Tigabelas! official blog Bakhru Thohir
Tigabelas! official blog Bakhru Thohir
  • Selepas.Magrib
  • Buku
  • Cerita
  • Kontak Saya

Kimia

Kemanusiaan

Musik

kritik

Kalau melemahnya rupiah adalah pertanda bahaya, dan kita perlu memperbaikinya, kenapa masih mengatakan bahwa kita tidak kenapa-kenapa?

Belum lagi persoalan yang lain, seperti penyergapan para sipil berserikat untuk nobar sampai ada saja yang dapat dikoreksi dari pidato Presiden di Rapat Paripurna DPR RI. 

Kenapa seperti tidak ada pembenahan dan berjalan berlalu begitu saja. 

Atau, jangan-jangan amar ma’ruf nahi mungkar memang sudah hilang atau dihilangkan di level pemerintahan kita?

***

Begini, 

Dulu saya memahami amar ma’ruf nahi mungkar ya sekedar kita mengajak kebaikan dan mencegah keburukan, an sich.

Ya sesederhana mengajak orang bersedekah dan jangan nonton pesta babi makan babi.

Tapi belakangan, saya mendapati makna yang lebih luas. 

Saya dapatkan beberapa macam POV memahami amar ma’ruf nahi mungkar dari ngaji bersama Mbah Mus (KH. A. Muthafa Bisri). 

Jadi pada kesempatan ini, bisa dikatakan saya sedang mencatat ulang hasil ngaji, eh sekaligus kok cocok dengan kondisi negara kita.

*** 

Pertama, 

Ternyata konsep amar ma’ruf nahi mungkar bermula dari ketidak tegaan Nabi Muhammad saw melihat umatnya masuk neraka. Saking tidak inginnya Nabi Muhammad saw melihat umatnya menderita, beliau sangat gemar untuk mengajak ke kebaikan dan segera mengingatkan kalau ada salah yang bisa membawa manusia ke neraka.

Jadi, yang perlu kita pahami ketika ingin mengamalkan juga amar ma’ruf nahi mungkar adalah bahwa laku ini diawali dari rasa sayang. 

Kedua,

Ternyata tidak sekedar mengajak ke kebaikan dan menjauhi larangan. Lebih dari itu,  ternyata amar ma’ruf nahi mungkar adalah pertanda kuatnya koneksi batin antar umat yang menjalankan. 

Bahwa yang bisa melakukan amar ma’ruf nahi mungkar ya yang hati dan batinnya tertaut, kalau tidak tertaut ya ndak bisa. 

Untuk menjelaskan tautan hati ini, ada contoh begini:

Kalau ada anak usia 2 tahun naik pohon jambu biji saat hujan respon orang yang melihatnya akan beda-beda. Btw yang tidak tahu pohon jambu biji, saya perlu kasih info dulu, bahwa pohon itu licin sekali.

Kalau yang melihat anak pemanjat adalah orang jauh, paling responnya hanya mbatin “itu anaknya siapa ya, kok naik pohon hujan-hujan”.

Saat yang melihat anak pemanjat adalah orang desanya, kemungkinan dia akan merespon “le hujan-hujan naik pohon, mudun-mudun”. Dia merespon dengan mulut.

Kalau yang melihat tetangganya, kemungkinan dia akan berucap “le tak bilangin bapakmu lo lek gak mudun, ayo turun”. Sudah ada ajakan yang lebih pasti di sini.

Kalau yang melihat bapaknya, kemungkinan akan berucap “le ayo mudun” yang dibarengi dengan gerakan menurunkan anak itu dari pohon, dan mungkin secara paksa. Artinya di level ini sudah tidak sekedar ucapan, tapi tindakan.

Tapi kalau yang lihat adalah ibunya, ibu itu akan sesegera mungkin pergi, menolong,  melupakan apa yang dikerjakan sebelumnya, dan bahkan bisa sambil menangis karena khawatir. Artinya dia ya pakai omongan, ya bertindak, dan hatinya bergetar sekali merasakan kalau terjadi apa-apa.

Di sini kita bisa melihat bahwa semakin tinggi level koneksi emosi antara orang yang mengajak dan diajak, semakin naik pula level amar ma'ruf nahi mungkarnya. 

Sehingga mencegahlah keburukan dengan tangan, kalau tidak mampu gunakan mulut, kalau tidak mampu, selemah-lemahnya, gunakan hati juga berarti menunjukan level kedekatan emosional.

Akhirnya, ketika kita ingin komunitas, perkumpulan kita, sampai bernegara kita ingin terjalin koneksi batin yang kuat, kita perlu saling mengingatkan, kita perlu amar ma'ruf nahi mungkar. Dan salah satu jalan meneladani rasul adalah "budaya kritik".

***

Kritik adalah sebuah media yang perlu ada agar kita tetap saling mengingarkan. Dengan kritik kita bisa tetap menjalankan ma’ruf karena selalu diingatkan, dan kita bisa menjauhi hal-hal yang membuat bahaya (mungkar) untuk komunitas. 

Sehingga saat kritik dibungkam, mungkin ada seseorang yang ingin mensengaja kita tidak punya koneksi batin. Dan termasuk mensengaja agar kita tidak saling sayang.

Dan yang seperti itu termasuk tercermin dari dinormalisasinya asas "asal bapak senang", yang menutup semua data buruk untuk pimpinan, agar dia taunya ya semua sudah berjalan padahal borok-borok yang perlu diperbaiki masih banyak.

Jadi, apakah benar amar ma’ruf nahi mungkar sudah hilang di sana?


Mungkin rupiah mencapai level 17.500 per satu dolar memang tidak masalah. Karena kita kan memang bersandar pada sebuah konsep “masalah akan jadi masalah kalau kita anggap itu masalah.”

***

Akibat rupiah yang semakin murah ini, video Presiden Habibie kembali naik. Banyak warganet mengkomparasi kebijakan saat itu dengan keadaan sekarang, terlebih saat itu Presiden Habibie punya obsesi untuk membuat pesawat, tetapi beliau memilih untuk menguatkan rupiah terhadap dolar terlebih dahulu, alih-alih tetap maju jalan untuk pesawat. 

Dalam video wawancara tersebut Presiden Habibie menyebutkan bahwa Rupiah menguat adalah kemenangan rakyat, dan tidak jadi persoalan ketika ambisi pesawatnya harus melayang. 

Lalu video itu dikomparasikan dengan proyek MBG yang saat ini tetap tidak mandek di tengah krisis energi akibat perang teluk dan nilai tukar rupiah yang kian hari kian melambung. 

Tapi bukankah kita masih bisa bertanya, memang kalau rupiah melemah, apakah itu masalah? 

Ini serius. Bukan satir, bukan sindir.

Masalahnya, rupiah melemah dikatakan masalah kan hanya untuk orang yang menganggap itu masalah. Kan sangat mungkin sekali kalau urusan ekonomi dan kekuatan rupiah bukan fokus beliau. Sehingga kita masih bisa melihat keteguhan pada pendirian.

Hal ini kan sudah berkali-kali kita lihat dalam sejarah Indonesia.

Misal, 

Kerusuhan adalah masalah, harmoni dan ketertiban adalah kunci, karena dengan tertib investor akan masuk dan ekonomi naik. Sehingga Era Soeharto semua perusuh ditumpas. Saat itu, suara sumbang pada pemerintah dibungkam, ketidakseragaman dihilangkan, karena buatnya itu semua masalah. 

Lalu kita juga pernah ada di era bahwa demokrasi perlu menjamin bahwa setiap pendapat harus didengar, tidak boleh ada penomor duaan status kewarganegaraan karena etnis dan keturunan. Akhirnya presiden Gus Dur membubarkan Kementerian Penerangan dan pencabutan status tapol di KTP serta mengakui etnis tionghoa dan membiarkan mereka mengekspresikan ajarannya. Sehingga buat Presiden Gus Dur, pembatasan itu adalah masalah, makannya harus diangkat dari negeri yang mengaku demokratis. Bergejolak, pasti. Tapi apakah masalah, buat Pak Gus Dur, tidak.

Pun yang baru-baru ini, saat segalanya harus disuruh kerja, bahkan orang ambil sekolah pun sudah diminta mikir kerjanya besok apa, sehingga yang kita lihat ya simpel aja, sekolah harus magang, pasca sekolah harus siap kerja, belajar dikatakan berhasil ya kalau selepasnya langsung dapat kerja. Buat tenaga kependidikan serta pemerhati pendidikan, mungkin itu masalah, tapi untuk orang yang POVnya hidup adalah kerja, ya tidak jadi masalah kan. Ya tetap maju kan. 

Sehingga, saat Pak Prabowo mengatakan bahwa yang terpenting buat kita adalah pertahanan, dan salah satu pilarnya adalah ketahanan untuk tetap bisa makan, ya rupiah remuk di hadapan dolar juga ndak masalah, yang penting kan bisa makan, kita bisa bertahan. Sehingga muncullah kalimat “orang di desa beli gak pakai dolar”. Emang gak masalah kok.

***

Namun di saat yang sama, saya juga menaruh penasaran. Kalau setiap Presiden bisa punya hal yang dia anggap masalah dan ada hal lain yang perlu diperjuangkan. Adakah kita sebagai bangsa, yang holistik, memiliki masalah bersama yang perlu diselesaikan dan tujuan yang perlu dituju oleh bangsa ini siapapun Presidennya? 

Saya tidak tahu, tapi kalau memang ada, harusnya itu ukurannya. 

Mungkin konstitusi? 

Tapi sekali lagi saya tidak tahu. 

***

Tetapi lebih dari itu, kita tetap perlu mengingat konsep “ujung tongkat,” bahwa setiap apa yang kita ambil, kita harus tahu dan siap menerima resikonya.

Saat kekisruhan dan berbeda pandangan adalah masalah, kita perlu ingat apa akibat yang akan mengikutinya. 

Persis dengan pers tidak dibredel, menghilangkan tanda eks tapol di KTP dan membiarkan tionghoa berekspresi, kita perlu ingat apa yang akan muncul setelahnya.

Demikian dengan kalau kita ingin setiap umat lulusan minimal SMA sederajat bisa langsung kerja, bagaimana masa depan akan mewujudkan rencana itu.

Dan saat ini, saat Pak prabowo tidak menganggap melemahnya rupiah terhadap dolar adalah masalah, kita memang harus siap dengan apa resikonya.

***

Atau, kalau sebenarnya urusan kekuatan rupiah ini penting dan penting dikawal, apakah kejadian ini berhubungan dengan amar makruf nahi mungkar di level pemerintahan? 

kita lanjut di kolom selanjutnya …


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Tentang Saya

Bakhru selalu merasa hidupnya penuh dengan kasih sayang Tuhan dan dalam pelukan doa orang tua. Ia menjalani hidup untuk mencintai kimia, kemanusiaan, musik, dan hal-hal baik lainnya.

POPULAR POSTS

  • Apakah 17.500 Itu Masalah?
  • Hidup Bersama Parahidup
  • Hidup Butuh Uang
  • Nobel untuk Orang Indonesia
  • menggugat orang tua

Atas Kesadaran

Copyright © Tigabelas! official blog Bakhru Thohir. Designed by OddThemes