Mendedah paket album parahidup dari dialog dini hari (DDH) membuatku berlompat dari rasa excited menjadi curiga. Paket yang awalnya datang dan memiliki penampilan yang wajar tiba-tiba mengubah perasaanku menjadi “mosok iki ditipu?”.
Bagaimana tidak, penampilannya sangat berbeda dibanding paket album lalu-lalu yang pernah kubuka, ia tipis dan mbleyot. Perasaan tertipu penjual berkali-kali muncul, terlebih harganya memang relatif murah ketika dibanding pasaran album lain.
Meskipun begitu, album ini tetap kubuka dengan hati-hati, sampai akhirnya aku terkaget karena ia datang tanpa selembar plastik.
Album ini berpenampilan tak ubahnya seperti undangan nikah tanpa plastik, ia terbungkus selembar kertas yang di dalamnya terselip sekeping CD yang tersablon persis seperti gambar yang tercetak di bagian dalam album. Tanpa daftar lagu, tanpa deretan lirik. Polos.
Tapi mungkin beginilah kalau kita berinteraksi dengan mereka yang hidup dengan nilai. Kita yang cuma pragmatis mungkin sulit memahaminya.Aku suka dan sayang sekali dengan album ini. Mungkin dia sedang menyampaikan pesan kehidupan dengan penampilannya, agar nama album serta lagu-lagu di dalamnya tidak sekedar beoan pemancing uang.
Mungkin sebagian besar di antara kita yang hidup di 2026 ini tidak cukup familiar dengan DDH, karena band folk asoy ini memang agak meredup selepas pandemi. tetapi saat medio 2017, DDH menjadi salah satu band indie yang skena banget dan sering muncul di pangung-pangung kota besar.
Bahkan 3 tahun aku di Jogja, 3 tahun pula DDH mampir ke sana. Artinya setiap tahun aku berjumpa, dan setiap perjumpaan dengannya selalu istimewa.
Buatku pribadi, DDH adalah hadiah sekaligus pepeling.
Tiap tahun aku menggandrungi lagu DDH yang berbeda, dan setiap tahun saat berjumpa mereka membawakannya.
Tahun pertama di Jogja, aku gandrung dengan lagu berjudul oksigen, lagu ini seru karena riff gitar yang menarik serta lirik yang unik. Masih minggu-minggu pertama tinggal di Jogja, kudengar kabar DDH mampir di UII, kudatangi dan oksigen dikumandangkan.
Tahun kedua, aku beralih kepincut pada sediakala, lagu yang aneh, karena mengubah rindu menjadi doa, karena biasanya rindu ya harusnya menggebu-gebu ingin ketemu. la ini kok pasrah lalu berdoa. Tahun kedua itu mereka mampir ke Matos, dan sediakala juga dikumandangkan. Beruntung sempat berfoto dengan mereka bertiga di belakang panggung selepas perform.
Tahun ketiga, aku beralih ke hidup, lagu paling bagus versiku dari semua lagu DDH, lagu yang juga termasuk dalam album parahidup, album yang baru kubeli ini. Lagu ini literally pernah membuatku untuk kembali hidup dari kelinglungan menjalani riset. Berkali-kali percobaan tidak mendapatkan hasil, mengubah metode sana sini, mencoba cara ini itu, dan semuanya masih mentok.
Masalahnya aku tidak punya banyak waktu, sekolahku dibiayai orang tua yang mungkin juga sedang ngempet banyak hal di rumah. Suatu ketika, saat malam sudah mulai larut, bermotor sendiri di Jogja dengan memasang headset di telinga, menyetel lagu random, tiba-tiba hidup mampir, lalu sampailah di lirik “hidup secukupnya // bahagia sebenarnya // jika kau bisa merasakan derita, berbanggalah bahwa dirimu adalah manusia // seandainya kau bisa merasakan pilu, maka berbahagialah bahwa kau hidup”. Dan tanpa aba-aba ada air tiba-tiba membuat pipi basah, lalu dada menjadi lebih lega.
Lalu ditahun itu pula, di tahun terakhirku di Jogja, DDH kembali mampir, kali ini di halaman luar Matos, kuselip beberapa manusia, agar posisi berdiriku sangat dekat dengan panggung, dan nyesss, hidup dinyanyikan. kembali dalam keramaian pipi kembali sedikit basah.
Dan akhirnya mungkin begitu, beginilah hubunganku dengan DDH.
Bisa dibilang sedikit cerita ini adalah ucapan terima kasihku pada DDH, yang sejatinya sangat ingin kutulis di pendahuluan tesisku.
Aku menemukan hidup di parahidup, dan mungkin kamu juga. Cobalah.
.png)


.png)
.png)
