Posted by : bakhru thohir Jumat, 06 Mei 2016

Sumber: http://adisumaryadi.mypangandaran.com/post/detail/21/promosi-diri-perlukah-dilakukan-bagaimana-caranya

Malang, Enam Mei 2016

Selamat malam Indonesia, bertemu lagi dengan cuplikan keresahan-keresahan tak berguna. Kalau tak berguna untuk orang lain, minimal berguna untuk pribadi penulis. Kalau tak berguna saat ini, mungkin berguna esok hari. Demikian apa yang di sampaikan Pramudia Ananta Toer yang selalu memotivasi penulis untuk terus menulis, meskipun hanya kumpulan keresahan yang bisa jadi ini sampah.

Kita awali tulisan ini dengan cuplikan percakapan berikut:

Leo      : Nanti jadi ke pameran kan?
Monik  : wah aku lagi di rumah ini.
Leo      : Lo kok malah di rumah, kan kita sudah janjian lama untuk ke pameran ini. di rumah sapai kapan?
Monik  : sampai Rabu kayak e
Leo      : Lo, pamerannya hanya sampai rabu, sebenarnya mau apa gak si ke pameran? Dari kemarin gak bilang iya atau tidak, tapi pas gini malah pulang.
Monik  : ya tak kira gak jadi.
Leo       : gak jadi gimana? La kamu gak pernah jawab iya atau tidak, tahu-tahu di rumah.
Monik  : ya sudah berangkat saja, aku lo santai.

Kalau diperhatikan dari percakapan di atas kita menemui tokoh Leo yang sepertinya cukup kecewa karena tindakan Monik yang menggantung, dan kita temui Monik yang suka menggantung. Selain sikap ini, bisa kita temui bahwa tokoh Monik memiliki sikap suka menunjukkan karakter yang harus ada di dirinya alias pamer diri, seperti ditunjukan pada akhir percakapan “santai”.

Sekarang pertanyaan yang muncul di kepala penulis, bolehkan kita melabeli diri kita sendiri dengan sifat-sifat seperti baik, jahat, santai, tergesa-gesa, suka telat dan seterusnya?

Penulis memiliki cukup banyak pengalaman dan kesempatan bertemu dengan orang-orang yang memiliki kecenderungan seperti ini. banyak penulis alami ketika berinteraksi dengan mereka, selalu disisipkan sebuah karakter yang mereka inginkan ada di diri mereka. Tampaknya ini sudah menjadi hal yang lumrah, sehingga banyak sekali yang mempromosikan dirinya secara oral bahkan arogan.

Mungkin mereka termotivasi dengan kata-kata “kenali dulu dirimu sendiri” atau kata-kata yang lain. Imam Nawawi pun menuturkan bahwa orang yang selamat dunia dan akhirat adalah mereka yang memiliki kekuatan untuk mengerti kelemahan dirinya.

Lalu pantaskah hasil evaluasi ini disampaikan di muka umum?

Semisal penulis sudah mengevaluasi diri dan menemukan sebuah sikap yang melekat pada diri penulis. Sebut saja penulis suka tergopoh-gopoh dan kemudian sikap ini penulis sampaikan di muka umum. “aku adalah orang yang suka tergopoh-gopoh” apakah ini elok?

Bisa jadi penulis akan diberikan dua respon yang sama besarnya, antara memaklumi dan menganggap penulis gila. Atau mungkin respon yang lain.

Kalau menang penulis akan diberi respon yang sama besarnya, atau malah diberikan respon memaklumi perkataan penulis tadi, Tampaknya memang saat ini sudah menjadi hal yang lumrah mempromosikan diri secara oral. Ini bukan berarti penulis mengamini agar ada respon yang menganggap gila orang yang suka mempromosikan diri.

Kemudian penulis dibenturkan dengan sebuah kata dari Ali bin Abi Thalib,“tak perlu kau tunjukkan sifatmu, karena orang yang suka padamu tak butuh itu, dan orang yang membencimu tak percaya itu”

Seakan-akan ini menjadi angin segar, dan menjawab segala keresahan.

Di saat angin segar dari Ali bin Abi Tholib menyapu tubuh, kembali penulis dibenturkan dengan sebuah pertanyaan “oke itu soal sifat, tapi saat ini ada sebuah lembaga atau organisasi, dan di lembaga atau organisasi itu mengadakan pembaiatan dalam menerima anggota, apakah kita juga tetap tak boleh mengaku-ngaku kalau kita anggota organisasi A, B, C dan seterusnya?”

Dan Tampaknya inilah salah satu hal yang membuat banyak organisasi di negeri ini dipandang sebelah mata oleh khalayak ramai. Mahasiswa jadi mencibir mereka yang ikut organisasi dan bapak-bapak juga mencibir para anggota dewan dan partai. Karena mereka keburu mengaku dan mempromosikan diri kalau ikut organisasi A, B, C dan seterusnya, tetapi belum memantaskan diri untuk dianggap layak menjadi bagian dari organisasi-organisasi itu. 

Banyak mahasiswa sudah mengaku ikut organisasi ini tetapi belum melakukan hal-hal yang menjadi tuntunan organisasi, banyak bapak ibu anggota dewan yang keburu mempromosikan diri menjadi anggota dewan tetapi belum memantaskan diri untuk disebut anggota dewan.

Semoga kita juga ingat dengan surat Al-ihlas, yang mana yang namanya ihlas ya kayak surat Al-ihlas, yang tak menyebut ihlas sama sekali di dalamnya.

Lantas orang-orang yang suka mempromosikan diri akan serentak menjawab “paham!” padahal tempatnya paham bukan hanya di mulut, tetapi juga di tindakan. Sehingga dari sana mari belajar bersama-sama mengevaluasi dan memperbaiki diri sebelum kita “mengaku paham”. Karena ketika kita benar-benar paham yang ditunjukkan dengan tindakan yang berangsur-angsur membaik. Orang lain tak akan bertanya lagi dia sudah paham atau tidak. Begitulah semestinya.

Wallahu A’lam

Terima kasih sudah membaca keresahan ini, semoga kita tetap bisa bercerita dan saling bertukar keresahan dan terus mengevaluasi diri.

Editor: Muktadi Amri Assidiqi

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Tengok Sahabat

Diberdayakan oleh Blogger.

Top Stories

About

- Copyright © Tigabelas! -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -