Tigabelas! official blog Bakhru Thohir
Tigabelas! official blog Bakhru Thohir
  • Selepas.Magrib
  • Buku
  • Cerita
  • Kontak Saya

Kimia

Kemanusiaan

Musik

Bagaimana jadinya kalau data yang mengatakan bahwa di air hujan, darah, bahkan sperma dan ketuban manusia sudah ada mikroplastik itu salah. Karena harusnya jumlah mikroplastik lebih banyak dari yang disebutkan!

***

Kesadaran ini bermula dari kebutuhan saya untuk tahu bagaimana teknik mensuspensi standar mikrplastik dalam larutan air. Informasi ini saya perlukan dalam perjalanan penelitian sintesis nanomaterial untuk mendeteksi mikroplastik di badan air. 

Karena mensuspensi mikroplastik di air itu PR betul. Dilarutkan ya gak bisa, dibeli langsung ya mahal sekali, bahkan sering kali gak tersedia. Jadi emang sulit preparasinya, tidak semudah membangun dapur dan koperasi. 

Untuk mencari solusi dari perkara ini, saya putuskan untuk berdiskusi dengan kawan manusia dan akal imitasi (AI). Mereka berdua sepakat menjawab: tambah surfaktan!

AI hanya menjawab surfaktan, tapi saat ditanya rujukan artikelnya ada atau tidak, dia masih dungu. Tidak seperti kawan manusia saya yang datang lebih proaktif karena melampirkan artikel bernas yang “secara tidak langsung” mengkonfirmasi hal tersebut. 

Saya sebut tidak langsung karena pada dasarnya artikel yang dikirim kawan saya tidak berbicara secara inline dengan kebutuhan saya untuk teknik preparasi mikroplastik, karena artikel itu sejatinya berbicara tentang berubahan sifat mikroplastik di air ketika ada surfaktan.

***

Perubahan Sifat Mikroplastik Saat Surfaktan Eksis

Artikel yang berjudul “Effect of Tween 20 and linear alkylbenzene sulfonate on microplastic coagulation” ini berbicara tentang berubahan sifat fisika kimia dari mikroplastik saat dia berinteraksi dengan surfaktan. 

Ceritanya gini, di muka saya menyebutkan bahwa mensuspensi mikroplastik di air itu sulit, hal ini karena basis umum pelarutan suatu bahan mengikuti prinsip like desolve like, atau pelarut hanya bisa melarutkan zat yang sejenis saja. Seperti air melarutkan garam karena sama-sama polar dan capsaisin dilarutkan minyak karena sama-sama non-polar. Prinsip ini pula yang membuat air dan minyak tidak menyatu, mereka berbeda sifat.

Nah, mikroplastik adalah materi yang sifatnya non-polar, sehingga naturalnya mereka tidak akan mungkin terlarut dalam media air yang polar.

Tapi hal ini tidak menutup jalan mereka tidak bisa sepenuhnya menyatu. Sama seperti mandi menggunakan sabun, surfaktan sebagai komponen utama sabun mampu menjadi jembatan atas minyak ketiak dengan air agar mau terlarut. 

Dan disitulah malapetakanya terjadi. 

Surfaktan yang non-polar memiliki pola yang sama persis, ia akan meningkat kemampuan suspensinya ketika surfaktan eksis. Level suspensi dapat dilihat di gambar berikut:

Peningkatan suspensi mikroplastik bersama naiknya dosis surfaktan. Sumber: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1944398624009354

Data di atas menunjukan bahwa secara gradual level suspensi mikroplastik akan naik ketika surfaktan eksis. Dan celakanya, baik surfaktan jenis LAS atau Tween sama-sama menghasilkan data yang sama. Jadi tidak ada kesempatan untuk surfaktan gagal mensuspensi mikroplastik. 

Secara kimiawi, hal ini terjadi karena terjadi perubahan ikatan antara permukaan mikroplastik saat surfaktan eksis dan tidak, seperti ditunjukan dari dara FTIR berikut:

Data FTIR: Surfaktan (garis merah), mikroplastik PE dan koagulan alumina (garis hitam), dan mikroplastik PE+koagulan+surfaktan (garis biru). Sumber https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1944398624009354

Spektra FTIR di atas menunjukan dengan jelas bahwa saat surfaktan LAS atau Tween hadir dalam campuran mikroplastik PE (garis biru), spektra FTIR berubah drastis dari bentuk sebelumnya (garis hitam dan merah). Bahkan serapan khas surfaktan (garis merah) sepenuhnya hilang yang meninjukan sisi aktif dari surfaktan telah berkontak dengan permikaan mikroplastik. 

Kondisi ini membuat surfaktan menjadi siluman. Ia ada, tapi tak nampak. 

***

Sehingga saat ada laporan, seperti yang ditulis ecoton, bahwa dalam 1 mL darah ada 9 partikel mikroplastik, dalam sperma ada 6-7 partikel mikroplastik, dalam air ketuban ada 3-4 partikel mikroplastik, dalam 1 L air hujan Kota Surabaya ada 356 partikel, sangat mungkin sekali data itu salah karena tidak akurat. 

Lawong di kali kita tidak hanya membuang sampah plastik, kita kan termasuk membuang surfaktannya dari limbah industri dan rumah tangga. 


kritik

Kalau melemahnya rupiah adalah pertanda bahaya, dan kita perlu memperbaikinya, kenapa masih mengatakan bahwa kita tidak kenapa-kenapa?

Belum lagi persoalan yang lain, seperti penyergapan para sipil berserikat untuk nobar sampai ada saja yang dapat dikoreksi dari pidato Presiden di Rapat Paripurna DPR RI. 

Kenapa seperti tidak ada pembenahan dan berjalan berlalu begitu saja. 

Atau, jangan-jangan amar ma’ruf nahi mungkar memang sudah hilang atau dihilangkan di level pemerintahan kita?

***

Begini, 

Dulu saya memahami amar ma’ruf nahi mungkar ya sekedar kita mengajak kebaikan dan mencegah keburukan, an sich.

Ya sesederhana mengajak orang bersedekah dan jangan nonton pesta babi makan babi.

Tapi belakangan, saya mendapati makna yang lebih luas. 

Saya dapatkan beberapa macam POV memahami amar ma’ruf nahi mungkar dari ngaji bersama Mbah Mus (KH. A. Muthafa Bisri). 

Jadi pada kesempatan ini, bisa dikatakan saya sedang mencatat ulang hasil ngaji, eh sekaligus kok cocok dengan kondisi negara kita.

*** 

Pertama, 

Ternyata konsep amar ma’ruf nahi mungkar bermula dari ketidak tegaan Nabi Muhammad saw melihat umatnya masuk neraka. Saking tidak inginnya Nabi Muhammad saw melihat umatnya menderita, beliau sangat gemar untuk mengajak ke kebaikan dan segera mengingatkan kalau ada salah yang bisa membawa manusia ke neraka.

Jadi, yang perlu kita pahami ketika ingin mengamalkan juga amar ma’ruf nahi mungkar adalah bahwa laku ini diawali dari rasa sayang. 

Kedua,

Ternyata tidak sekedar mengajak ke kebaikan dan menjauhi larangan. Lebih dari itu,  ternyata amar ma’ruf nahi mungkar adalah pertanda kuatnya koneksi batin antar umat yang menjalankan. 

Bahwa yang bisa melakukan amar ma’ruf nahi mungkar ya yang hati dan batinnya tertaut, kalau tidak tertaut ya ndak bisa. 

Untuk menjelaskan tautan hati ini, ada contoh begini:

Kalau ada anak usia 2 tahun naik pohon jambu biji saat hujan respon orang yang melihatnya akan beda-beda. Btw yang tidak tahu pohon jambu biji, saya perlu kasih info dulu, bahwa pohon itu licin sekali.

Kalau yang melihat anak pemanjat adalah orang jauh, paling responnya hanya mbatin “itu anaknya siapa ya, kok naik pohon hujan-hujan”.

Saat yang melihat anak pemanjat adalah orang desanya, kemungkinan dia akan merespon “le hujan-hujan naik pohon, mudun-mudun”. Dia merespon dengan mulut.

Kalau yang melihat tetangganya, kemungkinan dia akan berucap “le tak bilangin bapakmu lo lek gak mudun, ayo turun”. Sudah ada ajakan yang lebih pasti di sini.

Kalau yang melihat bapaknya, kemungkinan akan berucap “le ayo mudun” yang dibarengi dengan gerakan menurunkan anak itu dari pohon, dan mungkin secara paksa. Artinya di level ini sudah tidak sekedar ucapan, tapi tindakan.

Tapi kalau yang lihat adalah ibunya, ibu itu akan sesegera mungkin pergi, menolong,  melupakan apa yang dikerjakan sebelumnya, dan bahkan bisa sambil menangis karena khawatir. Artinya dia ya pakai omongan, ya bertindak, dan hatinya bergetar sekali merasakan kalau terjadi apa-apa.

Di sini kita bisa melihat bahwa semakin tinggi level koneksi emosi antara orang yang mengajak dan diajak, semakin naik pula level amar ma'ruf nahi mungkarnya. 

Sehingga mencegahlah keburukan dengan tangan, kalau tidak mampu gunakan mulut, kalau tidak mampu, selemah-lemahnya, gunakan hati juga berarti menunjukan level kedekatan emosional.

Akhirnya, ketika kita ingin komunitas, perkumpulan kita, sampai bernegara kita ingin terjalin koneksi batin yang kuat, kita perlu saling mengingatkan, kita perlu amar ma'ruf nahi mungkar. Dan salah satu jalan meneladani rasul adalah "budaya kritik".

***

Kritik adalah sebuah media yang perlu ada agar kita tetap saling mengingarkan. Dengan kritik kita bisa tetap menjalankan ma’ruf karena selalu diingatkan, dan kita bisa menjauhi hal-hal yang membuat bahaya (mungkar) untuk komunitas. 

Sehingga saat kritik dibungkam, mungkin ada seseorang yang ingin mensengaja kita tidak punya koneksi batin. Dan termasuk mensengaja agar kita tidak saling sayang.

Dan yang seperti itu termasuk tercermin dari dinormalisasinya asas "asal bapak senang", yang menutup semua data buruk untuk pimpinan, agar dia taunya ya semua sudah berjalan padahal borok-borok yang perlu diperbaiki masih banyak.

Jadi, apakah benar amar ma’ruf nahi mungkar sudah hilang di sana?


Postingan Lama Beranda

Tentang Saya

Bakhru selalu merasa hidupnya penuh dengan kasih sayang Tuhan dan dalam pelukan doa orang tua. Ia menjalani hidup untuk mencintai kimia, kemanusiaan, musik, dan hal-hal baik lainnya.

POPULAR POSTS

  • Apakah 17.500 Itu Masalah?
  • Hidup Bersama Parahidup
  • Mungkin Yang Hilang Adalah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
  • menggugat orang tua
  • Kurban Perasaan Saja Lah...

Atas Kesadaran

Copyright © Tigabelas! official blog Bakhru Thohir. Designed by OddThemes