengan pertanyaan pemantik tentang eksistensialis yang dalam “hidup yang berarti? bukan sekedar tak mati? mati yang berarti? Mesti yang terakhir kali?” dan celakanya disajikan dengan hentakan disko yang fun fun fun.

Sejak pertama kali mendengar, 6 track pertama ini memang langsung mencuri perhatian dan membuatku menekan tombol jempol pada 6 track pertama kecuali Enam Masa, ya meskipun belakangan kulike juga.

Tapi, besarnya energi di 6 lagu pertama album ini malah termasuk menjadi kelemahan album ini. Sangat paradoks. Sangat diametral.

Sejujurnya sejak Terima Terrima di track 7 aku sudah kehabisan napas. Sehingga lantunan lagu Terima Terrima sampai Rock Jelek aku sudah kehabisan energi. Mungkin bagus, tapi ya begitulah orang yang kehabisan napas. 

Seperti kita sudah terbiasa makan yang sangat gurih dan tiba-tiba disuguhkan makanan yang sedikit asin. Mungkin ada rasanya, cuma lidah sudah kadung kebas. Yang cukup menolong adalah riff gitar Pratuntas yang seru dan lirik bijak di lagu rock jelek “kamu tak harus hafal lirik lagunya // kamu tak harus menafsir musiknya”. Tapi sekali lagi, buatku ini tidak cukup menolong. 

Jalan Kaki

Ketika dokstral menempatkan lagu-lagu berenergi tinggi di awal, grand design jalan kaki seperti sengaja ingin mengatakan “pendengarmu akan kehabisan napas di tengah album, seperti ini lo caranya membuat pendengar betah sampai akhir”

Track pertama Jalan Kaki adalah Ambigu. Sebuah lagu lama yang sudah pernah kudengar, tapi entah kapan itu. Karena sudah ada sejak lama, responku biasa saja pada permulaan album ini.

Kalau saja Mas Mukti Metronom dan Mas Yusril tidak membocorkan grand design album ini, kukira di track kedua aku sudah balik badan. 

Ya agak mendingan si di track 3, main air YK. Dibuka dengan lirik yang keci membuat lagunya begitu segar. tapi sayang, seperti kata Kang Soleh, track ketiga ini ya liriknya hanya kuat di muka, tetapi di belakang berjalan biasa saja. hanya untung ditolong musik yang bagus. Berarti Mas Hasfi masih digendong Olski. Nah, di track empat (petrikor) dan lima (istri) juga sama-sama redup. 

Tapi, disinilah permainan lembut dari komedian. Mungkin secara semiotik mas hismi sengaja meninabobokkan kita, membuat kita resah dan malas. Kita seperti sengaja diajak mengikuti alur standup yang selalu dengan formula set-up - punch line. Dan pada track 6 itulah pukulan bertubi-tubi dilesatkan. Karena ketika track 6 itu meluncur, keadannya benar-benar berubah luar biasa. Gemintang adalah sesuatu yang indah sekali. musiknya seru sekali dan memang seperti gemerlap bintang yang menyenangkan. Kukira ini sudah? belum kawan!

Disusul Untukku untukmu juga. Ini adalah lagu terbaik di album ini. Lagu yang maknanya dalam sekali, dibawakan dengan lucu, dan lirik yang bernas. Track ini menjadi salah satu yang terbaik, ia mudah dicerna, to the point, dan penting. Kalau mas hifsi mau buat challenge tentang lagu ini dengan mengabadikan momen bersama anak, aku akan ikut sepertinya, karena emang seindah itu.

Bayangkan saja, lagu ini mengajarkan banyak prinsip hidup, seperti perbanyak mendengar, pahami banyak POV, rencanakan hari esok tapi jangan lupa nikmati, sopan pada yang tua, sayang pada yang muda, bahkan sampai mengingatkan solat. Sebuah paket petuah komplit dari orang tua ke anak. Saya perlu berlama-lama di lagu ini karena memang sebagus itu. 

Lalu dengan keindahan yang mirip-mirip disusul Banyak Mau, Sahabat Lama, Kembali Ke Jogja, dan Takal yang semuanya indah. Tanpa terasa tidak ada lagu yang bisa di-skip sampai ujung akhir album ini. 

Kredit khusus pada Kembali Ke Jogja yang ada part rap dari Mas Mukti. Itu memang sangat chill. 

***

Dan, pada akhirnya, ini adalah perseteruan dua brahmana musik kita. Keduanya memberikan pendekatan yang berbeda dan benar-benar saling sikut. 

Kita beruntung hidup di era ini dan melihat bagaimana album dibalas album. Kita tidak melihat kritik dibalas teror. Sungguh masa yang maju, tidak jahiliah dengan dikit-dikit gak cocok sikat

Gila memang Mas Hasmi Khoir, Benar-benar membuat kita semua, tidak hanya Mas Farid dkk di LIBstore kecolongan!


0 comments