Tigabelas! official blog Bakhru Thohir
Tigabelas! official blog Bakhru Thohir
  • Selepas.Magrib
  • Buku
  • Cerita
  • Kontak Saya

Kimia

Kemanusiaan

Musik

Mungkin rupiah mencapai level 17.500 per satu dolar memang tidak masalah. Karena kita kan memang bersandar pada sebuah konsep “masalah akan jadi masalah kalau kita anggap itu masalah.”

***

Akibat rupiah yang semakin murah ini, video Presiden Habibie kembali naik. Banyak warganet mengkomparasi kebijakan saat itu dengan keadaan sekarang, terlebih saat itu Presiden Habibie punya obsesi untuk membuat pesawat, tetapi beliau memilih untuk menguatkan rupiah terhadap dolar terlebih dahulu, alih-alih tetap maju jalan untuk pesawat. 

Dalam video wawancara tersebut Presiden Habibie menyebutkan bahwa Rupiah menguat adalah kemenangan rakyat, dan tidak jadi persoalan ketika ambisi pesawatnya harus melayang. 

Lalu video itu dikomparasikan dengan proyek MBG yang saat ini tetap tidak mandek di tengah krisis energi akibat perang teluk dan nilai tukar rupiah yang kian hari kian melambung. 

Tapi bukankah kita masih bisa bertanya, memang kalau rupiah melemah, apakah itu masalah? 

Ini serius. Bukan satir, bukan sindir.

Masalahnya, rupiah melemah dikatakan masalah kan hanya untuk orang yang menganggap itu masalah. Kan sangat mungkin sekali kalau urusan ekonomi dan kekuatan rupiah bukan fokus beliau. Sehingga kita masih bisa melihat keteguhan pada pendirian.

Hal ini kan sudah berkali-kali kita lihat dalam sejarah Indonesia.

Misal, 

Kerusuhan adalah masalah, harmoni dan ketertiban adalah kunci, karena dengan tertib investor akan masuk dan ekonomi naik. Sehingga Era Soeharto semua perusuh ditumpas. Saat itu, suara sumbang pada pemerintah dibungkam, ketidakseragaman dihilangkan, karena buatnya itu semua masalah. 

Lalu kita juga pernah ada di era bahwa demokrasi perlu menjamin bahwa setiap pendapat harus didengar, tidak boleh ada penomor duaan status kewarganegaraan karena etnis dan keturunan. Akhirnya presiden Gus Dur membubarkan Kementerian Penerangan dan pencabutan status tapol di KTP serta mengakui etnis tionghoa dan membiarkan mereka mengekspresikan ajarannya. Sehingga buat Presiden Gus Dur, pembatasan itu adalah masalah, makannya harus diangkat dari negeri yang mengaku demokratis. Bergejolak, pasti. Tapi apakah masalah, buat Pak Gus Dur, tidak.

Pun yang baru-baru ini, saat segalanya harus disuruh kerja, bahkan orang ambil sekolah pun sudah diminta mikir kerjanya besok apa, sehingga yang kita lihat ya simpel aja, sekolah harus magang, pasca sekolah harus siap kerja, belajar dikatakan berhasil ya kalau selepasnya langsung dapat kerja. Buat tenaga kependidikan serta pemerhati pendidikan, mungkin itu masalah, tapi untuk orang yang POVnya hidup adalah kerja, ya tidak jadi masalah kan. Ya tetap maju kan. 

Sehingga, saat Pak Prabowo mengatakan bahwa yang terpenting buat kita adalah pertahanan, dan salah satu pilarnya adalah ketahanan untuk tetap bisa makan, ya rupiah remuk di hadapan dolar juga ndak masalah, yang penting kan bisa makan, kita bisa bertahan. Sehingga muncullah kalimat “orang di desa beli gak pakai dolar”. Emang gak masalah kok.

***

Namun di saat yang sama, saya juga menaruh penasaran. Kalau setiap Presiden bisa punya hal yang dia anggap masalah dan ada hal lain yang perlu diperjuangkan. Adakah kita sebagai bangsa, yang holistik, memiliki masalah bersama yang perlu diselesaikan dan tujuan yang perlu dituju oleh bangsa ini siapapun Presidennya? 

Saya tidak tahu, tapi kalau memang ada, harusnya itu ukurannya. 

Mungkin konstitusi? 

Tapi sekali lagi saya tidak tahu. 

***

Tetapi lebih dari itu, kita tetap perlu mengingat konsep “ujung tongkat,” bahwa setiap apa yang kita ambil, kita harus tahu dan siap menerima resikonya.

Saat kekisruhan dan berbeda pandangan adalah masalah, kita perlu ingat apa akibat yang akan mengikutinya. 

Persis dengan pers tidak dibredel, menghilangkan tanda eks tapol di KTP dan membiarkan tionghoa berekspresi, kita perlu ingat apa yang akan muncul setelahnya.

Demikian dengan kalau kita ingin setiap umat lulusan minimal SMA sederajat bisa langsung kerja, bagaimana masa depan akan mewujudkan rencana itu.

Dan saat ini, saat Pak prabowo tidak menganggap melemahnya rupiah terhadap dolar adalah masalah, kita memang harus siap dengan apa resikonya.

***

Atau, kalau sebenarnya urusan kekuatan rupiah ini penting dan penting dikawal, apakah kejadian ini berhubungan dengan amar makruf nahi mungkar di level pemerintahan? 

kita lanjut di kolom selanjutnya …



Mendedah paket album parahidup dari dialog dini hari (DDH) membuatku berlompat dari rasa excited menjadi curiga. Paket yang awalnya datang dan memiliki penampilan yang wajar tiba-tiba mengubah perasaanku menjadi “mosok iki ditipu?”.

Bagaimana tidak, penampilannya sangat berbeda dibanding paket album lalu-lalu yang pernah kubuka, ia tipis dan mbleyot. Perasaan tertipu penjual berkali-kali muncul, terlebih harganya memang relatif murah ketika dibanding pasaran album lain. 

Meskipun begitu, album ini tetap kubuka dengan hati-hati, sampai akhirnya aku terkaget karena ia datang tanpa selembar plastik. 

Album ini berpenampilan tak ubahnya seperti undangan nikah tanpa plastik, ia terbungkus selembar kertas yang di dalamnya terselip sekeping CD yang tersablon persis seperti gambar yang tercetak di bagian dalam album. Tanpa daftar lagu, tanpa deretan lirik. Polos.

Tapi mungkin beginilah kalau kita berinteraksi dengan mereka yang hidup dengan nilai. Kita yang cuma pragmatis mungkin sulit memahaminya. 

Aku suka dan sayang sekali dengan album ini. Mungkin dia sedang menyampaikan pesan kehidupan dengan penampilannya, agar nama album serta lagu-lagu di dalamnya tidak sekedar beoan pemancing uang. 

***

Mungkin sebagian besar di antara kita yang hidup di 2026 ini tidak cukup familiar dengan DDH, karena band folk asoy ini memang agak meredup selepas pandemi. tetapi saat medio 2017, DDH menjadi salah satu band indie yang skena banget dan sering muncul di pangung-pangung kota besar. 

Bahkan 3 tahun aku di Jogja, 3 tahun pula DDH mampir ke sana. Artinya setiap tahun aku berjumpa, dan setiap perjumpaan dengannya selalu istimewa.

Buatku pribadi, DDH adalah hadiah sekaligus pepeling. 

Tiap tahun aku menggandrungi lagu DDH yang berbeda, dan setiap tahun saat berjumpa mereka membawakannya. 

Tahun pertama di Jogja, aku gandrung dengan lagu berjudul oksigen, lagu ini seru karena riff gitar yang menarik serta lirik yang unik. Masih minggu-minggu pertama tinggal di Jogja, kudengar kabar DDH mampir di UII, kudatangi dan oksigen dikumandangkan. 

Tahun kedua, aku beralih kepincut pada sediakala, lagu yang aneh, karena mengubah rindu menjadi doa, karena biasanya rindu ya harusnya menggebu-gebu ingin ketemu. la ini kok pasrah lalu berdoa. Tahun kedua itu mereka mampir ke Matos, dan sediakala juga dikumandangkan. Beruntung sempat berfoto dengan mereka bertiga di belakang panggung selepas perform.

Tahun ketiga, aku beralih ke hidup, lagu paling bagus versiku dari semua lagu DDH, lagu yang juga termasuk dalam album parahidup, album yang baru kubeli ini. Lagu ini literally pernah membuatku untuk kembali hidup dari kelinglungan menjalani riset. Berkali-kali percobaan tidak mendapatkan hasil, mengubah metode sana sini, mencoba cara ini itu, dan semuanya masih mentok. 

Masalahnya aku tidak punya banyak waktu, sekolahku dibiayai orang tua yang mungkin juga sedang ngempet banyak hal di rumah. Suatu ketika, saat malam sudah mulai larut, bermotor sendiri di Jogja dengan memasang headset di telinga, menyetel lagu random, tiba-tiba hidup mampir, lalu sampailah di lirik “hidup secukupnya // bahagia sebenarnya // jika kau bisa merasakan derita, berbanggalah bahwa dirimu adalah manusia // seandainya kau bisa merasakan pilu, maka berbahagialah bahwa kau hidup”. Dan tanpa aba-aba ada air tiba-tiba membuat pipi basah, lalu dada menjadi lebih lega. 

Lalu ditahun itu pula, di tahun terakhirku di Jogja, DDH kembali mampir, kali ini di halaman luar Matos, kuselip beberapa manusia, agar posisi berdiriku sangat dekat dengan panggung, dan nyesss, hidup dinyanyikan. kembali dalam keramaian pipi kembali sedikit basah. 

Dan akhirnya mungkin begitu, beginilah hubunganku dengan DDH. 

Bisa dibilang sedikit cerita ini adalah ucapan terima kasihku pada DDH, yang sejatinya sangat ingin kutulis di pendahuluan tesisku. 

Aku menemukan hidup di parahidup, dan mungkin kamu juga. Cobalah.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Tentang Saya

Bakhru selalu merasa hidupnya penuh dengan kasih sayang Tuhan dan dalam pelukan doa orang tua. Ia menjalani hidup untuk mencintai kimia, kemanusiaan, musik, dan hal-hal baik lainnya.

POPULAR POSTS

  • Hidup Bersama Parahidup
  • Hidup Butuh Uang
  • Nobel untuk Orang Indonesia
  • Kurban Perasaan Saja Lah...
  • menggugat orang tua

Atas Kesadaran

Copyright © Tigabelas! official blog Bakhru Thohir. Designed by OddThemes