Posted by : bakhru thohir Rabu, 15 Agustus 2018

[Sumbe: pinterest.ca]
Ketika beberapa akun teman sudah berubah fokus tentang apa yang diunggah, menjadi penuh tausiah sampai bendera negara lain, sudah seperti akun buzzer politik. Saat itu aku bingung mencari alasan untuk apa aku ikuti teman-temanku itu di Instagram. Padahal awalnya ingin saling silaturahmi dan mengetahui kabar.

Awalnya memang hanya sebatas unggahan-unggahan sederhana. Tapi semakin kesini, intensitas, jumlah dan konten yang dimuat semakin memuakkan. Bahkan ada beberapa akun temanku yang nihil foto dirinya saat aku lihat feed instagram miliknya. Bukan karena gak pernah mengunggah fotonya, tetapi foto-foto yang dahulu ada kini telah pergi entah kemana. Semuanya telah berubah menjadi video dan gambar kampanye, ceramah dan kroni-kroninya. Telah hilang semua kenangan bersamanya, saat di mana kita sama-sama saling bercanda memberikan komentar pada unggahannya di sebuah foto kala itu.

Sejujurnya, kenapa aku mengikuti banyak akun teman di Instagram dari pada akun admin macam @sabdaperubahan, @NUOnline_id atau @Mokokdotco, memiliki alasan yang sederhana saja, Aku ingin tetap mengetahui kabar temanku. Dia sedang apa, di mana, melakukan apa dan meastikan tak ada yang kurang dari kebahagiaannya meskipun tidak sedang chat secara langsung.

Lalu saat semua konten akun instagram miliknya berubah menjadi penuh pengajian, lalu kabar apa yang bisa aku dapatkan? Kontennya pun tak jauh berbeda dengan akun admin yang banyak aku temui di jendela jelajah (exsplorer) instagram. Konten-konten yang ada bukan mereka sendiri yang membuat tapi hanya sekedar unggah ulang (repost). Dari situasi semacam ini membuat aku cukup berpikir untuk tetap memiliki alasan kenapa aku masih mengikutinya di instagram.

Kalau tiba-tiba aku berhenti mengikuti temanku itu, nanti dikira aku ingin memutus tali silaturahmi. Saat aku tak setuju dengan konten yang mereka unggah dan aku melaporkan ke pihak instagram, misal soal politik adu domba berbumbu SARA, nanti dikira lupa saudara. Cukup menjadi pelik persoalan remeh-temeh ini.

Sebenarnya tidak hanya konten berupa kampanye dan pengajian yang cukup membuat pusing. Tapi juga akun teman yang tiba-tiba berubah menjadi akun toko online yang kadang kala produknya sama sekali tak aku butuhkan.

Pernah kejadian, aku memiliki 2 atau 3 teman yang semula akun instagram miliknya berjalan biasa saja. Dia mengunggah foto dirinya, kadang bersama teman, dan ada juga yang bersamaku. Lalu tiba-tiba semua fotonya lenyap dan berubah menjadi kerudung, baju perempuan dan perabot plastik untuk rumah tangga.

Lalu apakah saat aku diam-diam berhenti mengikuti temanku ini karena aku merasa tidak memelukan produk yang dijualnya, membuatku masuk ke kategori orang yang ingin memutus tali silaturahmi?
Karena tidak hanya unggahan di instagram, bahkan cerita instagramnya pun berisi konten jualan dan membuatku benar-benar tak mendapat info apa-apa soal kabarnya.

Tinggal menghitung waktu, aku juga akan lupa dengan wajahnya, karena foto profilnya pun sudah berubah. Dari foto diri menjadi brand yang ia jual, ada juga yang berubang menjadi fotonya yang berlatar gambar bendera negara lain.

Sejujurnya aku masih buntu tentang alasan alternatif kenapa aku masih perlu mengikuti teman-temanku yang mengubah akunnya menjadi mini buzzer itu. Tapi aku punya beberapa solusi pada teman-temanku, antara lain:

Buka akun baru. Kenapa tidak membuka akun baru saja kalau ingin berjualan atau mengkampanyekan sebuah pandangan? Toh membuka akun baru juga tanpa biaya. Sehingga memberikan kita kesempatan memilih akun mana yang ingin diikuti, akun orangnya atau akun produknya.

beri keterangan di bio seperti “memang ini akun pribadiku tapi aku gunakan untuk berdakwah”, jadi kalau ada yang tidak sepakat dengan jalan pikirnya, kita jadi punya pilihan dan alasan untuk minimal membisukan akun teman itu.

Yang terakhir, ini solusi yang paling aku suka secara subjektif. Silahkan tetap mengunggah apapun itu, baik video dakwah, ajakan berjihad sampai jualan, tapi buat konten sendiri, tidak asal repost. Karena memang banyak di instagram itu konten kreator. Semisal dia yang pelukis, dia tak pernah memposting foto dirinya, dia hanya mengunggah hasil karyanya. Atau musisi yang selalu mengunggah saat dia memainkan alat musik, itu lebih bermutu. Jadi kalau punya pandangan, ya buat konten sendiri, buat argumen dan sudut pandang sendiri lalu buat meme secara mandiri. Itu lebih original dan tetap membuatku punya teman yang bisa berpendapat dan berargumen, tidak sekedar menjadi robot pengunggah ulang konten milik akun lain.

---
Aku cukup sadar diri dan ingin mengamalkan apa yang diajarkan Gus Dur soal “kita jangan suka membatas-batasi orang lain, kita sendiri yang harus tau batas”

Tak ada hak untuk aku mengatur-atur apalagi melarang pada mereka soal konten yang mereka unggah. Mereka bebas mengunggah apa pun yang mereka mau. Bahkan mengubah akun pribadi miliknya menjadi total sebagai akun buzzer pun tak masalah.

Tapi harus dengan cara apa agar kita tetap bisa komunikasi dan tukar kabar saat beberapa akun temanku sudah merubah isi feed IG dan konten cerita IG mereka? Apakah aku harus sering-sering chat ke masing-masing teman dan menanyakan kabarnya satu per satu?

Aku mengerti akan resiko kalau aku mulai chat satu per satu ke setiap teman. Untuk teman cowok, jawabannya ya garing saja, ala kadarnya dan kalau bisa segera selesai, sudah jadi stereotype cowok itu gak suka basa-basi. Kalau yang aku chat itu cewek nanti kenak label PDKT, terus risih kalau dichat terlalu sering. Dan yang pasti akan berjamaah ngomong “dasar kepo!”

Apakah pertemanan ini cukup sampai di sini, apakah aku yang sekedar ingin tau kabarmu dan memastikanmu tetap tersenyum sudah menerobos batas standart kepo dunia.

Atau aku yang harus belajar lagi tentang apa tujuan seseorang mengunggah sesuatu di instagram secara khusus dan sosial media secara umum?

Nampaknya memang iya, aku sendiri yang harus belajar membaca ulang alasan masing-masing orang mengunakan instagram. Karena beberapa bulan yang lalu, aku pun sempat salah paham pada para pemain game mobile lagend, saat itu aku berpikiran “kenapa sebuah permainan yang tujuannya untuk memberikan hiburan untuk diri dari kepenatan malah membutuhkan calo untuk memainkannya”. Yang semula aku mengira orang bermain game untuk hiburan seluruhnya, ehh ternyata ada juga yang sudah masuk ke gaya hidup dan membuat aku mengerti kenapa ada orang sampai menyewa jasa calo dalam bermain game mobile legend.

Kau ini bagaimana, atau aku yang harus bagaimana~
Yaudah deh, iya, aku aja yang harus bagaimana, aku belajar lagi aja. Kalau mau lanjut jadi robot pengunggah ulang konten buzzer ya monggo.

Wallahu A’lam

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -