“Hidup Butuh Uang” kalimat yang sangat sering muncul akhir-akhir ini. Tapi, meskipun sering, tidak lantas benar. Karena kalau benar hidup butuh yang, harusnya kita sebagai spesies sudah punah.
***
Lantas kenapa banyak orang merasa butuh uang? apa yang menyebabkan orang butuh yang? apa solusi untuk orang yang merasa butuh uang? atau mungkin kita bisa balik dan buat lebih dalam dengan pertanyaan “apa benar hidup butuh uang?”
Dari banyaknya pertanyaan, kalau diperas betul, saya temukan dua yang paling core, pertama adalah apa solusi dari orang yang butuh uang dan apa benar hidup butuh uang.
Oke, mari kita jawab masalah yang pertama. Apa solusi dari orang butuh uang? Apakah solusinya akan secepat dengan sekedar punya uang?
Saya akan coba ulas pertanyaan ini dengan pendekatan yang saya temukan di sebuah buku klasik berjudul Filsafat Ilmu karya Ahmad Tafsir.
Dalam buku itu, terkhusus pada sub bab aksiologi filsafat, dijelaskan salah satu manfaat filsafat adalah untuk berpikir dalam.
Terdapat sebuah contoh studi kasus yakni apa solusi dari maraknya seks bebas. Uniknya, secara filosofi jawabannya tidak serta merta melarang seks bebas, tetapi dirunut akar pola pikir yang menyokongnya. Terdapat urutan logis nan sistematis yang disajikan untuk membedah masalah ini, mulai dari seks bermula dari budaya hedonis sampai berakar pada paham rasionalitas. Sehingga dalam menjawab masalah seks bebas, letak kontra narasinya ada di titik rasionalitas itu, tidak sekedar melarang. Karena saat hanya sekedar melarang, sementara tidak menyentuh akar rasionalitas, ya hanya akan kapok lombok.
Urutan logika ini sengaja saya tidak sampaikan full, yang ingin tau full, ya silahkan baca saja bukunya.
Analog dengan masalah seks bebas, saya akan menggunakan pendekatan yang sama untuk membedah masalah butuh yang. Dari mana pola pikir ini berasal?
Menurut saya hal ini datang dari paham kapitalisme, yang mana hampir segala hal dikapitalisasi atau diberi harga.
Kita bisa melihat bahwa hampir segala hal saat ini sudah diberi harga. Tempat tinggal ada harganya, pakaian ada harganya, akses pendidikan ada harganya, semuanya sudah ada harganya. Bahkan komponen dasar kita, sesuatu untuk menyambung hidup, misal air juga sudah dijual, diberi harga, dikapitalisasi.
Sialnya ini terjadi nyaris di segala penjuru dunia. Sudah tidak ada lagi sesuatu yang gratis. Adanya cuma coba 1 minggu, habis itu berlangganan.
Lalu, kapitalisasi itu datang dari mana? menurut saya, kemungkinan ia datang dari paham liberalisme. Liberalisme adalah salah satu paham yang poin utamanya adalah menekankan pada kebebasan individu. Setiap individu bebas untuk melakukan apa yang ia kehendaki. Dan ujungnya liberalisme juga bersandar pada rasionalitasme, yang poin utamanya adalah segala hal harus bersandar pada reason atau alasan.
Sehingga dengan menggunakan metode ini, kita menemukan bahwa jawaban pandangan hidup butuh uang tidak sekedar punya uang, kita perlu mencari narasinya di level rasionalitas. Atau mencari alternatif untuk subtitusi paham rasionalisme.
Nah, karena akarnya adalah rasionalitas, saya akan coba menggunakan rasionalitas juga untuk memberikan alternatif atau pertanyaan pemantik untuk situasi hidup butuh uang.
Jadi begini, kalau hidup memang butuh yang, harusnya manusia kan sudah punah?
Anggaplah kita sepakat bahwa manusia menghuni bumi sejak Adam. Eh tapi kalau ada yang tidak sepakat, bahwa awal manusia bukan adam juga tidak apa-apa. Sama saja.
Usia manusia menghuni bumi ini sangat jauh lebih lama dari eksistensi uang. Sementara teknologi tukar barang dengan kertas diberi makna ini kan baru muncul belakangan.
Sehingga kalau benar hidup butuh yang, harusnya kita memang tidak pernah ada, karena Adam tidak pernah membeli matcha dengan dolar, yuan, dan lain sebagainya.
Sehingga kalau dikatakan hidup butuh yang, saya kira tidak masuk akal, tidak rasional.
Artinya yang mengatakan hidup butuh uang, yang pikiran dasarnya adalah rasional, sebenarnya tidak rasional juga.
Lantas mungkin ada yang berpendapat: oke memang benar uang datang belakangan, tapi kenyataannya kan saat ini semua diberi harga, semua dikapitalisasi, emang siapa yang saat ini bisa hidup tanpa uang? bagaimana ia menyambung hidup dan mencukupi kebutuhannya kalau tak ada uang? siapa orangnya yang bisa bertahan tanpa uang?
Oke mudah saja, orang rasional kita jawab dengan rasional juga: bayi.
Bayi tidak butuh yang, kita berikan uang pada bayi juga mereka abai. Kenapa? karena bayi belum memberi makna pada selembar kertas itu. Buat bayi selembar kertas 100 ribu sama halnya dengan kita memberi benda apapun. Ujungnya diemut, dibanting, atau diucek-ucek.
Dan pasti ada yang menjawab: ya kan ada perantaranya, ada orang tuanya, dan orang tuanya butuh yang.
Oke, wahai para rasional. Kita perlu membedakan satu individu dengan individu lain. Bayi sebagai manusia, ya dia individu sendiri. Jangan digabungkan dengan orang tuanya. Orang tuanya dapat uang, ya tetap bukan bayinya yang menganggap uang itu penting.
Orang tua sebagai perantara, kan semua di dunia ini juga butuh perantara. Burung diberi makan Tuhan kan ya pakai perantara. Dan dikatakan bahwa alam semesta ini tajallinya Allah ya bisa saja. Artinya tidak butuh perantara juga kan.
Jadi bisa dikatakan, bayi itu butuhnya rezeki, laiknya buruk, bukan uang. Sehingga sekarang kita bisa katakan sebenarnya hidup butuh rezeki, dan rezeki luas sekali, tidak sekedar uang.
Tapi itupun jawaban cukup riskan, ternyata sejatinya yang benar-benar kita butuhkan bukan rejeki. Karena kalau kita berhenti di hidup butuh rejeki, khawatirnya jadi sirik yang samar. Saya akan dengan tegas menjawab kita butuh Tuhan. Dan salah satu pemberian Tuhan adalah rejeki.
Ada yang menarik, dan mungkin orang yang katanya rasional itu bisa ikut memikirkan ini juga, kan rasional.
Jadi begini, bahwa tidak memberinya tuhan itu memberi. Tidak memberinya tuhan rejeki uang pada kita, sejatinya itu juga memberi. Tinggal apakah kita cukup rasional untuk memikirkan makna ini. Atau pakai cara hati yang konon tidak rasional itu?
.png)

