Tigabelas! official blog Bakhru Thohir
Tigabelas! official blog Bakhru Thohir
  • Selepas.Magrib
  • Buku
  • Cerita
  • Kontak Saya

Kimia

Kemanusiaan

Musik


 “Hidup Butuh Uang” kalimat yang sangat sering muncul akhir-akhir ini. Tapi, meskipun sering, tidak lantas benar. Karena kalau benar hidup butuh yang, harusnya kita sebagai spesies sudah punah. 

***

Lantas kenapa banyak orang merasa butuh uang? apa yang menyebabkan orang butuh yang? apa solusi untuk orang yang merasa butuh uang? atau mungkin kita bisa balik dan buat lebih dalam dengan pertanyaan “apa benar hidup butuh uang?”

Dari banyaknya pertanyaan, kalau diperas betul, saya temukan dua yang paling core, pertama adalah apa solusi dari orang yang butuh uang dan apa benar hidup butuh uang.

Oke, mari kita jawab masalah yang pertama. Apa solusi dari orang butuh uang? Apakah solusinya akan secepat dengan sekedar punya uang?

Saya akan coba ulas pertanyaan ini dengan pendekatan yang saya temukan di sebuah buku klasik berjudul Filsafat Ilmu karya Ahmad Tafsir. 

Dalam buku itu, terkhusus pada sub bab aksiologi filsafat, dijelaskan salah satu manfaat filsafat adalah untuk berpikir dalam. 

Terdapat sebuah contoh studi kasus yakni apa solusi dari maraknya seks bebas. Uniknya, secara filosofi jawabannya tidak serta merta melarang seks bebas, tetapi dirunut akar pola pikir yang menyokongnya. Terdapat urutan logis nan sistematis yang disajikan untuk membedah masalah ini, mulai dari seks bermula dari budaya hedonis sampai berakar pada paham rasionalitas. Sehingga dalam menjawab masalah seks bebas, letak kontra narasinya ada di titik rasionalitas itu, tidak sekedar melarang. Karena saat hanya sekedar melarang, sementara tidak menyentuh akar rasionalitas, ya hanya akan kapok lombok. 

Urutan logika ini sengaja saya tidak sampaikan full, yang ingin tau full, ya silahkan baca saja bukunya. 

Analog dengan masalah seks bebas, saya akan menggunakan pendekatan yang sama untuk membedah masalah butuh yang. Dari mana pola pikir ini berasal?

Menurut saya hal ini datang dari paham kapitalisme, yang mana hampir segala hal dikapitalisasi atau diberi harga. 

Kita bisa melihat bahwa hampir segala hal saat ini sudah diberi harga. Tempat tinggal ada harganya, pakaian ada harganya, akses pendidikan ada harganya, semuanya sudah ada harganya. Bahkan komponen dasar kita, sesuatu untuk menyambung hidup, misal air juga sudah dijual, diberi harga, dikapitalisasi. 

Sialnya ini terjadi nyaris di segala penjuru dunia. Sudah tidak ada lagi sesuatu yang gratis. Adanya cuma coba 1 minggu, habis itu berlangganan. 

Lalu, kapitalisasi itu datang dari mana? menurut saya, kemungkinan ia datang dari paham liberalisme. Liberalisme adalah salah satu paham yang poin utamanya adalah menekankan pada kebebasan individu. Setiap individu bebas untuk melakukan apa yang ia kehendaki. Dan ujungnya liberalisme juga bersandar pada rasionalitasme, yang poin utamanya adalah segala hal harus bersandar pada reason atau alasan. 

Sehingga dengan menggunakan metode ini, kita menemukan bahwa jawaban pandangan hidup butuh uang tidak sekedar punya uang, kita perlu mencari narasinya di level rasionalitas. Atau mencari alternatif untuk subtitusi paham rasionalisme. 

Nah, karena akarnya adalah rasionalitas, saya akan coba menggunakan rasionalitas juga untuk memberikan alternatif atau pertanyaan pemantik untuk situasi hidup butuh uang.

Jadi begini, kalau hidup memang butuh yang, harusnya manusia kan sudah punah?

Anggaplah kita sepakat bahwa manusia menghuni bumi sejak Adam. Eh tapi kalau ada yang tidak sepakat, bahwa awal manusia bukan adam juga tidak apa-apa. Sama saja. 

Usia manusia menghuni bumi ini sangat jauh lebih lama dari eksistensi uang. Sementara teknologi tukar barang dengan kertas diberi makna ini kan baru muncul belakangan. 

Sehingga kalau benar hidup butuh yang, harusnya kita memang tidak pernah ada, karena Adam tidak pernah membeli matcha dengan dolar, yuan, dan lain sebagainya.

Sehingga kalau dikatakan hidup butuh yang, saya kira tidak masuk akal, tidak rasional. 

Artinya yang mengatakan hidup butuh uang, yang pikiran dasarnya adalah rasional, sebenarnya tidak rasional juga.

Lantas mungkin ada yang berpendapat: oke memang benar uang datang belakangan, tapi kenyataannya kan saat ini semua diberi harga, semua dikapitalisasi, emang siapa yang saat ini bisa hidup tanpa uang? bagaimana ia menyambung hidup dan mencukupi kebutuhannya kalau tak ada uang? siapa orangnya yang bisa bertahan tanpa uang?

Oke mudah saja, orang rasional kita jawab dengan rasional juga: bayi. 

Bayi tidak butuh yang, kita berikan uang pada bayi juga mereka abai. Kenapa? karena bayi belum memberi makna pada selembar kertas itu. Buat bayi selembar kertas 100 ribu sama halnya dengan kita memberi benda apapun. Ujungnya diemut, dibanting, atau diucek-ucek. 

Dan pasti ada yang menjawab: ya kan ada perantaranya, ada orang tuanya, dan orang tuanya butuh yang. 

Oke, wahai para rasional. Kita perlu membedakan satu individu dengan individu lain. Bayi sebagai manusia, ya dia individu sendiri. Jangan digabungkan dengan orang tuanya. Orang tuanya dapat uang, ya tetap bukan bayinya yang menganggap uang itu penting. 

Orang tua sebagai perantara, kan semua di dunia ini juga butuh perantara. Burung diberi makan Tuhan kan ya pakai perantara. Dan dikatakan bahwa alam semesta ini tajallinya Allah ya bisa saja. Artinya tidak butuh perantara juga kan. 

Jadi bisa dikatakan, bayi itu butuhnya rezeki, laiknya buruk, bukan uang. Sehingga sekarang kita bisa katakan sebenarnya hidup butuh rezeki, dan rezeki luas sekali, tidak sekedar uang.  

Tapi itupun jawaban cukup riskan, ternyata sejatinya yang benar-benar kita butuhkan bukan rejeki. Karena kalau kita berhenti di hidup butuh rejeki, khawatirnya jadi sirik yang samar. Saya akan dengan tegas menjawab kita butuh Tuhan. Dan salah satu pemberian Tuhan adalah rejeki. 

Ada yang menarik, dan mungkin orang yang katanya rasional itu bisa ikut memikirkan ini juga, kan rasional. 

Jadi begini, bahwa tidak memberinya tuhan itu memberi. Tidak memberinya tuhan rejeki uang pada kita, sejatinya itu juga memberi. Tinggal apakah kita cukup rasional untuk memikirkan makna ini. Atau pakai cara hati yang konon tidak rasional itu?


Saya kira ketika ada orang Indonesia dapat nobel, kita semua pasti bangga. Laiknya kebanggaan kita misal mendengar kabar ada orang Indonesia yang mendapat penghargaan Grammy, Oscar, atau menjadi peserta Piala Dunia. 

Sayangnya yang terakhir kita harus bersabar minimal sampai 2030 mendatang. 

Nobel sebagai salah satu penghargaan paling prestisius di dunia telah rutin digelar sejak awal 1900-an, diberikan pada orang yang perannya sangat signifikan di dunia. Bahkan bisa dibilang berperan pada kemanusiaan dan perkembangan peradaban manusia.

Pekan lalu (6/10), pemenang nobel 2025 sudah mulai diumumkan, dan penting untuk membangun ekosistem kita agar bisa mewujudkan “Orang Indonesia dapat Nobel”, tidak hanya sekedar naturalisasi tapi tidak memperbaiki ekosistem dalam negeri. Kita bisa belajar dari kisah para pemenang nobel.

Tidak Bermanfaat

Susumu Kitagawa, pemenang nobel kimia memiliki kisah yang amat menarik. 

Kitagawa membagikan kisah awal mula ia mengembangkan material jaringan organik-anorganik atau MOF (metal-organic framework). 

Ia memulai riset pada 1992, merespon hasil gemilang dari Richard Robson pada tahun 1989. Kitagawa melakukan riset bertahun-tahun untuk ilmu, ia tidak tahu MOF akan digunakan untuk apa di masa depan. Dan karena hanya melakukan riset tanpa bisa menunjukan manfaat, ia berkali-kali ditolak saat mengajukan pendanaan.

Terlebih MOF buatan Kitagawa juga selalu dibandingkan dengan zeolit, sebuah material yang sama-sama berpori tetapi sudah jelas bisa dimanfaatkan dan jumlahnya melimpah. 

Untungnya Kitagawa tidak memilih menyerah seperti kerasukan Bernadya. Ia tetap fokus mengembangkan MOF yang stabil dan tetap tidak tahu akan dimanfaatkan untuk apa.

Kisah ini benar-benar mirip dengan apa yang peneliti Indonesia alami saat ini. Mereka dipaksa mengeluarkan manfaat praktis untuk setiap proposal yang diajukan pendanaan, meskipun levelnya baru penelitian dasar. Seakan tidak ada ruang untuk penelitian yang hanya berbasis ingin menguji tesis yang sudah establish.

Dalam proposal penelitian yang diajukan, peneliti diharuskan menuliskan manfaat, tujuan, dan juga peta jalan penelitian. Kalau tidak, ya babay dari meja kurasi reviewer.

Kita perlu akui bahwa kondisi ini memang tidak ideal dalam proses produksi pengetahuan dasar. Peneliti-peneliti dari rumpun ilmu dasar laiknya matematika, fisika, kimia, dan biologi akhirnya melonggarkan ikat pinggang dan beralih melakukan penelitian dan mengembangkan bahan yang sudah jelas ada manfaatnya.

Tidak terjadi ruang bebas seperti yang dialami Omar M. Yaghi, pemenang nobel kimia 2025 juga, yang mana di awal perjalanan risetnya ia hanya tertarik menyelesaikan masalah intelektual dan tidak berniat memecahkan masalah polutan di air.

Novelty

Selain menuliskan tujuan dan manfaat pada setiap latar belakang proposal pendanaan penelitian, peneliti juga perlu menyampaikan novelty atau keterbaruan dari riset yang akan dikerjakan. 

Isu redaksi novelty harus muncul di proposal sepertinya menjadi gejala global, untungnya kita tidak sendiri. Karena ada sentilan keras dari Morten Meldal, peraih nobel kimia 2022.
Meldal dengan jelas menyampaikan bahwa “keterbaruan datang dari observasi fenomena aneh yang tidak sesuai dengan konsep yang ada di kepala kita sebagai ilmuwan”. Novelty tidak datang dari sesuatu yang direncanakan. 

Sungguh sangat kontradiktif dengan novelty yang kita pahami saat ini. Di mana, novelty didefinisikan sebagai hal yang membuat penelitian kita berbeda dari yang lain, dan oleh karenanya penelitian dianggap baru, dan akhirnya bisa direncanakan. 

Hasilnya, penelitian yang diproduksi hanya akan menghasilkan gap kecil dan umumnya hanya mengubah beberapa ragam variasi, sampel, dan tujuan aplikasi. 

Penelitian yang noveltynya direncakanan tidak akan menyentuh perubahan yang fundamental. Karena novelty yang dipaksakan hanya akan membuat kualitas riset berbeda sedikit di area tampilan permukaannya saja.

Sitasi

Selain proposal yang harus jelas manfaat praktis dan noveltynya. Peneliti kita juga disibukkan dan dituntut untuk memproduksi banyak artikel dengan total sitasi di profil google scholar yang ramai. 

Dan lagi-lagi, kita dibuat cegek oleh salah satu peraih nobel 2025 bidang kesehatan, Mary E. Brunkow, karena ia mematahkan semua stigma itu.

Brunkow hanya memiliki 34 artikel yang terpublikasi dan H-index (index yang melihat seberapa banyak penelitiannya disitasi) hanya 21 saja. Ia juga tidak pernah nangkring di 2% peneliti top dunia yang kemarin sempat bikin geger dan bangga itu.

Soal sitasi memang sudah sering menjadi perdebatan, karena kita bisa sepakat bahwa karya yang bagus tidak selalu ditandai dengan sitasi yang ramai, sama seperti karya musik. 

Musik viral belum tentu bagus, dan yang tidak viral pasti lebih buruk. Ada banyak aspek dan elemen. 

Karena ketika kita berjualan di pasar yang ramai, kans untuk terjual memang besar. Kalau kita menjajakan lagu cinta, kans lakunya memang akan lebih tinggi dari pada jualan lagu tema kemanusiaan. 

Riset pun demikian, kalau bidang riset yang dijalani ada pada topik-topik populer, kans tersitasi juga tinggi, tapi kalau topik yang diusung tidak populer ya sitasi akan sepi. 

Belum lagi sitasi bisa “diakali”. Misal meminta mahasiswa mensitasi karya dosen.

Band Barasuara melalui lagu berjudul Etalase juga telah merekam isu sitasi ini “lebih terkenal (red. lebih banyak ekstasi) tak lebih baik, sudah terbukti banyak yg munafik (karena jumlah sitasi bisa di-request)”

***

Sehingga saat kita sebagai bangsa ingin terlibat dalam menentukan arah peradaban dunia, yg salah satu penghargaannya adalah nobel. Kita, sebagai bangsa, perlu memperbaiki cara berpikir dan tata kelola penelitian kita. 

Apakah kita punya kans? Ada. 

Saya kenal sedikit peneliti Indonesia yang punya spirit seperti para penerima nobel yang sudah saya paparkan, minimal ditandai dengan ogah-ogahannya mengurus kenaikan jabatan fungsional menjadi profesor. 

Indonesia punya orang-orang seperti itu. Tapi ya cuma satu-dua. 

Selebihnya ya yang matrealistis-oportunis saja. 

Yang mengejar tinggi-tinggian sinta skor, banyak-banyakan sitasi, panjang-panjangan gelar,  sampai yang panggilan hidupnya tidak sebagai dosen dan peneliti tapi maksa jadi dosen dan peneliti biar gak nganggur dan dapat status sosial saja.

Jadi, beranikah kita sebagai bangsa berubah?


Postingan Lama Beranda

Tentang Saya

Bakhru selalu merasa hidupnya penuh dengan kasih sayang Tuhan dan dalam pelukan doa orang tua. Ia menjalani hidup untuk mencintai kimia, kemanusiaan, musik, dan hal-hal baik lainnya.

POPULAR POSTS

  • Nobel untuk Orang Indonesia
  • Hidup Butuh Uang
  • Kurban Perasaan Saja Lah...
  • Nikmat yang Terlupakan
  • menggugat orang tua

Atas Kesadaran

Copyright © Tigabelas! official blog Bakhru Thohir. Designed by OddThemes