Siluman Mikroplastik

Bagaimana jadinya kalau data yang mengatakan bahwa di air hujan, darah, bahkan sperma dan ketuban manusia sudah ada mikroplastik itu salah. Karena harusnya jumlah mikroplastik lebih banyak dari yang disebutkan!

***

Kesadaran ini bermula dari kebutuhan saya untuk tahu bagaimana teknik mensuspensi standar mikrplastik dalam larutan air. Informasi ini saya perlukan dalam perjalanan penelitian sintesis nanomaterial untuk mendeteksi mikroplastik di badan air. 

Karena mensuspensi mikroplastik di air itu PR betul. Dilarutkan ya gak bisa, dibeli langsung ya mahal sekali, bahkan sering kali gak tersedia. Jadi emang sulit preparasinya, tidak semudah membangun dapur dan koperasi. 

Untuk mencari solusi dari perkara ini, saya putuskan untuk berdiskusi dengan kawan manusia dan akal imitasi (AI). Mereka berdua sepakat menjawab: tambah surfaktan!

AI hanya menjawab surfaktan, tapi saat ditanya rujukan artikelnya ada atau tidak, dia masih dungu. Tidak seperti kawan manusia saya yang datang lebih proaktif karena melampirkan artikel bernas yang “secara tidak langsung” mengkonfirmasi hal tersebut. 

Saya sebut tidak langsung karena pada dasarnya artikel yang dikirim kawan saya tidak berbicara secara inline dengan kebutuhan saya untuk teknik preparasi mikroplastik, karena artikel itu sejatinya berbicara tentang berubahan sifat mikroplastik di air ketika ada surfaktan.

***

Perubahan Sifat Mikroplastik Saat Surfaktan Eksis

Artikel yang berjudul “Effect of Tween 20 and linear alkylbenzene sulfonate on microplastic coagulation” ini berbicara tentang berubahan sifat fisika kimia dari mikroplastik saat dia berinteraksi dengan surfaktan. 

Ceritanya gini, di muka saya menyebutkan bahwa mensuspensi mikroplastik di air itu sulit, hal ini karena basis umum pelarutan suatu bahan mengikuti prinsip like desolve like, atau pelarut hanya bisa melarutkan zat yang sejenis saja. Seperti air melarutkan garam karena sama-sama polar dan capsaisin dilarutkan minyak karena sama-sama non-polar. Prinsip ini pula yang membuat air dan minyak tidak menyatu, mereka berbeda sifat.

Nah, mikroplastik adalah materi yang sifatnya non-polar, sehingga naturalnya mereka tidak akan mungkin terlarut dalam media air yang polar.

Tapi hal ini tidak menutup jalan mereka tidak bisa sepenuhnya menyatu. Sama seperti mandi menggunakan sabun, surfaktan sebagai komponen utama sabun mampu menjadi jembatan atas minyak ketiak dengan air agar mau terlarut. 

Dan disitulah malapetakanya terjadi. 

Surfaktan yang non-polar memiliki pola yang sama persis, ia akan meningkat kemampuan suspensinya ketika surfaktan eksis. Level suspensi dapat dilihat di gambar berikut:

Peningkatan suspensi mikroplastik bersama naiknya dosis surfaktan. Sumber: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1944398624009354

Data di atas menunjukan bahwa secara gradual level suspensi mikroplastik akan naik ketika surfaktan eksis. Dan celakanya, baik surfaktan jenis LAS atau Tween sama-sama menghasilkan data yang sama. Jadi tidak ada kesempatan untuk surfaktan gagal mensuspensi mikroplastik. 

Secara kimiawi, hal ini terjadi karena terjadi perubahan ikatan antara permukaan mikroplastik saat surfaktan eksis dan tidak, seperti ditunjukan dari dara FTIR berikut:

Data FTIR: Surfaktan (garis merah), mikroplastik PE dan koagulan alumina (garis hitam), dan mikroplastik PE+koagulan+surfaktan (garis biru). Sumber https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1944398624009354

Spektra FTIR di atas menunjukan dengan jelas bahwa saat surfaktan LAS atau Tween hadir dalam campuran mikroplastik PE (garis biru), spektra FTIR berubah drastis dari bentuk sebelumnya (garis hitam dan merah). Bahkan serapan khas surfaktan (garis merah) sepenuhnya hilang yang meninjukan sisi aktif dari surfaktan telah berkontak dengan permikaan mikroplastik. 

Kondisi ini membuat surfaktan menjadi siluman. Ia ada, tapi tak nampak. 

***

Sehingga saat ada laporan, seperti yang ditulis ecoton, bahwa dalam 1 mL darah ada 9 partikel mikroplastik, dalam sperma ada 6-7 partikel mikroplastik, dalam air ketuban ada 3-4 partikel mikroplastik, dalam 1 L air hujan Kota Surabaya ada 356 partikel, sangat mungkin sekali data itu salah karena tidak akurat. 

Lawong di kali kita tidak hanya membuang sampah plastik, kita kan termasuk membuang surfaktannya dari limbah industri dan rumah tangga. 


0 comments