Kalau melemahnya rupiah adalah pertanda bahaya, dan kita perlu memperbaikinya, kenapa masih mengatakan bahwa kita tidak kenapa-kenapa?
Belum lagi persoalan yang lain, seperti penyergapan para sipil berserikat untuk nobar sampai ada saja yang dapat dikoreksi dari pidato Presiden di Rapat Paripurna DPR RI.
Kenapa seperti tidak ada pembenahan dan berjalan berlalu begitu saja.
Atau, jangan-jangan amar ma’ruf nahi mungkar memang sudah hilang atau dihilangkan di level pemerintahan kita?
***
Begini,
Dulu saya memahami amar ma’ruf nahi mungkar ya sekedar kita mengajak kebaikan dan mencegah keburukan, an sich.
Ya sesederhana mengajak orang bersedekah dan jangan nonton pesta babi makan babi.
Tapi belakangan, saya mendapati makna yang lebih luas.
Saya dapatkan beberapa macam POV memahami amar ma’ruf nahi mungkar dari ngaji bersama Mbah Mus (KH. A. Muthafa Bisri).
Jadi pada kesempatan ini, bisa dikatakan saya sedang mencatat ulang hasil ngaji, eh sekaligus kok cocok dengan kondisi negara kita.
***
Pertama,
Ternyata konsep amar ma’ruf nahi mungkar bermula dari ketidak tegaan Nabi Muhammad saw melihat umatnya masuk neraka. Saking tidak inginnya Nabi Muhammad saw melihat umatnya menderita, beliau sangat gemar untuk mengajak ke kebaikan dan segera mengingatkan kalau ada salah yang bisa membawa manusia ke neraka.
Jadi, yang perlu kita pahami ketika ingin mengamalkan juga amar ma’ruf nahi mungkar adalah bahwa laku ini diawali dari rasa sayang.
Kedua,
Ternyata tidak sekedar mengajak ke kebaikan dan menjauhi larangan. Lebih dari itu, ternyata amar ma’ruf nahi mungkar adalah pertanda kuatnya koneksi batin antar umat yang menjalankan.
Bahwa yang bisa melakukan amar ma’ruf nahi mungkar ya yang hati dan batinnya tertaut, kalau tidak tertaut ya ndak bisa.
Untuk menjelaskan tautan hati ini, ada contoh begini:
Kalau ada anak usia 2 tahun naik pohon jambu biji saat hujan respon orang yang melihatnya akan beda-beda. Btw yang tidak tahu pohon jambu biji, saya perlu kasih info dulu, bahwa pohon itu licin sekali.
Kalau yang melihat anak pemanjat adalah orang jauh, paling responnya hanya mbatin “itu anaknya siapa ya, kok naik pohon hujan-hujan”.
Saat yang melihat anak pemanjat adalah orang desanya, kemungkinan dia akan merespon “le hujan-hujan naik pohon, mudun-mudun”. Dia merespon dengan mulut.
Kalau yang melihat tetangganya, kemungkinan dia akan berucap “le tak bilangin bapakmu lo lek gak mudun, ayo turun”. Sudah ada ajakan yang lebih pasti di sini.
Kalau yang melihat bapaknya, kemungkinan akan berucap “le ayo mudun” yang dibarengi dengan gerakan menurunkan anak itu dari pohon, dan mungkin secara paksa. Artinya di level ini sudah tidak sekedar ucapan, tapi tindakan.
Tapi kalau yang lihat adalah ibunya, ibu itu akan sesegera mungkin pergi, menolong, melupakan apa yang dikerjakan sebelumnya, dan bahkan bisa sambil menangis karena khawatir. Artinya dia ya pakai omongan, ya bertindak, dan hatinya bergetar sekali merasakan kalau terjadi apa-apa.
Di sini kita bisa melihat bahwa semakin tinggi level koneksi emosi antara orang yang mengajak dan diajak, semakin naik pula level amar ma'ruf nahi mungkarnya.
Sehingga mencegahlah keburukan dengan tangan, kalau tidak mampu gunakan mulut, kalau tidak mampu, selemah-lemahnya, gunakan hati juga berarti menunjukan level kedekatan emosional.
Akhirnya, ketika kita ingin komunitas, perkumpulan kita, sampai bernegara kita ingin terjalin koneksi batin yang kuat, kita perlu saling mengingatkan, kita perlu amar ma'ruf nahi mungkar. Dan salah satu jalan meneladani rasul adalah "budaya kritik".
***
Kritik adalah sebuah media yang perlu ada agar kita tetap saling mengingarkan. Dengan kritik kita bisa tetap menjalankan ma’ruf karena selalu diingatkan, dan kita bisa menjauhi hal-hal yang membuat bahaya (mungkar) untuk komunitas.
Sehingga saat kritik dibungkam, mungkin ada seseorang yang ingin mensengaja kita tidak punya koneksi batin. Dan termasuk mensengaja agar kita tidak saling sayang.
Dan yang seperti itu termasuk tercermin dari dinormalisasinya asas "asal bapak senang", yang menutup semua data buruk untuk pimpinan, agar dia taunya ya semua sudah berjalan padahal borok-borok yang perlu diperbaiki masih banyak.
Jadi, apakah benar amar ma’ruf nahi mungkar sudah hilang di sana?
.png)
.png)
