Mungkin rupiah mencapai level 17.500 per satu dolar memang tidak masalah. Karena kita kan memang bersandar pada sebuah konsep “masalah akan jadi masalah kalau kita anggap itu masalah.”
***
Akibat rupiah yang semakin murah ini, video Presiden Habibie kembali naik. Banyak warganet mengkomparasi kebijakan saat itu dengan keadaan sekarang, terlebih saat itu Presiden Habibie punya obsesi untuk membuat pesawat, tetapi beliau memilih untuk menguatkan rupiah terhadap dolar terlebih dahulu, alih-alih tetap maju jalan untuk pesawat.
Dalam video wawancara tersebut Presiden Habibie menyebutkan bahwa Rupiah menguat adalah kemenangan rakyat, dan tidak jadi persoalan ketika ambisi pesawatnya harus melayang.
Lalu video itu dikomparasikan dengan proyek MBG yang saat ini tetap tidak mandek di tengah krisis energi akibat perang teluk dan nilai tukar rupiah yang kian hari kian melambung.
Tapi bukankah kita masih bisa bertanya, memang kalau rupiah melemah, apakah itu masalah?
Ini serius. Bukan satir, bukan sindir.
Masalahnya, rupiah melemah dikatakan masalah kan hanya untuk orang yang menganggap itu masalah. Kan sangat mungkin sekali kalau urusan ekonomi dan kekuatan rupiah bukan fokus beliau. Sehingga kita masih bisa melihat keteguhan pada pendirian.
Hal ini kan sudah berkali-kali kita lihat dalam sejarah Indonesia.
Misal,
Kerusuhan adalah masalah, harmoni dan ketertiban adalah kunci, karena dengan tertib investor akan masuk dan ekonomi naik. Sehingga Era Soeharto semua perusuh ditumpas. Saat itu, suara sumbang pada pemerintah dibungkam, ketidakseragaman dihilangkan, karena buatnya itu semua masalah.
Lalu kita juga pernah ada di era bahwa demokrasi perlu menjamin bahwa setiap pendapat harus didengar, tidak boleh ada penomor duaan status kewarganegaraan karena etnis dan keturunan. Akhirnya presiden Gus Dur membubarkan Kementerian Penerangan dan pencabutan status tapol di KTP serta mengakui etnis tionghoa dan membiarkan mereka mengekspresikan ajarannya. Sehingga buat Presiden Gus Dur, pembatasan itu adalah masalah, makannya harus diangkat dari negeri yang mengaku demokratis. Bergejolak, pasti. Tapi apakah masalah, buat Pak Gus Dur, tidak.
Pun yang baru-baru ini, saat segalanya harus disuruh kerja, bahkan orang ambil sekolah pun sudah diminta mikir kerjanya besok apa, sehingga yang kita lihat ya simpel aja, sekolah harus magang, pasca sekolah harus siap kerja, belajar dikatakan berhasil ya kalau selepasnya langsung dapat kerja. Buat tenaga kependidikan serta pemerhati pendidikan, mungkin itu masalah, tapi untuk orang yang POVnya hidup adalah kerja, ya tidak jadi masalah kan. Ya tetap maju kan.
Sehingga, saat Pak Prabowo mengatakan bahwa yang terpenting buat kita adalah pertahanan, dan salah satu pilarnya adalah ketahanan untuk tetap bisa makan, ya rupiah remuk di hadapan dolar juga ndak masalah, yang penting kan bisa makan, kita bisa bertahan. Sehingga muncullah kalimat “orang di desa beli gak pakai dolar”. Emang gak masalah kok.
***
Namun di saat yang sama, saya juga menaruh penasaran. Kalau setiap Presiden bisa punya hal yang dia anggap masalah dan ada hal lain yang perlu diperjuangkan. Adakah kita sebagai bangsa, yang holistik, memiliki masalah bersama yang perlu diselesaikan dan tujuan yang perlu dituju oleh bangsa ini siapapun Presidennya?
Saya tidak tahu, tapi kalau memang ada, harusnya itu ukurannya.
Mungkin konstitusi?
Tapi sekali lagi saya tidak tahu.
***
Tetapi lebih dari itu, kita tetap perlu mengingat konsep “ujung tongkat,” bahwa setiap apa yang kita ambil, kita harus tahu dan siap menerima resikonya.
Saat kekisruhan dan berbeda pandangan adalah masalah, kita perlu ingat apa akibat yang akan mengikutinya.
Persis dengan pers tidak dibredel, menghilangkan tanda eks tapol di KTP dan membiarkan tionghoa berekspresi, kita perlu ingat apa yang akan muncul setelahnya.
Demikian dengan kalau kita ingin setiap umat lulusan minimal SMA sederajat bisa langsung kerja, bagaimana masa depan akan mewujudkan rencana itu.
Dan saat ini, saat Pak prabowo tidak menganggap melemahnya rupiah terhadap dolar adalah masalah, kita memang harus siap dengan apa resikonya.
***
Atau, kalau sebenarnya urusan kekuatan rupiah ini penting dan penting dikawal, apakah kejadian ini berhubungan dengan amar makruf nahi mungkar di level pemerintahan?
kita lanjut di kolom selanjutnya …
.png)
.png)


.png)
